
Pagi-pagi buta Zenya sudah terbangun, Ia sudah menatap serius layar laptop nya.
Sesaat ponsel nya berdering, ia melirik untuk mengintip dari sudut mata nya siapa yang sudah meneleponnya di pagi buta begini.
Matanya terbelalak kala nama Cristhopan yang muncul.
"Oh tuhan, untuk apa dia meneleponku sepagi ini?" Zenya segera meraih ponselnya, tanpa berpikir lama ia langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo?" Zenya mencoba terdengar tenang.
"Halo" Suara Cristhopan terdengar sangat mempesona di seberang telepon.
"Ada apa Tuan menelepon?" Zenya ragu untuk berkata, takut kalau perkataannya ada yang salah.
"Tidak, hanya ingin memastikan, apakah gadisku masih ingat denganku atau tidak"
"Haha anda bercanda" Zenya tertawa kaku
"Aku tidak bercanda, Kemarin kau mengirim pesan singkat seperti itu, sungguh sangat lucu" terdengar seperti sedang menyindir, Zenya mengangkat kedua alis nya.
"Aku sudah salah mengirim pesan?" Batin Zenya
"Ah, itu.. Aku pikir kau akan mengerti jika aku mengirim pesan seperti kemarin. Seperti lelaki pada umumnya aku rasa kau akan kesulitan mengartikan kata-kata seorang perempuan jika tidak di ucapkan dengan jelas" Zenya mengoceh kesana kemari.
"Kau pikir aku binatang, tidak mengerti bahasa manusia?"
"Tidak, tidak tuan! Bukan seperti itu maksudku.." Zenya gelagapan.
"Lalu? Maksudmu bagaimana?" Cristhopan sebenarnya sudah menahan tawa sejak tadi.
"Maksudnya.. Maksudnya aku ingin to the point tanpa berbasa-basi, aku tidak suka basa-basi"
"Oke, kalau begitu akupun tidak akan berbasa-basi lagi jika bertemu denganmu"
"Apa maksudmu?" Zenya mulai panik
-Tut
Cristhopan mematikan panggilannya sepihak, Zenya membelalakkan matanya.
"Dasar laki-laki gilaa! Persettan! Tak tahu malu! Untuk apa dia menelepon di pagi buta seperti ini, tanpa kejelasan? Argh pekerjaanku semakin terlihat kusut dan semrawut" Zenya mengatur nafasnya, Ia menarik nafas melalui hidung, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut.
"Zenya, Kau harus bersabar. Tunggu hutangmu lunas, Kau jangan pernah berurusan lagi dengan manusia sepertinya!" Zenya memejamkan matanya sesaat.
"Lebih baik aku segera hubungi teman-teman. Mungkin sekarang mereka sudah bangun" Zenya keluar dari kamar, Ia melihat Rangga, Radit, dan Devon masih terlelap di kursi ruang tamu dengan tv yang menyala
"Semalam mereka sungguh tertidur disini?" Zenya memutari mereka,
"Teman-teman bangun! Ini sudah waktunya diskusi pagi!" Devon dan Radit segera bangun begitu mendengar suara Zenya, berbeda dengan Rangga yang malah menenggalamkan wajah di balik tangannya yang menutupi daun telinganya.
"Ada apa sih ribut pagi-pagi?!" Omel Rangga yang kesal karena di jahili oleh Radit.
"Bangun woi! Kalau mau tidur dirumah aja! Hahaha" Radit terus menjahili Rangga.
"Kalau mau diskusi silahkan saja! Aku bisa denger kok walaupun tidur" Ucap Rangga yang terdengar kurang jelas.
Zenya menggeleng sambil tersenyum kecil melihat tingkah laku temannya itu.
"Oh ya, Mana Fiona?" Ucap Devon sambil mengedarkan pandangannya,
"Emh.. Fiona masih di kamar mandi deh, kayanya. Kalau gitu biar aku yang panggil" Zenya berlalu.
__ADS_1
"Yaudah, Aku juga bawa laptop dulu di kamar"
*
*
Semua sudah berkumpul di Ruang tamu, Rangga yang masih terlihat sangat mengantuk menyandarkan kepalanya di kursi.
"Baiklah teman-teman, Hari ini adalah hari pertama, Dimana kita akan melakukan kegiatan sosialisasi Di Daerah ini. Ini Daerah baru, Kita harus bisa menjaga sifat dan sikap kita. Seperti biasa, Nanti kita berangkat Ke Universitas, Dan di sambut oleh upacara dari Pihak Kampus. Setelah itu, Kita akan belajar seperti biasa disini.
Tapi, kita akan lebih melakukan banyak kegiatan disini, Entah itu Di Kampus sendiri, ataupun di lingkungan sekitar, Seperti yang sudah di tata rapi oleh Zenya.
