
Sinar mentari masih menyengat, meski jam di tangan Nilam sudah menunjuk angka 14.15. Ia merasakan silau ketika matanya bersirobok dengan pantulan cahaya di jalan bervaping, depan lobi rumah sakit. Nilam sampai harus memicingkan mata dan mengangkat tangan menghalau sinar matahari yang tanpa permisi menganggu korneanya. Ia menunggu agak lama kehadiran Satria, yang sudah lebih dulu melangkah menuju parkiran, mengambil kuda besinya.
"Mba!" Akhirnya suara Satria terdengar, setelah sekitar sepuluh menit lamanya.
Nilam segera mendekat. Sembari memakai helm yang ia bawa dari lantai atas tempat di mana Baskara dirawat.
"Bener-bener parah parkiran di sini," gerutu Satria ketika Nilam sudah naik di belakang punggungnya.
"Memangnya kenapa?"
"Tempat parkir udah ada, bahkan udah ada garis-garis pembatas. Tujuannya kan biar semua tertata rapi, biar gampang keluar masuk kendaraan pengunjung, tapi masih aja ada orang yang parkir sembarangan. Mana petugas parkirnya nggak nampak, lagi." Dengan menahan kesal satria bercerita.
"Yaa mungkin karena jam besuk pasien, jadi banyak pengunjungnya makanya parkiran penuh. Tapi masa sih nggak ada penjaga parkir?"
"Nggak ada, Mba. Aku sendirian tadi pindahin motor orang, mana dikunci stang lagi. Rasanya pengen ku tendang aja motor itu tadi," cerita Satria dengan penuh emosi.
Nilam terkekeh kecil, mendengarkan keluhan sang calon adik ipar. Sembari menepuk-nepuk pelan bahu Satria, Nilam berkata, "sabar. Anggap aja lagi latihan angkat beban, kan. Mungkin tukang parkirnya tau kamu malas olah raga, jadi tadi disuruh olah raga dulu."
__ADS_1
Satria hanya menanggapi candaan Nilam dengan senyum kecut.
Sepuluh menit pertama perjalanan, mereka habiskan dengan obrolan ringan. Lalu menit-menit berikutnya keduanya hanya diam, larut dengan pikiran masing-masing. Hingga motor yang dikendarai Satria memasuki desa tempat tinggal keduanya.
"Di sini nih, Mba, kejadiannya. Mas Bas nabrak pohon ini, tuh liat bekasnya masih nampak. Syukur ada beberapa warga yang kebetulan lewat, jadi segera dapat pertolongan," terang Satria memelankan laju motornya, ketika melewati tempat kejadian di mana Bas mengalami kecelakaan.
Nilam menepuk bahu calon adik iparnya, meminta Satria untuk berhenti.
Gadis itu turun, memerhatikan sekitar, menyentuh pohon mahoni besar yang kulit batangnya terkelupas bekas benturan dengan motor Baskara. Pohon-pohon kecil di sekitarnya pun beberapa ada yang patah rantingnya, dan bahkan tumbang, karena mungkin setelah menabrak pohon mahoni, motor Bas tidak langsung jatuh, tapi malah melaju menabrak yang lain.
Ada beberapa pecahan kaca juga nampak di sana. Nilam hanya bisa menarik nafas berat sembari memejamkan mata.
"Yaa gitu lah, Mba. Kata ibu, udah dari kemarennya dia nggak pulang. Pas ditelepon, dia bilang masih di rumah temennya. Suruh pulang, bilangnya ntar lagi, ntar lagi, tapi sampe besokannya nggak pulang-pulang. Sampe ada yang nyari ke rumah, katanya nemuin Mas Bas kecelakaan, nyungsep di sini," terang Satria tanpa diminta.
