
Akan ada awal setelah akhir. Nafasku tak akan berhenti meski engkau patah hati.
Cinta yang tidak memberimu bahagia,haruskah hadir membawa air mata?
Hidup bukan hanya perkara rasa, jangan kerdilkan logika, sebab luka tidak akan sembuh hanya dengan kata mutiara
Nilam menatap barisan kalimat yang tertempel tepat di samping meja riasnya.
Malam hari ketika dirinya baru menempati kostan barunya itu, ia menulis bait-bait kata yang ia jadikan motifasi diri untuk segera bangkit dan kembali tegak berdiri.
Rupanya itu bisa sedikit membantunya untuk bisa kembali semangat menjalani hari.
Benar, hidup bukan hanya perkara cinta, ada banyak hal lain yang bisa ia lakukan untuk mengisi hari-harinya.
Nilam saat ini bekerja sebagai SPG di sebuah butik yang cukup besar. Karakternya yang ramah dan mudah bergaul membuat gadis itu cepat bisa beradaptasi.
Namun ada yang berbeda dengan Nilam saat ini. Ia menjadi sosok dingin jika menyangkut masalah laki-laki. Enggan berbagi cerita bila ada yang menanyakan tentang statusnya.
Karena pekerjaannya itu juga, membuat Nilam kembali menekuni hobi lamanya yaitu membuat desain pakaian. Ia berharap suatu saat ia bisa membuka usahanya sendiri, bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
"Lam ... Dicariin tuh sama ayang beb mu." Salah seorang temannya memanggil, ketika gadis itu masih sibuk membereskan stok barang di lantai tiga butik tersebut.
"Ck, ayang beb dari Hongkong?" Sahutnya dengan wajah cemberut.
Temannya itu tidak perduli, berlalu begitu saja setelah memberi kabar akan kedatangan Baskara, yang memang beberapa kali datang menghampiri Nilam di tempat kerja.
"Mas," panggil Nilam saat ia sudah berada di belakang laki-laki itu.
Baskara yang tengah asik melihat lalu lalang orang-orang di sekitarnya, menoleh, begitu mendengar suara Nilam.
"Nih, makan. Kamu pasti belum makan kan?" Ucapnya sembari menyodorkan kantung plastik.
"Mas ... Kenapa repot-repot sih ... Aku bawa bekal lho ..."
"Nggak repot kok, kebetulan tadi mas makan, di warung makan yang kamu bilang enak itu, jadi sekalian aja mas beliin buat kamu."
"Makasih mas,"
"Iya sama-sama. Udah sana, makan dulu. Kamu masih sibuk?" Baskara melongok ke dalam butik, bermaksud memastikan apa yang menjadi pertanyaannya.
"Tuh mumpung tamunya nggak terlalu rame. Isi perut kamu dulu. Mas balik dulu ya ...." Baskara mengusap ujung kepala Nilam, sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Mas," panggil Nilam sesaat setelah Baskara melangkahkan kakinya.
" Makasih ya," lanjutnya menampilkan senyum tulus.
Baskara mengangguk, membalas senyuman Nilam, sebelum ia meraih helm dan memakainya.
"Cieeee ...." Teman-temannya kompak bersorak ketika Nilam baru saja masuk ke dalam butik lagi.
Sudah biasa ketika Baskara datang, Nilam pasti habis dijadikan bahan olok-olok oleh teman-temannya.
Berulang kali ia menjelaskan, tetap saja mereka menganggap jika laki-laki itu adalah kekasih Nilam.
"Apaan sih, aneh." Ucap Nilam sembari terkekeh.
Ia melanjutkan langkahnya menuju pintu belakang, tempat para karyawan meletakkan tas dan barang pribadi lainnya.
"Aku makan dulu ya ...." Teriaknya sedikit kencang setelah ia masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia lupa berpamitan pada teman-temannya beberapa saat lalu.
Di butik itu ada 10 karyawan yang terbagi menjadi dua shift. Shift pagi bekerja dari jam 08.00-16.00 sementara shift siang bekerja dari jam 14.00-22.00.