Mungkin, disini kita akan menghabiskan waktu selama satu semester, Bisa jadi pula hanya dua bulan. Makanya saya meminta kepada teman-teman untuk bisa menjaga prilaku kita sebagai tamu"
Devon mulai menjabarkan kegiatan-kegiatan yang akan di kerjakan selama mereka ber-lima melakukan kegiatan kampus itu.
Teman yang lain memperhatikan dengan seksama, Mereka bertukar pikiran, Kesepatan sudah ada di tangan.
Fiona tersenyum licik kala ia mendengar kegiatan luar ruangan, Ia meminta agar di pasangkan dengan Zenya.
"Oh iya Von, untuk kegiatan bakti sosial, Kita gabung sama anak-anak universitas lain?" Tanya Rangga sambil membaca dokumen yang di bagikan oleh Zenya.
"Ya, Kegiatan amal, Jadi akan lebih baik jika merekapun ikut berpartisipasi"
"Yes!!"
"Kenapa yes?" Tanya Radit heran
"Katanya, Di universitas ini cewek nya cantik-cantik, Ikut bakti sosial bisa dapet cewe cantik, Itu bonus!"
"Hahahaha" Mereka tergelak bersama.
*
*
"Cih! Selalu ingin menjadi pusat perhatian dimanapun ia berada!" Cibir nya dalam hati.
Setelah selesai upacara, mereka di berikan ruangan khusus untuk bisa berdiskusi satu sama lain, Devon dan Zenya mulai mengerjakan dokumen sponsor untuk amal,
"Kak, Cukup membuat untuk perusahaan Keluarga Stuart, dan Keluarga Wilson's, 'kan?" Tanya Zenya yang sedang mengetik dengan serius
"Iya"
Fiona hanya diam berpangku tangan, Sesekali ia memainkan ponselnya.
Ia beranjak,
"Mau kemana?" Tanya Devon
"Keluar, Disini juga bosen!" Jawabnya yang langsung melipir, Devon hanya menggeleng, Sedangkan Zenya nampak tak perduli.
Fiona melihat beberapa wanita sedang berkerumun, Ia pun perlahan menghampiri kerumunan tersebut.
"Wah.. Itu kan Tuan muda keluarga Stuart, seperti yang di rumorkan ya, Dia itu terlihat manis dan lembut" Sayup-sayup ia mendengar beberapa wanita sedang menggosip.
"Iya, Namanya William deh kalo gak salah" Timpal yang lain.
Naluri keingin tahu-an nya naik, Ia pun ikut berjinjit melihat siapa yang datang.
"Oh my god, Ganteng banget!" Batinnya, Matanya sudah membelalak.
__ADS_1
"Perempuan yang di sampingnya itu siapa? Pacarnya? Atau istrinya?"
"Itu udah jelas Asistennya, Masa seorang istri Presdir harus bawa-bawa dokumen"
"Kok perempuan, 'ya?"
"Perempuan bukan sembarang perempuan, Ada rumor yang mengatakan kalau perempuan itu berani membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi Tuan muda William!"
"Ih ngeri!! Asisten Complex, ya! Hahaha"
Fiona menaikkan satu ujung bibirnya kala mendengar gosip yang dibicarakan oleh perempuan dari kampus tersebut. Ia segera melipir setelah merasa cukup mendapatkan info.
"Kalau Zenya aku jahili menggunakan lelaki itu, gimana ya? Zenya kan polos-polos mengerikan" Pikirannya di balik seringai menyeramkan.
*
*
Zenya yang sudah siap untuk masuk ke Ruang Rektor di kampus itu harus terhenti langkahnya akibat seseorang.
"Hy~" Goda seorang lelaki tampan
Zenya menautkan kedua alisnya.
"Kau pasti gadis bernama Zenya?" Ucap laki-laki itu dengan nada sombong.
Entah kenapa, Zenya sekarang paling sebal mendengar orang berbicara dengan nada seperti itu. Ia selalu terbayang wajah sombong Cristhopan kala mendengar nada sombong seperti itu.
"Ya, Apakah saya mengenal anda?" Spontan lelaki itu membelalakkan matanya.
"Kau sungguh tidak tahu aku?" Ucapnya merasa heran.
"Akan lebih aneh jika aku mengenalmu" Jawab Zenya spontan
"Kau!" Decak nya.
"Permisi, Aku tidak ada urusan denganmu" Zenya hendak pergi, namun pria itu menghalangi.
"Kau sungguh berani berprilaku seperti itu di hadapanku" Ucap Pria itu sambil menyilangkan kedua tangannya di dada
"Hhhhhh" Zenya menghela nafas panjang sekaligus mengerlingkan dua bola matanya.
"Tolong jangan mempersulitku, ya!"
Saat hendak melangkah tiba-tiba ia terhenti kembali oleh seseorang.
"Kak Vincet!" Seru perempuan yang terlihat judes menghampiri mereka.
"Kakak ngapain deket-deket sama cewek kumel begini" Cibir gadis itu, Zenya membelalakkan matanya.
"Ya ampun, Ini pasti akan berlangsung lama"
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~
Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.
Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~
Terimakasih~
__ADS_1