CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 97


__ADS_3

Pandu tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Ia mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan, tanpa tahu harus berbuat apa.


Mereka hanya tinggal berdua di kota itu, sehingga Pandu tidak tahu harus berbagi resah dengan siapa.


Di dalam hatinya dia merutuki sikapnya yang terlalu keras terhadap Delvia. Harusnya ia bisa mengendalikan diri, menahan emosi agar tidak membuat wanita itu marah dan memilih turun dari mobil.


Namun mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi, dan kini ia hanya bisa berdoa semoga Delvia dan anaknya baik-baik saja.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanyanya tidak sabar, begitu melihat dokter yang menangani istrinya.


Dokter meminta Pandu untuk mengikuti menuju ruang kerjanya.


Sebelum menjelaskan keadaan Delvia, dokter tersebut menarik nafas berat, sembari memerhatikan Pandu dari atas sampai bawah.


"Istri anda sangat lemah kondisinya saat ini, tekanan darahnya rendah, mungkin karena shock. Bersyukur, meskipun air ketubannya sempat merembes tadi, tapi masih cukup, sehingga janin masih bisa dipertahankan di dalam kandungan. Hanya saja detak jantungnya sangat lemah, ini yang mengkhawatirkan." Terang dokter panjang lebar.


Pandu keluar dari ruangan dokter dengan kepala tertunduk. Sesal yang meriap memenuhi rongga hatinya, semakin kuat membuatnya merasa sesak dan ingin menangis.


Dia memang tidak menginginkan Delvia menjadi istrinya, dia juga tidak membantah jika awalnya tidak pernah mengharapkan kehadiran darah dagingnya di rahim wanita itu. Namun, saat janin itu ada, tumbuh dan berkembang, ia sama sekali tidak pernah menginginkan hal buruk terjadi pada calon penerusnya itu.


Delvia harus menjalani perawatan di rumah sakit, dan mau tidak mau dia harus mengabarkan hal itu pada keluarga dan mertuanya.


***

__ADS_1


Pandu berdiri di pinggir taman rumah sakit. Menghisap dalam, rokok yang baru ia beli. Kepalanya berdenyut sakit, mengingat bagaimana mamanya begitu marah saat mengetahui menantu kesayangannya terkena musibah.


Kedua orang tuanya langsung berangkat malam itu juga demi menemani Delvia. Begitu pun orang tua wanita itu, yang datang hampir bersamaan dengan tuan dan nyonya Wijaya.


"Ngapain di sini?" Suara Laksmi, mengejutkannya.


Pandu menoleh sekilas, lalu kembali memunggungi wanita yang dulu sangat ia sayangi itu.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Ia masih enggan bertegur sapa dengan sang kakak.


"Apa yang terjadi dengan Via? Kamu membuatnya celaka?" Tuduh Laksmi.


"Jangan sembarangan menuduh. Dan jangan ikut campur urusanku lagi." Sahutnya tanpa menoleh ke arah sang kakak.


Pandu meninggalkan tempat itu, setelah menginjak batang rokok yang baru setengah dihisap. Ia merasa terganggu dengan kehadiran Laksmi di sana.


"Dasar keras kepala! Sudah tua, masih saja kekanakan." Omel Laksmi yang pasti tidak didengar oleh sang adik.


Sementara di dalam kamar Delvia, wanita itu ditemani oleh mama serta mama mertuanya.


"Kamu harus hati-hati lho Via, jangan sampai ini terulang lagi. Syukur Pandu sigap bawa kamu ke rumah sakit, kalau nggak kan bahaya. Kamu harus ingat, setiap tindakan kamu, sekarang bukan hanya menyangkut dirimu sendiri, tapi ada nyawa lain yang harus kamu jaga." Sang mama menasihati sembari memarahinya.


"Sudah mbak ... Jangan dimarahi lagi Via-nya, kasihan. Dia pasti nggak sengaja melakukan ini. Jangan bikin dia jadi tambah sedih lagi, kita doakan saja semoga anak dan cucu kita sehat." Sahut nyonya Wijaya menengahi.

__ADS_1


"Tuh denger ... Syukur kamu punya mertua yang baik, pengertian dan sayang sama kamu, coba kalau kamu punya mertua yang kayak di sinetron-sinetron, suka menindas mantunya. Habis pasti kamu dimarahi,"


"Iya ma ...." Sahut Delvia lemah.


"Mama mertua aku baik, tapi mama kandung aku yang kayak mertua jahat di sinetron." Celetuk Delvia, membuat ketiganya tertawa renyah.


Namun seketika wajah mereka kembali tegang, saat Delvia meringis setelah beberapa saat tertawa bersama.


"Kenapa sayang? Apanya yang sakit?" Tanya nyonya Wijaya panik.


"Nggak ma, cuman kayak tegang aja di sini." Tunjuk Delvia ke arah perut bagian bawahnya.


"Tapi sekarang udah nggak apa-apa kok." Lanjutnya lagi, saat melihat raut ketakutan di wajah dua wanita paruh baya itu.


"Syukurlah ... Ya sudah, kamu istirahat ya nak ... Sebaiknya kami tunggu di sofa saja. Kayanya tadi tegang, karena kita tertawanya terlalu kencang. Cucu Oma ... Baik-baik di dalam ya ... Jangan bikin mama kamu kesakitan, jadi anak yang pinter ya sayang ...." Nyonya Wijaya mengusap lembut perut menantunya sembari mengajak janin tersebut bicara.


Delvia merasa terharu mendapat perlakuan manis dari mertuanya. Andai saja sikap Pandu bisa semanis mamanya, pasti lengkap sudah kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Namun semua itu hanya sebatas angan yang entah kapan akan menjadi kenyataan. Bahkan ia sendiri ragu, mungkinkah Pandu akan berubah?


Itulah hidup. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Manusia selalu merasa kurang, sebanyak apapun yang sudah Tuhan beri sebagai berkah.


Kita lupa bahwa manusia hadir ke dunia adalah untuk menyempurnakan perbuatan kita di masa lalu, memantaskan diri menjadi mahluk yang lebih baik lagi.


Sesuka hati mengikuti hawa nafsu, menjadikan takdir dan garis nasib sebagai kambing hitam atas segala ketidak beruntungan yang dihadapi. Lupa jika setiap akibat pasti karena sebuah sebab, dan kita yang menciptakan semua sebab yang terjadi. Disadari atau tidak.

__ADS_1


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^



__ADS_2