
Pelukan dan ciuman disertai riak tawa, mewarnai ruang keluarga rumah orang tua Nilam.
Tiga bocah yang baru saja mendapat hadiah dari sang tante, begitu bahagia, hingga menerjang Nilam bersamaan saat menyadari apa yang dibelikan, adalah benda yang mereka inginkan.
"Ante kok tau kalau aku sama Ruby lagi pengen botol minum ini?" tanya Si centil Nabilla masih bergelayut di lengan Nilam.
"Tau, donk. Ante kan peramal," sahut Nilam tersenyum bahagia.
"Tante makasih ya, Ruby suka kotak makannya." Anak tunggal Diana itu, seperti biasa berkata dengan pelan.
"Sama-sama sayang ... Jaga baik-baik ya, biar nggak cepet rusak."
"Iya, Tante." Ruby memeluk dua benda itu dengan erat.
"Kok, punya aku beda cendili? Punya kak Bila cama kak Luby pink, aku juga mau." Saka yang sejak tadi memerhatikan hadiahnya, akhirnya protes.
"Kamu kan, cowok. Masa cowok pake warna pink?" Nabilla berucap dengan suaranya yang melengking.
"Aku mau itu," tanpa perduli ucapan sang kakak, Saka berniat merebut milik Nabilla. Ia bahkan membuang hadiah miliknya di lantai.
Nabilla lari menuju dapur, mencari sang nenek. Saka ikut mengejar sambil terus berteriak dan menangis.
"Billa, jangan lari, nanti adeknya jatoh ...!" Nilam ikut menyusul dua kakak beradik itu, hingga masuk ke dapur.
Di dalam sana, Bu Sukma tengah berusaha melerai dua cucunya. Suasana yang tadi ceria penuh kebahagiaan berubah dalam sekejap.
Tangisan dua bersaudara itu saling bersahutan, menciptakan keriuhan di dalam rumah.
"Udaah, ini buat kamu aja. Jangan nangis." Ruby datang mendekat ke arah Nabilla, menyerahkan hadiah miliknya.
"Aku juga suka warna biru, kok. Jadi nggak masalah aku pakai yang biru," ucap gadis itu lagi.
Nilam menoleh ke arah keponakannya.
__ADS_1
"Sayang, ini punya kamu, yang biru punya Saka,"
"Tapi Saka-nya nangis Tante, kasihan,"
"Nggak pa-pa, nanti Tante kasih tau dia. Kamu simpan dulu punya kamu di kamar Tante, ya." Nilam mengusap lembut kepala keponakannya yang sebentar lagi akan masuk kelas satu SD tersebut.
"Aku nggak mau warna biru, Tante. Punya aku yang pink," Nabilla merengek, menatap sang adik yang saat ini tengah digendong oleh Bu Sukma.
"Iya, nanti Tante mintakan sama Saka. Pasti dikasih. Jangan dipaksa, nanti dia malah marah trus nangis. Sekarang, Tante minta tolong, ambil yang biru di ruang depan ya, simpan di kamar Tante dulu."
"Janji tapi ya, nggak boleh tukar punya aku." Nabilla mengacungkan jari telunjuknya ke arah Nilam.
"Iya,"
Nabila melangkah keluar dari dapur, untuk menuruti ucapan Nilam.
Setelah dua keponakan peremouannya meninggalkan dapur, Nilam mendekati Saka.
"Ndak! Ini punya aku!" Saka menyembunyikan tangannya di belakang punggung sang nenek.
Nilam dan Bu Sukma hanya bisa menarik nafas, jengah.
"Lagian kamu, kenapa beliin yang beda-beda gini? Tau sendiri, Saka suka rebut punya temennya," protes Bu Sukma.
"Kan Saka laki-laki, Bu. Masa aku belikan dia warna pink juga?"
"Ya jangan yang pink, tapi carikan warna netral yang cewek cowok bisa pakai. Kalau gini kan, malah berantem? Mana anak ini nggak mau ngalah, lagi."
"Saka udh harus belajar, Bu. Nggak semua hal bisa dia dapat. Nggak semua keinginan dia harus terpenuhi."
Nilam menatap keponakannya yang masih betah memeluk leher sang nenek.
Saka sangat dimanja oleh semua keluarga, bukan karena dia laki-laki, tapi karena dia cucu paling kecil di keluarga itu. Setiap maunya pasti selalu dituruti, membuat balita gembul itu memiliki watak yang agak keras dan pemaksa.
__ADS_1
Setelah drama rebutan yang akhirnya bisa terselesaikan, karena bujukan Nilam yang berjanji akan membelikan es krim sesuai tokoh botol minum mereka, Nilam bisa bernafas lega. Ia bersiap hendak pergi keluar bersama Bas, yang sudah menghubunginya sejak setengah jam yang lalu.
"Jangan lupa ya Ante, aku mau es krim yang ada boba-nya," pinta Nabilla.
"Iya, tapi janji kalian tidur siang dulu. Nggak boleh berantem, nggak boleh rebutan lagi. Saka janji nggak ganggu kakak lagi?" Nilam menatap keponakannya silih berganti.
"Iya, Ante, Saka janji." Bocah laki-laki itu mengacungkan jari kelingkingnya ke depan wajah Nilam.
Dengan terkekeh Nilam menautkan kelingkingnya. Merasa lucu, anak usia empat tahun sudah mengerti tentang sebuah janji yang harus ditepati.
Bertepatan dengan itu, suara motor Bas terdengar dari arah luar rumah. Nilam menyelesaikan urusannya dengan para keponakan, dan segera menyusul Bas keluar.
Setelah berpamitan pada Bu Sukma, mereka pun akhirnya pergi berdua.
"Tumben di rumah rame, sayang?" tanya Bas, setelah motor miliknya melaju melintasi jalan desa.
"Hmm, tadi anak-anak dijemput sama Damar. Aku yang minta."
"Oohh pantesan, kok ada anak-anak tapi ortunya nggak ada. Kirain pada kemana."
"Nggak kemana-mana. Aku memang suka ajak mereka, kalau pas aku di rumah. Dari pada aku datengin satu-satu ke rumah mereka, nanti pada cemburu-cemburuan. Mas tau sendiri, anak-anaknya mas Surya tuh nggak ada yang mau ngalah, sementara Ruby, anaknya dieeem, kalem."
"Kamu seneng banget ya sama anak-anak?"
"Iyalah, apalagi mereka kan keponakan aku."
Tidak ada obrolan lagi setelahnya. Motor melaju menuju pusat kota. Bas mengajak Nilam pergi menemaninya membeli beberapa pakaian, sebab ternyata baju-baju miliknya sudah berpindah tangan ke suami Utari, tanpa sepengetahuan Bas.
Kemarin, saat Utari dan suaminya baru datang dari rumah si laki-laki, Bas meihat bajunya dipakai oleh sang ipar. Ingin marah, namun ia enggan. Dan setelah diperiksa di dalam lemarinya, Bas yang memang tidak punya terlalu banyak pakaian, hanya bisa menarik nafas kesal sebab hanya tersisa dua potong baju miliknya di sana.
Saat Bas bertanya, Utari hanya tersenyum dan mengatakan ia hanya meminjam baju milik sang kakak.
__ADS_1