CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 77


__ADS_3

Damar hampir saja kembali melayangkan tinjunya ke arah wajah putih Pandu.


Pemuda yang baru akan menamatkan sekolah SMA nya itu, merasa kesal ucapannya beberapa waktu lalu tidak didengarkan oleh laki-laki itu.


"Ngapain lagi kamu datang kemari? Masih kurang jelas apa yang aku katakan waktu itu?" Tanyanya dengan rahang mengeras.


"Aku datang kemari untuk meminta maaf pada kalian. Maaf, sudah mengecewakan kalian dengan perbuatanku yang tidak pantas. Maaf sudah membuat Nilam menangis beberapa waktu." Ucap Pandu memberanikan diri menatap sekeliling.


Ia mengubur rasa malunya, ditatap oleh banyak pasang mata yang tengah berkumpul di ruangan itu.


Sesaat suasana hening dan menegangkan memenuhi ruangan itu. Tidak ada satu pun dari mereka membuka suara, menanggapi ucapan Pandu.


Merasa tidak mendapat tanggapan apapun, tiba-tiba Pandu mendekat ke arah pak Indra, dan berlutut di hadapan laki-laki paruh baya itu, membuat semua orang terkejut dengan apa yang dilakukannya, tidak terkecuali pak Indra sendiri.


Ayah dari empat anak itu, reflek menggeser kakinya mencoba menghindar dari jangkauan Pandu.


"Mas ...." Pekik Nilam, tidak menyangka Pandu akan melakukan itu.


"Bangun nak ... Jangan begini," pak Indra yang sudah bisa menguasai keterkejutannya meraih bahu Pandu, berniat mengangkat laki-laki itu. Namun Pandu tetap bergeming. Ia memasrahkan harga dirinya, demi meraih maaf dari keluarga itu.


Baskara yang awalnya duduk bersebelahan dengan pak Indra pun, segera bangkit menyingkir dari tempatnya. Merasa tidak enak hati, duduk di sofa depan Pandu.


"Maafkan aku Pak, aku sudah membuat bapak dan ibu kecewa. Aku sudah menodai kepercayaan yang kalian berikan padaku. Aku khilaf, aku menyesal." Lirih laki-laki itu, dengan kepala menunduk.


"Bapak sudah memaafkan kamu, sekarang bangunlah nak ...." Pinta pak Indra lagi, sembari menepuk pundak Pandu beberapa kali.


Setelah mendengar ucapan pria di hadapannya, baru lah Pandu mengangkat wajahnya, menatap wajah keriput itu.


"Duduklah nak," ucapnya lagi, sembari menepuk tempat yang semula Baskara duduki.


Pandu patuh mengikuti ucapan Pak Indra. Ia duduk di samping laki-laki paruh baya itu.

__ADS_1


"Mmm akuu tunggu di luar saja ya," Baskara yang merasa dirinya adalah orang luar, berniat meninggalkan tempat itu. Ia ingin keluar dari kecanggungan yang membuatnya tidak nyaman.


Begitu pun dengan Citra, wanita itu memutuskan membawa anak-anak bermain di luar rumah, agar tidak menganggu obrolan para orang dewasa.


Tinggallah di dalam sana kedua orang tua Nilam, Diana kakak tertua Nilam, Damar, Nilam sendiri dan Pandu.


Namun, meski begitu Pandu tetap tidak berani menatap satu persatu penghuni rumah tersebut. Ia hanya menundukkan kepala, tanpa tahu harus melakukan apa-apa.


Sementara kedua orang tua dan kelurga Nilam yang lain, hanya diam memerhatikan laki-laki itu dengan raut yang tak bisa ditebak.


"Pak, Bu, aku mau ngobrol berdua dengan mas Pandu sebentar." Suara Nilam memecah keheningan.


Bu Sukma dan Diana menatap Nilam beberapa saat sebelum mereka meninggalkan ruangan tersebut. Begitu juga Pak Indra, tanpa mengatakan apapun pria itu keluar berniat menemui Baskara.


Nilam duduk di sofa yang berbeda dengan Pandu. Beberapa kali menarik nafas dalam, mencoba meredam gemuruh dalam hatinya.


"Untuk apa mas kemari?" Tanya gadis itu dengan wajah datar. Tidak ada binar bahagia, atau hanya sekadar senyum tipis yang menghiasi wajah ayunya.


"Stop mas, cukup bicara dari sana saja." Nilam menghentikan pergerakan Pandu, yang berniat menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan dirinya.