"Kenapa dia minum sampe separah itu sih? Nggak mikirin apa, gimana perasaan orang-orang disekitarnya? Egois memang Masmu itu, Sat. Dia tuh cuman mikirin kesenangannya dia sendiri, nggak peduli gimana orang-orang rumah khawatir sama dia. Udah begini aja, siapa yang nggak repot jadinya? Bisa memangnya minuman alkohol itu bantuin dia sekarang? Nggak kan? Ada gitu yang kemarin dia ajak minum, yang kasih dia tuak, bantuin dia sekarang? Nggak ada, kan? Ujung-ujungnya apa? Keluarga yang sibuk, keluarga yang sedih," omel Nilam penuh kekesalan.
"Syukur masih bisa ditolong, banyak kan kejadian orang mabuk bawa motor sampe berakibat fatal? Dia nggak mikir kesitu apa? Nggak mikirin kalau ada apa-apa sama dia, orang yang ditinggal gimana?"
__ADS_1
"Tapi nggak bisa salahin dia sepenuhnya juga, Mba. Maaf, mungkin ini agak kasar, tapi pada kenyataannya Mba adalah orang yang punya andil besar dalam hal ini. Yang terjadi sama Mas Bas hari ini, bisa dibilang ini semua karena Mba!"
"Kok aku? Memang aku yang minta dia untuk minum sampai mabuk? Memang ada aku nyuruh dia keluyuran sampai subuh? Nggak kan?"
"Tapi karena dia nggak bisa berhenti mikirin Mba Nilam, hingga bikin dia frustasi! Mba sadar nggak sih, pengaruh Mba dalam hidup kakakku itu besar banget? Dia bisa menjadi orang hebat atau menjadi manusia paling hancur, itu ada di tangan Mba Nilam. Sebodoh itu Mas Bas menempatkan Mba sebagai pusat kehidupannya," cerca Satria membuat Nilam tidak bisa berucap sepatah kata pun lagi.
"Mba tau nggak? Tiap hari Mas Bas pergi ke rumah baru kalian, bengong di sana berjam-jam kayak orang bodoh. Bahkan dia sangat jarang makan. Terlebih saat usahanya untuk ngeyakinin Mba Nilam gagal, dia semakin kehilangan arah. Mulai ke kebiasaan lamanya, minum minuman keras. Sama kayak dulu, tiap ada masalah pasti larinya ke alkohol."
"Kenapa dia selemah itu, sih? Kenapa harus menggantungkan semua di pundak orang lain? Kenapa menjadikan orang lain pusat kehidupannya?"
"Karena dia secinta itu sama Mba! Dan dia merasa gagal memberikan yang terbaik untuk orang yang dia sayang. Di sisi lain, dia juga nggak mungkin menyalahkan ibu, karena biar bagaimanapun Mas Bas juga menyayangi ibu." Satria menjelaskan apa yang selama ini ia amati.
Satria tahu betul dilema yang dirasakan sang kakak. Namun dia juga tidak bisa menyalahkan Nilam dengan keputusannya. Dalam hal ini, memang ibu dan adik perempuannya lah yang harusnya berbenah diri.
"Kasihan mas Bas, mba. Dia baru saja memiliki harapan, baru saja menata hidupnya yang berantakan. Nggak adil banget rasanya ...."
"Lalu bagaimana dengan aku, Sat? Kamu tau? Ini juga berat buat aku. Kakakmu juga sangat berarti untukku. Tapi untuk melanjutkan semua dengan keadaan seperti ini, rasanya aku nggak sanggup." sahut Nilam memotong ucapan Satria.
__ADS_1
Ia juga terluka dengan keadaan ini. Ia jug hancur dengan keputusannya sendiri. Tapi tidak sekali pun ia menyalahkan keadaan, menghancurkan dirinya karena frustasi. Cukup hatinya yang hancur, tidak dengan fisiknya.
Nilam tidak ingin membuat orang lain khawatir, terlebih keluarganya. Jadi ia memendam kesakitannya sendiri. Paling hanya Amanda yang tahu seperti apa hari yang ia lalui.