CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 91


__ADS_3

Nilam melajukan matic kesayangannya lebih cepat dari biasanya. Pesan Bas beberapa waktu lalu, membuat gadis itu ingin segera tiba di kostan.


Bahkan ia yang biasanya pulang berbarengan dengan Amanda, kali ini meninggalkan sahabatnya yang masih membeli kebutuhan pribadi itu.


"Sorry Nda, aku nggak bisa nemenin kamu ... Mas Bas bentar lagi nyampe kayaknya." Ucap gadis itu, membuat Amanda mencebikkan bibirnya.


"Iya ... Pulang sana, balik kost cepet-cepet. Mandi, dandan yang cantik, sambut pangeranmu itu." Sahut Amanda dengan wajah ditekuk.


Bukannya merasa bersalah dan mengurungkan niatnya untuk pulang lebih awal, Nilam justru berterima kasih karena Amanda memberinya saran yang bagus.


Meski ia tahu Amanda sedang menyindirnya, namun untuk saat ini ia memilih berpura-pura tidak mengerti sindiran itu.


"Makasih sarannya, Manda sayang ...." Ucapnya lalu bergegas meninggalkan sang sahabat.


Entah kenapa, debaran di dadanya semakin terasa, saat membayangkan ia akan bertemu dengan Bas, setelah beberapa hari tidak saling bertukar kabar.


'aku ini kenapa sih? Kecentilan banget,' sungutnya pada diri sendiri. Ada gejolak dalam dirinya yang tidak bisa ia tahan, seakan ingin meledak saat itu juga.


Wajahnya semakin memerah, dan detak jantungnya semakin terasa saat memasuki gerbang kostan, ia melihat motor yang sangat dikenalinya terparkir di parkiran.


'mas Bas udah datang,' bisik hatinya. Dengan refleks tangannya merapikan rambut yang sedikit berantakan karena tertiup angin.


Rasa gugup menyerangnya secara tiba-tiba.


Dari jarak lima puluh meter, ia sudah melihat Bas tengah duduk di kursi depan kamarnya. Memainkan ponsel, dengan jaket masih melekat di tubuh laki-laki itu.


"Mas," sapanya saat ia sudah berada di depan Baskara.


Bas mengangkat kepala, masih dengan sisa senyum yang sejak tadi terkembang, ketika dirinya membaca sebuah pesan dari seseorang.


"Hai," sapa Bas tersenyum semakin lebar. Merasa bahagia melihat gadis yang dirindukan, berada tepat di depan matanya kini.


Namun Nilam yang sejak awal melihat Baskara sibuk dengan ponselnya, merasa sedikit kesal, sebab laki-laki itu terlihat sangat bahagia, tersenyum sendiri menatap layar pipih tersebut.


'apa yang menarik mata dia, sehingga bisa sesumringh itu menatap ponsel?' pikir Nilam.


Ia yang semula ingin menyambut kedatangan Bas pun, urung melakukannya. Hatinya sudah tercemar oleh pikiran buruk yang hinggap tiba-tiba.


Akhirnya ia hanya menampakkan senyum tipis, sebagai formalitas semata.


"Mas udah tadi sampe sini?" Tanyanya, sembari melangkah mendekati pintu kostan. Ia merogoh kunci di dalam tas yang dibawanya, lalu memasukkannya ke dalam lubang pintu.


"Nggak kok, baru aja." Sahut Bas, menatap ke arah gadis itu.

__ADS_1


"Masuk mas," ajak Nilam, saat sudah berhasil membuka pintu kamar kostnya.


Bas menurut. Ikut masuk ke dalam kamar kost, yang sudah tidak asing baginya itu. Tidak lupa ia juga menenteng barang bawaan yang dibawanya dari kampung halaman.


"Lam, ini taruh dimana?"


"Apa itu?" Tanya Nilam menoleh.


"Makanan kesukaan kamu. Mau dimakan sekarang?"


Nilam masih belum paham. Matanya memicing, mencoba menebak apa isi kantung kresek hitam yang Baskara bawa.


Bas tersenyum melihat tingkah Nilam, yang terlihat lucu di matanya.


"Ini bukan bom, nggak usah gitu liatinnya ...." Kekeh Bas membuat Nilam malu.


"Nih, ini tuh *blayag yang kamu suka. Belinya di tempat langganan kamu." Terang Baskara.


