
Nilam hanya bisa menarik nafas panjang, lalu menghembuskan dengan perlahan, agar bisa mengurai perasaan tidak enak di hatinya, karena mendengar ucapan Utari.
Ia tidak tahu, apa yang salah dengan dirinya? Kenapa wanita yang usianya lebih muda darinya itu bersikap tidak ramah terhadapnya?
Bahkan hadiah yang Nilam berikan untuk Utari dan sang anak pun, sama sekali tidak dihiraukan oleh wanita itu. Namun Nilam tidak ingin mengambil hati, tidak ingin meracuni pikirannya dengan hal negatif yang merusak.
"Sayang," Bas mengusap lutut Nilam yang ada di boncengan belakangnya.
"Kenapa diam aja? Apa ada masalah?" tanya Baskara lagi, saat Nilam hanya memeluknya semakin erat, tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Masalah apa? Nggak ada," sahut gadis itu dengan kekehan kecil.
Tidak mungkin ia menceritakan rasa tidak nyamannya atas sikap Utari, bukan?
Bas mengangguk, sambil tangannya terus mengusap lutut Nilam dengan lembut. Iya berharap ucapan Nilam benar, jika semua baik-baik saja. Meski hati kecilnya merasa, ada yang berbeda dengan raut wajah kekasihnya saat ini.
"Gimana tadi? Ibu sama Utari nggak bikin kamu nggak nyaman kan, sayang?" Bas kembali bertanya setelah keduanya sama-sama diam beberapa saat.
"Mmm nggak kok, mas. Mereka baik. Memangnya kenapa?"
"Nggak, takut aja mereka bersikap yang gimana-gimana sama kamu. Kalau ada apa-apa kasih tau mas, ya?"
Nilam tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa tersanjung, sebab Bas begitu melindungi dirinya. Tapi dia bukanlah orang yang suka mengadu. Rasanya terlalu cengeng jika masalah sepele harus ia sampaikan pada Bas.
"Kenapa mas selalu punya prasangka jelek sih? Nggak baik lho, mas ...."
"Mas tahu, tapi kalau menyangkut kamu, mas selalu takut seseorang bakal sakitin kamu, sayang."
Nilam merasa melayang dibuat Bas. Ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang sang kekasih.
__ADS_1
"Aku nggak selemah itu, mas. Pengalaman ngajarin aku banyak hal, jadi mas jangan mengkhawatirkan aku terlalu banyak ya, aku bisa jaga diri kok."
Tangan yang semula berada di lutut Nilam, kini beralih meremmas jari-jari yang bertaut di perutnya.
"Jangan biarkan orang lain menindas kamu ya, sayang. Siapapun orangnya, kalau dia menganggu kamu, lawan! Jangan merasa tidak enak hati, meskipun itu keluarga mas sendiri. Mas kasih kamu ijin untuk itu," ucap Baskara lagi.
Dia yang tahu ibu dan adiknya seperti apa. Pikir Bas, mungkin kali ini mereka baik, tapi besok lusa siapa yang tahu? Itulah kenapa Bas menekankan ucapannya hari ini, sebelum semua terlanjur terjadi.
🌟🌟🌟
Bas hanya mengantar kekasihnya pulang, sebab ia harus bertemu dengan Galang nanti malam. Rencananya Bas mengajak sahabatnya itu untuk ikut bekerja dengannya di luar kota.
"Nggak duduk dulu, nak?" tanya Bu Sukma, saat Bas hendak berpamitan.
"Nggak Bi, aku masih ada urusan nanti," sahut Bas.
"Ooh ya sudah, hati-hati di jalan ya."
"Iya, nanti bibik sampaikan," jawab Bu Sukma lagi.
Bas berlalu, diiringi lambaian tangan dari Nilam.
Tidak sampai lima belas menit, motornya sudah terparkir di halaman rumahnya lagi. Bas bergegas masuk, hendak membersihkan diri.
Sekilas ia melihat tas belanja yang Nilam bawa beberapa saat lalu, masih tergeletak di ruang tamu, di bawah sofa. Namun ia mengabaikannya. Bas langsung masuk ke kamarnya untuk mengambil baju ganti dan berniat membersihkan diri. Tidak terlihat siapapun di dalam rumah. Mungkin Utari dan ibunya sedang beraktifitas di halaman belakang, Bas pun tidak tahu.
Setelah semua ritual selesai, Bas memanggil ibunya untuk berpamitan.
"Buu, Ibuu,"panggilnya sembari melangkah ke belakang rumah.
__ADS_1
"Iya ...!" sahut sang ibu. Rupanya wanita itu tengah membersihkan rumput-rumput yang mulai meninggi di sela sayuran yang ditanamnya.
"Aku mau keluar ketemu Galang," pamit Bas pada ibunya.
"Jadi kamu ngajak dia kerja di sana?"
"Jadi, Bu. Ini mangkanya aku mau ketemuan sama dia."
"Kenapa kamu yang cari dia? Harusnya dia yang datang ke sini. Kan dia yang butuh kamu?" protes wanita paruh baya itu.
"Ck, sama aja lah Bu. Udah aku keluar dulu." Bas berniat pergi dari hadapan ibunya.
"Eeh tunggu dulu! Nanti kamu makan di rumah kan? Ibu belum beli lauk. Sisa yang tadi siang aja."
"Nggak. Aku mungkin agak malem nanti pulangnya. Nggak usah sisain makanan untukku," jawab Bas.
"Tapi adikmu katanya pengen bikin ayam sambel matah---"
"Ya bikinlah. Udah ya Bu, aku pergi dulu." Bas tidak memberi kesempatan ibunya untuk melanjutkan ucapannya. Ia tahu kemana arah kalimat yang ibunya maksud. Namun Bas enggan menanggapi, sebab ujung-ujungnya pasti duit.
Kadang ia berpikir, kenapa sifat ibunya berbanding terbalik dengan sifat Bu Sukma?
Wanita yang melahirkannya itu selalu memandang dirinya adalah mesin pencetak uang. Jika ia mampu memberi sesuai mau ibunya, ia akan dianggap raja. Tapi jika tidak, ia tidak lebih dari seekor hama di mata wanita paruh baya itu.
Namun biar bagaimanapun, Bu Rahma tetap wanita yang ia sayangi, yang ia hormati, meski acap kali membuatnya merasa sakit hati.
Sebisa mungkin Bas bertahan, sebab ia adalah anak sulung yang memiliki tanggung jawab menjaga keluarga.
Tapi berbeda ceritanya jika ia berkeluarga kelak, ia harus mengutamakan kenyamanan pasangannya. Menjaga dan melindungi Nilam adalah yang pertama, baru setelah itu keluarganya yang lain.
__ADS_1