CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 107


__ADS_3

Seperti biasa setiap kali datang berkunjung ke rumah Nilam, pak Indra pasti mengajak Bas berbincang, di kursi beton dekat kolam ikan koi-nya.


Ditemani teh hangat dan pisang goreng yang baru dihidangkan oleh Bu Sukma, dua laki-laki beda generasi itu menikmati suasana sore yang cerah.


Wajah Bas yang terlihat gundah, menarik perhatian pak Indra, menggelitik tanya yang tidak dapat disembunyikan.


"Bas, ada apa?" Pak Indra bertanya dengan suara rendahnya.


Bas menarik nafas, sebelum menjawab pertanyaan paman, sekaligus calon mertuanya.


"Akuu, berniat melamar Nilam, paman. Tapi, masih ada yang mengganjal di pikiranku." akunya jujur.


Pak Indra tersenyum, di sini ia harus memposisikan diri sebagai paman, yang tengah menerima curhatan keponakannya. Bukan sebagai ayah, yang anak perempuannya dicintai oleh pemuda di depannya.


"Apa yang masih mengganjal di pikiranmu? Apa Nilam tidak membuatmu nyaman? Atau anak itu menuntut sesuatu padamu?"


"Tidak, paman. Dia tidak pernah menuntut apapun dariku. Dia juga selalu membuat aku merasa nyaman. Dan Nilam sangat menghargaiku. Hanya saja, aku merasa belum bisa memberikan yang terbaik untuknya saat ini."


"Maksudnya?" tanya Pak Indra yang belum mengerti maksud ucapan Baskara.

__ADS_1


Apakah pemuda itu melakukan kesalahan di belakangnya?


"Aku ingin melamarnya, tapi aku lupa, aku belum memiliki tempat yang layak untuknya. Aku masih menumpang di rumah ibu," ucap Bas dengan kepala tertunduk.


Pak Indra terkekeh, merasa geli dengan pikiran buruknya beberapa menit lalu, yang mengira Bas telah melakukan kesalahan.


"Paman kira apaa, ternyata Masalah tempat tinggal,"


"Iya paman, aku ...." Ucapan Bas terhenti saat mendengar derap langkah menuju ke arah mereka.


"Hai Bas, kapan pulang?" Rupanya Surya yang datang, sambil membawa secangkir kopi hangat di tangan.


"Mas Surya," Bas menyapa sembari menganggukkan kepala.


"Apa kabar mas?" tanyanya lagi.


"Baik, baik. Kamu giman kabarnya? Kapan pulang?"


"Baik, mas. Kemarin aku pulang, tapi mampir ke kota B, dulu. Tadi pagi baru pulang ke sini" jawab Bas dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


Surya terkekeh. Paham jika yang dicari Bas di kota B adalah sang adik.


Mereka bertiga larut dalam obrolan ringan, menghentikan pembahasan serius yang sebelumnya terjadi antara Baskara dan pak Indra.


"Tadi kalian ngobrolin apa sih, kayanya serius?" Surya yang penasaran akhirnya bertanya, setelah hening beberapa saat.


Bas tersenyum canggung, merasa malu menjelaskan pada Surya tentang niatnya melamar Nilam.


Melihat itu, pak Indra berinisiatif menjelaskan pada anaknya.


"Si Bas katanya ingin segera melamar Nilam, tapi dia merasa belum pantas, sebab belum punya rumah sendiri. Kalau menurut bapak sih, niat baik ya harus disegerakan. Soal rumah, nanti pelan-pelan bisa dipikirkan. Toh, mereka nggak akan tinggal di kampung dalam waktu dekat ini. Nanti kan bisa menabung bersama, biar bareng-bareng memulai dari nol. Itu sih, kalau menurut bapak, tapi nanti coba kamu obrolkan dulu sama Nilam dan sama keluarga kamu juga." Pak Indra bicara sembari menatap Surya dan Baskara secara bergantian.


"Kalau menurut aku, bener sih niatnya Bas, Pak. Itu berarti dia memikirkan kenyamanan Nilam, nantinya. Di mana-mana yang namanya tinggal sama orang tua setelah menikah, pasti ada rasa tidak enaknya." Surya memberi pendapatnya.


"Kamu sudah obrolin ini sama Nilam, belum?"


"Belum, Mas. Kemarin aku coba ngomong, tapi nggak direspon sama dia. Mungkin dikiranya aku bercanda,"


"Sabar aja, pelan-pelan kasih taunya."

__ADS_1



__ADS_2