
Amanda hendak memarkirkan motornya di halaman parkir yang luas dan penuh itu.
"Uh ... Nggak pernah sepi ini parkiran."
Keluh gadis tomboy itu ketika ia kesulitan mencari tempat yang pas untuk motor kesayangannya.
"Auto cepet kaya nih kang parkirnya, tiap hari berapa pemasukannya ini?" lanjutnya lagi ketika ia berhasil mengamankan kuda besinya tepat di bawah pohon rindang.
Bersyukur beberapa saat lalu ada pengunjung yang baru keluar, dan itu dimanfaatkan oleh gadis itu.
"Bukannya ini masuk ke Pemda ya Nda? Ya kali tukang parkirnya yang dapet, berebut donk jadi tukang parkir."
"Heee ya juga ya ..." Sahutnya sembari melepaskan helm.
"Udah yuk ... Kita cari mas Bas dulu."
"Nggak mutu banget kalian, gosipin tukang parkir."
Seseorang menyahut di belakang mereka, membuat keduanya kompak menoleh.
"Mas ..." Nilam dan Amanda bersamaan menyapa Baskara, yang berdiri di sela-sela barisan motor.
Penampilan Baskara mulai berubah saat ini. Bila dulu ia suka mengenakan jins sobek dengan jaket jins yang mulai pudar warnanya, kini laki-laki lebih suka berpenampilan rapi dan santai. Menggunakan celana pendek dengan atasan kaos oblong, terlihat sederhana namun nyaman dipandang mata.
"Ngapain di sana? Udah lama datengnya?"
"Barengan kayanya sama kalian." Sahut Baskara, mulai melangkah mendekati dua gadis yang sudah beberapa Minggu tidak ditemuinya itu.
Amanda celingukan mencari motor yang dikendarai Baskara.
"Aku pinjem motor temen, motorku dibengkel." Seolah tau apa yang dicari Amanda, Baskara menjelaskan tanpa diminta.
"Oooww"
"Udah yuk jalan ..."
Mereka bertiga meninggalkan tempat parkir, dengan Baskara dan Amanda yang sibuk berbincang.
Sementara Nilam, gadis itu mengekor tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Perasaan tidak enak menyapa hatinya.
Berdebar, takut, dan ragu, menjalar membuat tekadnya menemui Pandu perlahan goyah
__ADS_1
"Lam ..." Baskara yang sadar jika Nilam hanya diam sejak tadi, menoleh ke belakang.
Rupanya gadis itu tertinggal beberapa langkah dari mereka berdua.
Amanda pun ikut menoleh.
"Ya ampun Lam ... Hampir kamu ketinggalan. Kenapa jalannya kaya siput begitu?"
Sebenarnya Amanda sadar kalau Nilam sedang gelisah saat ini. Namun ia ingin memberikan Nilam waktu untuk sendiri. Membiarkan gadis itu bergelut dengan pikirannya beberapa saat.
Tidak mungkin dia terus memberi kata-kata motivasi pada sahabatnya itu. Nilam harus bisa memotivasi dirinya sendiri. Itu yang Amanda pikir.
"Kamu masih ragu?" Tanya Baskara lembut, menatap Nilam dengan sorot mata menenangkan.
"Udah nggak ada waktu buat ragu sekarang, kita udah sampai di sini. Nggak mungkin balik, tanpa menghasilkan apapun." Amanda menyahut.
"Manda." Baskara menatap tajam gadis itu.
"Jangan cengeng Lam ... Hadapi. Kita nggak akan bisa selalu bantu kamu, kamu sendiri yang harus melawan semua itu." Wajah tegas Amanda membuat Nilam sadar.
Benar, dia yang menentukan nasibnya kelak. Kalau hari ini ia lemah, maka besok dan seterusnya dia akan selalu diinjak.
Meski terkesan keras, namun ucapan Amanda mampu menyadarkan dirinya.
"Aku nggak apa. Makasih kalian sudah selalu ada dan bantu aku. Maaf membuat kalian ikut susah." Wajah sendu Nilam jelas nampak di mata Amanda.
"Aku tahu Nda ... Kamu sahabat terbaik aku. Aku tau kamu ingin yang terbaik buat aku. Dan kamu benar, orang lain nggak akan bisa selalu bantu aku. Jika aku nggak bisa bantu diriku sendiri, maka aku akan terus dijadikan permainan oleh mereka. Aku harus kuat, agar pengorbanan kalian nggak sia-sia."
