
"CRISTHOPAN? ALEXANDER?"
Kedua gadis itu sangat teramat terkejut, Rebecca mematung tak bersuara, sementara Safir terkejut hingga sangat heboh.
"Kak Cristhopan? Kenapa bisa.." Gumam Rebecca, pikirannya mulai kesana kemari, Setelah beberapa saat ia beralih menatap tajam Fiona.
"Kau?! Kau tahu siapa yang kau maksud?" Ucap Rebecca geram.
"A-aku, Aku tidak mungkin berbohong" Fiona gelagapan,
"Kau harus bisa mempertanggung jawabkan ucapanmu! Kau pikir Kakakku itu siapa?!" Rebecca sangat murka
Fiona terlihat gemetar, Ia sudah membayangkan apa yang akan di pertanggung jawabkan karena ucapannya.
"Gawat! Salah ngomong, bisa celaka aku!" Fiona sudah menegang
"A-aku, Saya.. Saya mengetahui hal ini langsung dari Angeline, Dia korban dari keganasan Zenya" Fiona mulai mencari alibi
"Tadi kau berbicara dengan sangat percaya diri, Sekarang kau menumpahkan semua kesaksianmu pada orang lain?" Rebecca mulai mencari celah
"Saya.. Saya yakin Angeline tak mungkin berbohong. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau wajah Angeline rusak, Dia tidak berbicara siapa pelakunya. Tapi ia memberitahu bahwa kejadian yang menimpanya disebabkan oleh Zenya, Dia juga berbicara mengenai kedekatan Zenya dengan Tuan muda pertama keluarga Alexander. Itu sudah pasti Tuan muda Cristhopan. Setelah itu, Saya beberapa kali memergoki Zenya terlihat sangat dekat dengan Tuan muda Cristhopan, Bahkan waktu itu saya pernah melihat Tuan Cristhopan nampak sangat memperhatikan Zenya" Fiona berusaha menjelaskan semua yang ia tahu dengan sangat jelas. Ia takut kalau ucapannya malah akan membuatnya celaka
"Kau? Kau bertemu dan sering memergoki kakakku? Memangnya siapa dirimu? Untuk bertemu kakakku, kau sama sekali tidak layak" Rebecca sangat geram
"Tuan muda Cristhopan, Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya, Bahkan aku pernah berkunjung ke kantornya"
PLAK!!
Rebecca dengan sangat keras menampar Fiona,
"Kau pikir orang seperti mu pantas untuk bertemu kakakku? Dan lagi bagaimana caranya kau bisa masuk ke CLA?"
Fiona meringis, Dengan tak sengaja wajahnya malah menunjukkan raut wajah marah, Safir yang melihat ekspresi itu langsung menarik rambutnya,
"Hey! Kau gunakan seperti apa matamu itu? Kau berani menatap Rebecca dengan tatapan seperti itu? Kau membual kesana, kemari, Apa maksudmu?" Ucap Safir yang juga sangat jengkel
"Saya, saya tak bermaksud menyinggung Nona dengan tatapan saya, Lebih baik Nona dengarkan penjelesan saya terlebih dahulu" Walaupun kesal dan sangat marah, Fiona tetap tak berani melakukan apapun pada dua gadis yang bertemperamen buruk itu. Rebecca menyenggol bahunya, Setelah itu Safir melepas cengkeramannya dari rambut Fiona, Ia mengkode Fiona agar cepat berbicara menggunakan lirikan matanya
__ADS_1
"Saya mengenal Tuan Cristhopan sejak saya terpilih menjadi siswa yang ikut melaksanakan program pertukaran pelajar. Karena Universitas tempat saya bersekolah berada di bawah naungan keluarga Alexander, sudah pasti disaat ada acara seperti ini kita akan sering memberikan proposal dan dokumen untuk dimintai persetujuannya. Awalnya saya tidak mencurigai Zenya akan menjerat Tuan Cristhopan, Karena Tuan muda bukanlah orang yang dapat di provokasi, Tapi setelah hari dimana saya bersama rekan yang lain datang ke C.L.A untuk bertemu dengan Tuan muda, Tuan muda menolaknya mentah-mentah. Bahkan kami hanya di terima sampai di lobby. Tapi, begitu Zenya yang pergi, Tuan muda menyuruhnya masuk bahkan Zenya di jemput oleh Asisten pribadi tuan sendiri, Malah mendapat uang sebanyak tiga miliar secara cuma-cuma"
Mendengar semua ucapan yang di ucapkan Fiona, Rebecca langsung membulatkan matanya, Ia terlihat sangat marah, begitupun dengan Safir.
