CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 61


__ADS_3

Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga Nilam. Sebelumnya gadis itu sudah mengabarkan pada keluarganya, kalau ia hendak pulang bersama seseorang.


Senyum menggoda sang kakak perempuan serta kakak iparnya, tentu membuat rona di pipi putih gadis itu semakin nampak nyata.


"Cieee ... Yang diam-diam udah pacaran," bisik Diana dengan senyum menyebalkannya.


"Nggak nyangka ya mba, rupanya adik kita satu ini udah berani go publik." Sambung Citra, sang kakak ipar.


"Apaan sih kalian, nggak usah godain gituuu ...." Gadis itu merengut, cukup kesal dengan kedua wanita di sampingnya.


"Eeh kenal di mana sama dia ... Siapa namanya tadi?"


"Pandu, mbaaa. Baru aja kenalan udah lupa aja." Komentar Citra.


Mereka tengah menyiapkan minuman dan beberapa hidangan di dapur orang tua Nilam.


"Lupa aku, tadi nggak fokus waktu kenalan. Lam, kenal di mana sama dia?" Ulangnya lagi, sebab sang adik masih betah membungkam mulutnya.


"Mmm ituu, diaa anaknya bos aku mba." Ucap Nilam lirih, sontak membuat dua wanita itu berseru.


"Waaahhh ...."


"Ooo yaaa ...."


"Sssttt!!!"


"Kalian apaan sih, heboh gitu dengernya. Kecilin suaranya," Nilam membolakan mata menatap kakak dan kakak iparnya.


Reaksi mereka sungguh berlebihan menurut Nilam.


"Lagi pada ngomongin apa sih? Rame banget, sampe kedengeran di luar lho ..." Damar yang diutus ibunya untuk menemui mereka di dapur, melayangkan protes akibat keributan yang ditimbulkan ketiganya .


"Minumnya udah beres belum? Kasian muka tamunya kenceng banget, kaya habis disetrika uap." Sambung Damar lagi.

__ADS_1


"Udah kok, ini mau bawa ke depan." Sahut Nilam gugup.


Ia sungguh tidak menyangka kalau dirinya akan habis dijadikan bahan olokan karena mengajak seorang pria pulang ke rumah orang tuanya.


Sementara Diana dan Citra, sibuk menahan gejolak tawa yang sudah di ujung bibir.


Mendengar celetukan Damar, dapat keduanya bayangkan, seperti apa tegangnya Pandu di luar sana.


"Mba ... Mau bantuin nggak?!" Ketus Nilam pada dua wanita itu.


"Eh iya iya ..."


Mereka bertiga keluar dari dapur, membawa teh dan kopi, serta beberapa jenis kue kering.


Nilam melangkah lebih dulu, sementara Diana dan Citra yang beberapa langkah berada di belakangnya, saling berbisik yang tidak jelas terdengar oleh Nilam.


"Mba, Nilam kan mau dijodohin sama si Bas, gimana donk ini?" Citra yang tau rencana ayah mertuanya, merasa sedikit khawatir.


Jujur saja mereka merasa khawatir, akan terjadi masalah kedepannya. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain berharap semua akan baik-baik saja.


Ruang keluarga sekaligus ruang tamu di rumah Nilam terlihat begitu ramai.


Pandu senang, kehadirannya disambut hangat oleh semua penghuni rumah.


Hanya pak Indra saja yang terlihat kurang bersemangat.


Entahlah, mungkin kondisi kesehatan pria paruh baya itu, tengah menurun. Itu yang ada dalam benak Pandu.


Walaupun keluarga Nilam begitu ramah terhadapnya, namun ia tetap tidak bisa menyembunyikan perasaan tegang yang menyergap hatinya.


Banyak hal yang membuat kegugupan pemuda itu menjadi berlipat. Ada banyak cabang di pikirannya, yang membuat ia menjadi khawatir.


Nilam sibuk bermain dengan tiga keponakannya di lantai, membiarkan Pandu mengakrabkan diri bersama orang dewasa lainnya.

__ADS_1


Gadis itu membelikan mainan serta banyak makanan ringan untuk mereka. Itu yang membuat mereka selalu senang bila Nilam pulang.


Pandu menatap kekasih hatinya yang tengah tertawa lepas bersama seorang anak laki-laki di pangkuan gadis itu. Sementara dua anak perempuan bermain boneka di depan Nilam.


Entah apa yang mereka obrolkan, hingga Nilam seolah lupa akan kehadiran dirinya di sana.


"Begitulah Nilam kalau di rumah. Dia suka bermain bersama keponakannya, ikut hanyut dalam dunia anak kecil. Nilam itu, bisa dibilang badannya saja sudah besar, tapi jiwanya anak-anak." Pak Indra yang menyadari tatapan Pandu tidak pernah lepas dari putrinya, akhirnya bersuara.


Semua yang ada di sana saling menoleh, begitu pun Pandu.


Laki-laki itu tersentak, merasa malu sebab kedapatan mencuri tatap terhadap Nilam.


Ia mengusap tengkuknya yang seketika meremang. Tersenyum canggung pada semuanya.


"Menjalin hubungan dengan seseorang, kita harus mengenal semua sifatnya. Siap dengan baik buruk karakternya. Agar nanti, saat sebuah ikatan sakral sudah menyatukan, tidak ada lagi penyesalan."


Pandu tertunduk.


Nasihat pak Indra begitu merasuk dalam kepalanya.


"Kamu siap dengan semua baik buruk anak saya?"


"Aah,"


Pandu terkejut dengan pertanyaan yang terlontar dari pria paruh baya itu.


"Mmm sayaa mencintai Nilam apa adanya pak, menerima dia dengan segala kurang dan lebihnya." Ucap Pandu akhirnya setelah beberapa saat terdiam.


Saat wajah anggota keluarga lain menampilkan senyum lega, berbeda dengan pak Indra yang tatapannya tetap datar.


Entahlah, cinta pertama dari gadis bernama Nilam Meira itu merasa ragu pada pria di depannya. Sudut hatinya ingin menolak, meski logikanya mencoba membujuk dengan segala fakta yang tersaji di depan matanya.


__ADS_1


__ADS_2