Nilam segera meraih bungkusan berwarna hitam itu. Membawanya ke dapur untuk dia ganti tempatnya.


"Waaah, mas, ini banyak sekali ...." Ucapnya dengan suara sedikit kencang.


Baskara tersenyum, merasa bahagia sebab hal sederhana yang di lakukan untuk Nilam, bisa membuat gadisnya seantusias itu.


"Sebagai bayarannya, boleh mas minta dibuatkan kopi hitam satu?" Tanya Baskara, dengan kekehan kecil.


Bas menggelar karpet yang biasa Nilam gunakan sebagai alas lesehan, entah untuk makan atau hanya sekadar bersantai. Menunggu Nilam membawakan kopi yang dia minta.


Tidak menunggu lama, Nilam muncul dengan nampan berisi pesanannya dan juga beberapa kue kering yang tertata di dalam toples.


"Diminum mas, aku ganti baju dulu ya," ucap gadis itu setelah meletakkan bawaannya di hadapan Bas.


"Dimana ganti bajunya?" Tanya Bas.


"Di kamar mandi lah mas ... Masa di sini?" Ketus Nilam membuat Bas terkekeh.


"Lupa, kita belum sah. Nanti kalau udah sah, baru bebas ya." Ucap Bas lagi.


Nilam membolakan matanya, membuat Bas tertawa lepas.


"Becanda ... Gitu aja ngambek. Makin lucu tau kalau lagi ngambek gitu ...." Goda Bas, mengerlingkan matanya.


Nilam merasa kesal, tapi juga senang digoda oleh laki-laki di depannya itu. Namun ia tidak meladeni ucapan Bas. Segera gadis itu beranjak mengambil baju ganti, lalu masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


***


Nilam begitu menikmati oleh-oleh yang dibawakan Bas untuknya.


Mulutnya tidak berhenti mengunyah, hingga sepiring blayag kuah santan itu ludes dalam sekejap mata.


"Kenapa liatin begitu?" Tanya gadis itu, saat dirinya baru menyadari tatapan Gunadh yang tidak biasa terhadapnya.


"Enggak ... Seneng aja liat kamu makannya lahap. Jadi merasa berguna, mas bawakan makanan kesukaan kamu."


"Emangnya kapan aku nggak lahap makan? Tiap kali mas bawa makanan juga aku selalu memakannya, kan?" Sahut Nilam.


Gunadh tersenyum tipis.


"Makasih ya Lam, makasih karna sudah membuat laki-laki tidak berguna ini merasa dihargai." Ucap Bas lirih.


"Mas," Nilam tidak menyangka, Bas akan mengucapkan kata yang membuat hatinya mencelos.


Bas menundukkan kepala. Ada rasa sakit yang coba ia tutupi dari gadis yang dicintainya itu. Namun sesak di dadanya memaksa mulutnya untuk bicara, seperti beberapa menit lalu.


Nilam duduk di samping Bas. Meraih lengan yang terbungkus kaos oblong berwarna abu itu, dan memeluknya dengan erat. Ia tidak perduli, meski orang akan menganggapnya gadis agresif. Dengan tatapan lembut ia menelaah wajah sendu Baskara.


"Kenapa menilai diri serendah itu, mas? Ada apa?" Tanya Nilam dengan lembut.


Bas menoleh. Jarak mereka cukup dekat, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas satu dengan yang lain.


"Ada apa?" Kembali Nilam bertanya, sebab Bas tidak kunjung memberinya jawaban.


Laki-laki itu hanya menatap wajahnya dengan lekat, tanpa mengucap sepatah katapun.


Bas melepas rangkulan tangan Nilam dari lengannya, dan membawa gadis itu dalam dekapannya.


Nilam tidak melawan, ia pasrah ketika Bas mendekapnya begitu erat.


"Mas ingin sekali cerita semuanya ke kamu Lam, tapi rasanya sulit sekali mengungkapkan semua."


"Mas ...." Nilam pun tidak bisa mengucapkan apapun, ia hanya bisa mengusap punggung Bas sebagai bentuk dukungan, apapun masalah yang sedang dihadapi Baskara.


"Masih sore woeee ... Main peluk-pelukan aja," suara dari depan pintu mengejutkan keduanya.


Bahkan wajah Nilam seperti terbakar, merasakan malu dan terkejut disaat bersamaan.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^

__ADS_1


*blayag itu sejenis lontong yang dibungkus dengan janur berbentuk memanjang.



__ADS_2