Lokasinya yang berada dekat dengan objek wisata, membuat butik itu ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun manca negara.
"Lam, makan apa itu?" Sarah, salah satu teman yang cukup dekat dengan Nilam datang mendekati gadis itu.
"Nih," tunjuknya memperlihatkan makanan yang dibawakan Baskara beberapa saat lalu.
"Kamu mau makan? Sini bareng aku." Lanjutnya lagi. Ia menggeser sedikit tubuhnya, bermaksud memberi tempat untuk Sarah agar duduk di sampingnya.
"Enak tuh kayanya," ucap Sarah setelah duduk di dekat Nilam. Gadis dengan rambut sebahu itu melongok melihat menu makanan milik Nilam.
"Kamu mau? Ambil aja." Nilam menggeser kotak makannya agar mudah dijangkau oleh temannya itu.
Mereka makan bersama. Nilam membagi lauk yang dia punya, bahkan membuka bekal yang ia bawa dari kost untuk ia bagi pada Sarah.
Melihat gadis yang duduk di sampingnya itu hanya makan dengan nasi dan tumis labu siam yang dicampur mie goreng, membuat hatinya merasa tercubit. Ia tahu, diantara teman-temannya yang lain, Sarah lah yang paling sederhana hidupnya.
Menjadi tulang punggung keluarga, membuat gadis itu harus pintar menyisihkan gajinya untuk ia berikan pada orang tuanya.
Hidup memang seperti itu adanya. Saat kita merasa kita adalah orang yang paling menderita ketika sesuatu tidak sesuai keinginan, ada orang lain yang tetap tersenyum meski hidup dalam keterbatasan. Lalu Tuhan kah yang tidak adil karena memberi rasa sedih? Atau kita yang tidak pandai menggapai syukur?
"Lam, kok malah bengong? Kamu nggak makan?"
__ADS_1
"Ah, ooh Iy ya." Nilam terhentak dari lamunannya, ketika lututnya ditepuk oleh Sarah.
Asyik termenung menatap sosok di sampingnya yang tetap bahagia meski hidup dalam keterbatasan.
Mereka makan dalam diam, di buru waktu karena harus bergantian dengan temannya yang lain.
***
Dering telepon dari dalam tas, menghentikan langkah Nilam yang baru saja keluar dari tempat kerjanya.
'bapak,' gumamnya dalam hati.
"Iya pak," ucapnya ketika telepon sudah terhubung.
"Lagi di mana nak?"
"Masih di tempat kerja pak, baru saja mau pulang. Kenapa pak?"
"Oohh ... Kamu kapan dapat libur nak?"
"Jumat kayanya pak, ada apa?"
"Bisa pulang nanti? Minta nak Baskara untuk antar."
"Nilam pulang sendiri aja pak, kan udah ada motor."
"Jangan ... Biar nak Bas yang antar. Bapak nanti telepon dia, suruh jemput kamu. Berapa hari kamu dapat libur?"
"Sehari aja pak. Hari Kamis kerja pagi, Jumat libur, Sabtu aku kerja sore pak."
"Ya sudah, Kamis sore biar kamu dijemput sama dia ya."
Nilam tidak bisa membantah ucapan sang ayah. Sejak dulu, gadis itu tidak pernah berani berkata tidak, pada laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.
Pak Indra bukan sosok tempramen yang akan menghardik atau memukul anaknya. Tutur katanya lembut, pembawaannya tenang, sorot matanya teduh, namun entah kenapa setiap kali ia bicara, rasanya tenggorokan Nilam tercekat untuk berkata tidak.
Dengan malas Nilam mengayunkan langkahnya menuju parkiran. Melajukan motor yang baru dua Minggu dimilikinya, dengan kecepatan sedang.
Dia membeli kuda besi itu, bermaksud mengurangi intensitas pertemuannya dengan laki-laki itu. Bukan bermaksud menghindar, tapi ia merasa tidak baik terlalu sering merepotkan Baskara.
Ia tidak mau terlalu bergantung dengan pemuda itu. Ia ingin mandiri.
__ADS_1