Hati Pandu merasa teriris dengan penolakan wanita yang dirindukannya itu, namun tak urung ia menuruti ucapan Nilam.


"Maafkan mas, mas khilaf sayang." Pintanya dengan wajah penuh permohonan.


"Cih," suara decakan dari samping, menyadarkan Nilam, kalau Damar masih berada di tempat yang sama, mengawasi keduanya.


"Mar, mba mau ngobrol berdua sama mas Pandu. Kamu temani mas Bas di luar dulu ya ...." Nilam memberi peringatan agar adiknya menyingkir.


Akhirnya terpaksa Damar melenggang keluar meninggalkan sang kakak bersama laki-laki yang sangat ia benci saat ini.


"Antara mas dan dia nggak ada hubungan apapun, hanya kamu yang mas cintai dan mas inginkan menjadi istri. Maafkan kesalahan yang mas lakukan." Pandu melanjutkan penjelasannya, setelah meyakini kalau sudah tidak ada gangguan lagi dari orang lain di tempat itu.

__ADS_1


Nilam tersenyum kecut mendengar penuturan Pandu.


Mata gadis itu memandang lurus ke depan, namun jelas terlihat tatapannya kosong. Tidak ada objek yang menarik korneanya, pergumulan hati dan pikiran, menarik semua indera rasanya.


"Nilam, kamu mau kan memaafkan kekhilafan mas?"


Gadis itu tersentak, ketika tangan yang ia tumpu di atas pangkuannya, ternyata telah berpindah dalam genggaman Pandu.


Refleks ia menghempas tangan laki-laki yang tengah berlutut di depannya, dengan tatapan memohon.


"Mas, kamu tau? Kamu lah laki-laki pertama yang aku ijinkan masuk dalam dunia ku. Kamu laki-laki pertama dan satu-satunya yang aku percaya akan bisa menemaniku hingga akhir. Aku menerima semua sikap posesifmu, menghargai kamu, hingga aku rela mengurangi pergaulanku dengan orang lain. Aku membutakan mata dan menulikan telinga ketika cibiran dan tatapan orang-orang menghunus tajam ke arahku, saat mengetahui hubungan diantara kita. Aku mempercayaimu melebihi diriku sendiri rasanya. Berusaha memantaskan diri, agar bisa berada di sampingmu, meski rasanya begitu sulit. Tapi apa yang aku dapat?" Sebutir air mata yang memaksa jatuh, segera gadis itu hapus dengan kasar dari pipinya.


"Saat dalam sujud ku aku memohon kesehatan dan keselamatan untukmu, kamu bersenang-senang dengan perempuan lain. Aku berperang dengan egoku, memanjangkan sabar saat kata sibuk dan maaf kamu ucapkan karena tidak bisa datang menemui ku, tapi rupanya di sana kamu sibuk dengan perempuan lain? Dan kini kamu meminta maaf, meminta maaf untuk apa?"


Pandu diam, menunduk tanpa bisa membantah ucapan Nilam.


"Mas bilang, hanya aku yang mas cintai, tapi mas bisa berbagi saliva dengan wanita lain! Bahkan mas titipkan benih di rahim wanita lain. Definisi cinta macam apa yang mas tawarkan untukku? Andai aku mau, apa mas akan meminta aku merawat anak dari perempuan itu untuk aku jaga selayaknya anakku sendiri? Itu yang ada dalam pikiran kamu?"


Pandu terkejut mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Nilam. Ia belum mengatakan niatnya, bagaimana gadis itu tahu isi kepalanya?


"Aku bukan manusi mulia seperti yang kamu kira, mas. Akubtidak sesempurna itu, untuk bisa menerima kesalahan kamu."


"Nilam ...." Pandu kehabisan, tidak tahu harus merangkai kalimat apa lagi untuk membujuk gadis di hadapannya itu.


"Aku sudah memaafkan kamu, merelakan kamu, dan aku melepaskan kamu." Ucan Nilam lirih. Dengan pelan gadis itu menarik cincin yang masih melekat di jari manisnya. Cincin yang sempat Pandu sematkan dulu, sebagai pengikat dirinya.


Pandu hanya bisa menggeleng, mencoba mencegah apa yang Nilam niatkan.


"Pergilah mas, jangan pernah lagi datang mengusik kehidupanku." Nilam bangkit, memanggil ibu dan kakaknya yang berada di dapur.


Pandu pun terpaksa ikut berdiri.

__ADS_1


Laki-laki itu merasa lemas, tidak ada lagi harapan yang bisa menguatkan hatinya. Ia kalah, ia kehilangan cintanya.


__ADS_2