CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 160


__ADS_3

Baskara mencuri-curi pandang ke arah sang kekasih yang sedang memasak. Bukan memasak, lebih tepatnya menghangatkan sisa makanan yang tadi pagi gadis itu buat lalu ia simpan di lemari pendingin.


Setelah cukup puas menghabiskan waktu berbagi cerita, sembari menikmati makanan yang Nilam bawa, Bas memilih merebahkan kembali tubuhnya sebab pinggangnya masih sering terasa pegal. Sementara Nilam memilih melanjutkan aktifitas bebersih dan menyiapkan makanan di dapur. Namun tidak berselang lama, Baskara memilih bangkit dan duduk di dekat dapur memerhatikan gerak gerik kekasihnya.


"Jangan liatin aku kayak gitu, Mas! Grogi tau!" ketus Nilam, sadar mata sayu kekasihnya terus mengikuti setiap gerakannya.


Bas tidak menjawab. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut laki-laki itu. Hanya senyum tipis penuh ketulusan yang sesekali terkembang dari bibirnya.


Senyum yang menyimpan begitu banyak doa serta syukur karena apa yang ia takutkan tidak menjadi nyata.


Iya, Baskara kini ada dalam fase ketakutan dan kepanikan yang berlebihan. Terutama menyangkut soal Nilam.


Tak dapat disalahkan. Dia yang sejak remaja tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus, tidak pernah merasa benar-benar dicintai. Bahkan hingga beranjak dewasa ia hanya mendapat cibiran dan pandangan negatif, bahkan dari keluarga terdekatnya. Hanya kedua orang tua Nilam yang datang merangkulnya, memperlakukan dia seperti seorang anak yang patut untuk disayangi dan dihargai. Membuat Bas menempatkan paman dan bibinya itu sebagai sosok yang ia kagumi dan segani. Terlebih ketika menjalin kedekatan dengan Nilam, bahkan sampai merencanakan pernikahan dengan gadis yang diam-diam ia cintai itu, Baskara merasakan perubahan hidup. Merasa ada harapan untuk dirinya bahagia, merasa jika dirinya berharga. Baginya, Nilam adalah pusat kebahagiaannya.


Lalu seketika harapan itu terhempas karena kesalah pahaman yang terjadi karena ulah adik dan ibu kandungnya, membuat Bas benar-benar kehilangan arah.


Hingga ketika Tuhan memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, Bas memilih mengikat Nilam sekuat yang ia bisa.


Setiap saat menelepon, bermanja pada Nilam, agar gadis itu tahu setiap detik, setiap menit, hanya Nilam lah yang ada di kepalanya. Agar gadis itu mengerti jika laki-laki bernama Baskara itu, begitu bergantung padanya.


Dan pagi tadi, untuk pertama kalinya Nilam mengabaikannya lagi, setelah musibah kemarin. Ia menghubungi Amanda, menanyakan keberadaan Nilam. Betapa terkejutnya dia, mendengar cerita Amanda.

__ADS_1


"Ti ati lho! Ntar Nilam kabur lagi, gagal lagi deh nikahnya," oceh Amanda menakutinya.


Baskara panik.


Ia akhirnya meminta sang adik mengantarnya ke kota tempat Nilam bekerja. Meski harus menahan sakit dan rasa tidak nyaman selama perjalanan, ia abaikan semua itu, demi bisa menemui Nilam.


Ia patut bersyukur, sang kekasih rupanya tidak marah seperti yang ia takutkan. Nilam cukup bijak menghadapi gangguan yang ada, meski ada getar cemburu yang dapat Baskara tangkap dari sikap kekasihnya itu. Setidaknya, ia bisa memastikan jika Nilam tidak akan meninggalkannya karena masalah ini.


"Mas!" sentak Nilam dengan wajah cemberut.


"Mikirin apa, sih? Dari tadi aku ajak ngobrol nggak direspon,"


"Ah, apa sayang? Maaf mas nggak fokus."


Bas bangkit, mendekat ke arah Nilam yang sedang menyiapkan piring.


"Maaf," ucap Bas memelas.


"Tadi mau tanya apa?" ulang laki-laki itu lagi sembari memeluk kekasihnya.


"Menangnya gini," keluh Nilam yang tidak bisa bergerak karena dekapan Bas.

__ADS_1


Baskara terkekeh.


"Si Manda, pergi kemana sama Dika?" ulang Nilam akhirnya.


"Ooh, mereka. Nggak tau, kemana. Biarin aja lah sayang, biar mereka menikmati waktu bersama."


"Dika nggak nakal kan, Mas?" tanya Nilam sembari mengangkat kedua tangannya membuat tanda (").


"Aku nggak mau Amanda dijadikan mainan, nanti."


"Nggak lah sayang. Mas berani jamin, Dika nggak akan berani macem-macem sama teman kamu itu. Lagian juga, mana bisa Dika mainin cewek jadi-jadian seperti Manda?" sahut Bas sambil tertawa di akhir kalimatnya.


Nilam melotot, tapi tidak urung ikut tertawa mendengar ucapan kekasihnya itu.


Mereka menghabiskan malam bersama. Hingga sekitar pukul setengah sebelas malam, barulah Amanda datang bersama Dika.


Bas berpamitan pada Nilam untuk pergi ke kontrakan Dika, sebab tidak mungkin ia menginap di kostan Nilam.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Suka baca cerita tentang wanita tangguh?

__ADS_1


Karya temen othor ini bisa banget jadi salah satu liat bacaan selanjutnya ya, sembari nunggu Nilam up besok 😘😘😘



__ADS_2