"Kau yakin bisa mempertanggung jawabkan ucapanmu?" Tanya Safir yang juga mencoba menenangkan Rebecca
"Nona, Jika disuruh bersaksi didepan Zenya atau Tuan muda, Sudah pasti saya tidak berani, Tapi jika ingin mengetahui kebenarannya, Nona tentu bisa memperhatikan mereka terlebih dahulu. Jika saya boleh memberikan saran, Sebaiknya Nona jangan dulu bertindak terang-terangan, Apalagi sampai menanyakan kebenaran masalah ini pada Zenya ataupun Tuan muda sendiri. Karena mendengar dari cerita Angeline, Zenya sama sekali tak mau hubungan dia dan Tuan muda Cristhopan sampai diketahui oleh orang lain. Bahkan, Di depan Angeline pun ia masih berpura-pura polos dan berpura-pura menolak Tuan muda"
"Apa? Menolak? Apa kau gila?" Rebecca kembali meradang,
"Maka dari itu Nona, Sebaiknya kita cari tahu dulu, Kalau sampai salah langkah, Sudah pasti Zenya akan lebih waspada"
"Kau, Eh bukan! Temanmu yang bernama Angeline, Dimana dia mengetahui masalah ini?" Rebecca memijat pangkal hidungnya
"Itu.. Tapi Nona jangan marah ya, Sebenarnya, Zenya sudah sangat sering menginap di Villa Keluarga Alexander"
"APA?!!" Rebecca dan Safir sama-sama terbelalak.
*
*
"Bosan deh" Zenya mengambil nampan yang sudah di sediakan,
"Wah, Wah, wah~ Ternyata anak baru bukan sembarang anak baru!" Safir berpangku tangan, Dengan Rebecca yang sudah memperlihatkan wajah ganas,
"Hhhhhh" Zenya menghela nafas panjang, Ia sudah tahu bahwa kedatangan Safir bukanlah sesuatu hal yang baik. Ia mencoba mengabaikan mereka, Dan fokus pada makanan yang hendak ia coba.
"Ck, Dia sungguh mengabaikanku?" Safir yang mempunyai temperamen sangat buruk merasa sangat di hina oleh sikap Zenya.
Ia berjalan sangat cepat ke arah Zenya yang sudah hampir selesai mengambil makanan,
Bug!!
Prang!!
Semua berantakan, Makanan yang sudah di ambil oleh Zenya berserakan di lantai, Zenya menatap wajah Safir tanpa mengucapkan sepatah katapun
__ADS_1
"Gadis itu sungguh sangat berani menatap Safir dengan tatapan seperti itu!" Cibir orang-orang di sekitar,
"Siapa gadis ini?" Gumam Zenya dalam hati.
"Kau sudah sangat berani, gadis liar!" Desis Safir
Zenya mengerutkan keningnya, "Nona, Anda sudah berulang kali membuat masalah dengan saya, Sekarang saya tanya, Apa maksud dan tujuan anda?" Dengan sangat jengkel Zenya berusaha menahan amarah yang ada di dalam hatinya.
"Kau sungguh ingin tahu?" Tanya Safir dengan suara penuh penekanan, Zenya sama sekali tidak bergeming.
"Kau!" Rebecca hendak maju, Tapi Safir diam-diam menarik pergelangan tangannya.
"Harus sesuai rencana, Rebecca!" Bisik Safir,
Rebecca membuang nafas kasar sambil memalingkan wajahnya, terlihat ia sedang dalam mood yang sangat tidak baik.
"Aku hanya ingin melihat, Seburuk apa pembalasanmu padaku nanti" Zenya mengernyitkan dahinya, Ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Safir
"Cih, Kau pasti akan berpura-pura polos dan tentu saja akan berprilaku seperti orang bodoh. Kau suka berkelit dan bersilat lidah, Zenya agatthe, Itu namamu, 'kan?" Ucap Safir yang berjalan dua langkah lebih dekat pada Zenya
"Iya, Itu memang namaku, Tapi seingatku, Aku tak pernah mempunyai masalah denganmu" Rebecca sudah hampir tidak bisa menahan diri, Tapi Safir menahannya kembali,
"Sudahlah Safir, Aku tidak suka berbelit-belit kau ingin terlihat seperti orang dongo didepannya?" Rebecca murka,
"Dan kau, Apa hubunganmu dengan kakakku?" Rebecca menunjuk Zenya tepat di wajahnya, Zenya mundur satu langkah,
"Nona, Aku tidak kenal dengan kakakmu, Apa ia adalah lelaki yang tadi pagi sempat bermasalah dengan Nona ini?" Zenya melirik ke arah Safir,
"Iya, Dia kakakku, Dan jika kau ingin tahu siapa aku dan apa masalah kita, Namaku Rebecca Alexander!"
"Rebecca, Alexander?!"
°°°°°°°°°°°••••°°••••••••••°°°°°°°°°°•••••••••°°°°°°°°°•••••••°°°°
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~
Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.
__ADS_1
Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~
Terimakasih~