Amanda memeluk Nilam dengan erat. Memberi semangat gadis itu, dan meyakinkan kalau Nilam tidak sendiri saat ini.
"Sudah ... Saatnya kamu melihat kebenaran yang tertutup selama ini."
Dengan langkah pasti, mereka bertiga melangkah menuju ruangan di mana Delvia dirawat.
Hening, perjalanan mereka menuju lantai tujuan hanya berteman suara derap kaki. Tidak ada yang bersuara, setelah suasana haru yang terjadi beberapa saat lalu.
Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Nilam dan Amanda hanya menurut langkah kaki Baskara. Menaiki anak tangga, melewati beberapa ruangan yang entah apa, dan kembali menaiki anak tangga sebelum akhirnya Baskara berhenti melangkah.
"Pintu paling pojok itu, ruangannya. Kamu gimana? Mau masuk atau melihat dari luar saja?"
Kembali Nilam terdiam. Apa yang harus dilakukannya kini?
__ADS_1
"Mmm liat nanti saja ya mas," wajah sendu itu menatap Pandu dan Amanda bergantian.
Nilam melangkah pelan menuju pintu yang Pandu maksud. Selangkah sebelum mencapai pintu itu, ia bisa mendengar riak tawa di dalam ruangan. Pintu itu tidak tertutup rapat, ia bisa mendengar dengan jelas obrolan yang sedang terjadi di dalam sana.
"Jadi gimana? Kapan pernikahannya akan di langsungkan? Biar bisa kita siapin segala perintilannya. Iya kan mba?" Itu suara nyonya Wijaya. Nilam sangat mengenali suara itu.
"Iya pah, ribet lho ngurus nikahan. Belum kita mikir undangan, katering, gedung, kostum. Dan yang terpenting, gimana biar perut Via nggak terlalu kelihatan buncit nanti pas acara." Suara wanita lain menimpali.
Pernikahan?
Otak cerdasnya dengan cepat merangkai apa yang terjadi. Namun sewajarnya manusia, pasti akan menolak sesuatu yang bukan menjadi keinginan . Itu pun yang terjadi pada Nilam. Ia yang sudah memberi kepercayaan dan cinta sepenuhnya pada Pandu, tentu menolak apa yang otaknya sangka kan.
Nilam mencoba menyangkal. Bisa jadi itu adalah pernikahan orang lain, bukan? Mungkin saja itu keluarga dari sang majikan, yang akan melangsungkan acara besar itu.
"Via belum sembuh benar ... Nanti lah kita bahas soal itu. Kasihan dia terlalu banyak pikiran nanti," kali ini suara tuan Wijaya yang ia dengar.
"Nggak apa om, kan memang harus diobrolin dari sekarang. Via udah nggak apa kok ... Selama Pandu temenin Via selalu." Suara lemah itu samar terdengar, tapi Nilam mendengar jelas nama kekasihnya disebut.
"Cieeee ...."
Suara mereka kompak menggoda. Terdengar begitu ramai. Ada berapa banyak manusia di dalam sana?
"Lam ..."
Amanda yang melihat sahabatnya mematung, segera mendekat. Ia menepuk pundak Nilam dengan lembut.
"Kayanya ramai di dalam, Nda. Aku nggak berani masuk ...."
"Tuh, ada kaca di samping pintu, kayanya nggak ketutup. Intip dari sana," bisiknya.
Nilam mengikuti arah telunjuk Amanda. Benar saja kaca di sebelah pintu itu tidak tertutup. Namun karena ia terlalu fokus mencuri dengar obrolan mereka, sehingga ia tidak melihatnya.
Adakah yang lebih menyakitkan dari apa yang dilihatnya kini?
Pandu, laki-laki yang dicintainya tengah duduk di samping ranjang pasien. Jemarinya pasrah dalam genggaman tangan seorang wanita, yang saat ini tengah terbaring di ranjang pasien.
Di sudut ruangan, ada set sofa yang semuanya penuh di huni oleh beberapa orang.
Benar, kamar itu memang ramai. Bahkan sofa itu tidak bis menampung semua yang ada di sana.
Dion, suami dari Laksmi terlihat berdiri di samping mertua laku-lakinya.
"Lam ..."
__ADS_1
Amanda yang melihat Nilam menutup mulutnya dengan tangan, merasa ada sesuatu yang tidak baik terjadi.
"Nda ... mereka akan nikah ...." Lirih Nilam dengan suara bergetar.