
Tidak ada yang tau misteri kehidupan. Jalan mulus, tidak menjamin seseorang tidak akan tersandung. Bila lengah, acap kali kita terjatuh oleh kaki sendiri.
Pandu mengira semua akan baik-baik saja. Sejauh ini semua yang ia rencanakan berjalan mulus.
Nilam tidak tau semua pengkhianatan yang pernah ia lakukan. Dan ia pun tidak berniat untuk jujur pada gadis itu.
Bagi Pandu, kisahnya bersama Delvia, cukup menjadi cerita masa lalu saja. Cukup ia simpan rapat dalam memorinya. Tanpa sadar kelak mungkin akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Tidak ingatkah dia jika semua yang terjadi, karena kelicikan wanita itu beserta sang kakak?
💌 : "Sayang, mas otw"
Tulis laki-laki itu, ketika matahari baru beranjak, mengintip di ujung timur bumi.
Hari ini Pandu berencana berkunjung ke kampung halaman Nilam, untuk bertemu dengan keluarga gadis itu.
💌 : "Iya mas, aku udah siap." Balas gadis itu.
Tidak menunggu lama, suara ketukan pintu di depan kamar kostnya menghentikan aktifitas gadis itu.
Ia segera membuka pintu, meyakini sang kekasih datang menjemputnya.
Benar saja, di depan pintu, Pandu berdiri dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.
Menggunakan kaos polo berwarna abu, dengan jins hitam melekat di tubuhnya, penampilan pria itu terlihat sederhana, namun wajah tampan dan perawakan yang proporsional membuat ia terlihat begitu rupawan.
"Gantengnya pacar kuuu ..." Dendang Nilam, menyanyikan lagu lawas yang membuat Pandu terkekeh.
"Kenapa semakin mempesona gini ya, kamu mas?" Goda Nilam lagi.
Gadis itu sudah tidak canggung mengucapkan kata-kata gombalan yang membuat Pandu semakin berbunga.
Sembari melangkah ke kamar sang kekasih, Pandu mengusap gemas rambut Nilam yang masih tergerai.
"Belajar ngegombal di mana sih kamu ini? Perasaan dulu nggak pernah mau ngungkapin perasaan." Ucap Pandu, menatap Nilam.
__ADS_1
Nilam tersipu
"Kata Amanda, cinta itu harus diungkapkan mas. Jangan sampai mas kepincut wanita lain hanya karena aku jarang muji mas."
Pandu menelan ludahnya sendiri. Merasa ter cubit hatinya mendengar ungkapan polos Nilam.
Ada rasa bersalah yang selalu muncul, tiap kali gadis itu membahas soal orang ketiga.
"Sok tau banget Amanda itu, masa ada sih cowok yang kepincut wanita lain hanya karena dia nggak pernah dipuji pacarnya?" Ucap Pandu, setelah Mampu menguasai kegugupannya.
"Iya namanya juga manusia mas ... Dia pasti akan mencari sesuatu yang nggak dia miliki, atau yang nggak dia dapat dari pasangannya. Mangkanya sebisa mungkin aku berikan apa pun yang mas ingin, biar mas nggak berpaling ke wanita lain."
Wajah Pandu memerah, bukan karena tersipu malu, namun karena mencoba memendam perasaan tidak nyaman yang merayap ke sudut hatinya.
Ingin mengakhiri obrolan itu, namun ada rasa ingin tahu yang kuat, yang membuatnya bertanya hal yang akan membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Menurut kamu, apa sih yang bisa membuat mas berpaling?" Tanyanya.
Nilam sejenak terdiam.
Pria itu membeku, tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Mas ...." Nilam membawa segelas teh hangat ke hadapan laki-laki itu.
Pandu tersentak, jiwanya ditarik dari alam lamunan, membuatnya terkejut.
"Mas kenapa? Nakutin iih,"
"Ah, enggak ... Mas nggak, mas baik-baik aja" Pandu menjawab dengan gugup.
Ucapan Nilam terus terngiang di telinga Pandu. Hingga ia tak mengucap sepatah kata pun saat dalam perjalanan.
"Mas ..."
Pandu tetap bungkam meski beberapa kali Nilam memanggilnya.
__ADS_1
Baru setelah gadis itu menepuk pundaknya, Pandu tersadar.
"Jangan ngelamun mas ... Lagi nyetir ini lho ... Mikirin apa sih, dari tadi dieeeem aja." Sungut Nilam.
"Ah, enggak ... Mas gugup aja mau ketemu keluarga kamu. Bapak kamu nggak galak kan?" Pandu mencoba mengalihkan pikirannya.
Nilam menarik nafas. Merasa sedikit kesal, sebab Pandu sejak tadi seakan tidak fokus.
"Bapak orangnya pendiam mas, ibu mirip kaya aku,"
"Terus yang lain gimana?"
"Nanti lah mas nilai sendiri." Sahut Nilam singkat.
Perjalanan itu diiringi dengan kesunyian. Nilam enggan memulai percakapan kembali. Dia bukan orang yang suka mencari perhatian memang. Jadi saat ia menyadari Pandu tidak terlalu merespon seperti tadi, ia memilih untuk diam.
Nilam tertidur di dalam perjalanan. Suasana sunyi serta dinginnya suhu dalam mobil, mengundang kantuk bagi gadis itu.
Hingga ia tidak sadar ada pesan masuk ke dalam ponsel yang di genggamnya.
Pandu melirik dengan ujung matanya, ia tersenyum sebab Nilam tidak terusik sedikitpun oleh getar dan dering ponsel di tangannya.
Namun laki-laki itu sedikit terusik karena detik berikutnya ponsel Nilam menerima pesan beruntun.
Ia mengambil perlahan ponsel kekasihnya, berniat untuk men-silent benda pipih itu. Satu tangannya memegang stir, satunya lagi membuka layar ponsel milik Nilam.
Merasa penasaran, Pandu yang sudah berhasil menonaktifkan nada dering ponsel itu, membuka aplikasi pesan di sana.
Alangkah terkejutnya ia, saat membuka pesan yang baru saja diterima Nilam.
Tangannya bergetar, jantungnya tak kalah berdebar. Rahang laki-laki itu mengeras, menandakan amarah yang membara.
Segera ia menghapus dan memblokir nomor yang mengirimkan pesan pada kekasihnya.
'SIAL!!! Berani kamu bermain-main denganku!' serunya dalam hati.
__ADS_1