
Hari ini adalah hari dimana Zenya pergi ke kota B untuk melaksanakan tugas nya, Ia akan menjadi wakil dari universitas yang membanggakan dirinya, beserta empat orang temannya.
"Zenya, Kau sudah mengerjakan semua nya dengan baik?" Tanya Devon yang terlihat masih sinis pada Zenya.
"Emh, Iya. Aku sudah mengerjakan semuanya, kak" Zenya tersenyum samar.
"Jangan sampai kau mengacaukan!" Devon memperingati, ia pun berlalu,
Fiona yang sedari tadi memperhatikan Devon dan Zenya perlahan menghampiri,
"Zenya, kau ada masalah dengan Kak Devon?" Tanya nya dengan nada yang sedikit sinis.
"Tidak" Zenya malas meladeni.
"Tapi, tadi aku melihat seperti nya Kak Devon kurang senang dengan mu" Fiona berpangku tangan di dada nya.
"Terserahlah, itu bukan urusanku" Zenya masih sibuk membereskan dokumen nya.
"Apa? Kau tidak perduli?!" Pekik Fiona,
Zenya hanya melirik, Ia melipir tanpa memberikan jawaban apapun, Kepalanya menggeleng, terdengar helaan nafas yang panjang.
"Hey Zenya! Kau mencela ku di dalam hati mu?!" Fiona memekik, Tapi Zenya sama sekali tidak merespond.
"Ada apa dengan orang-orang ini?" Gumam Zenya dalam hati
"Seharusnya mereka mempersiapkan peralatan, atau membantuku mempersiapkan yang lain, bukannya malah membuat masalah denganku seperti ini"
*
*
Mobil Van yang cukup besar dengan fasilitas yang mewah sudah terparkir,
Zenya beserta ke-empat teman nya sudah tak sabar untuk berangkat.
Seperti biasa sebelum pergi, pihak kampus selalu mewanti-wanti para Mahasiswa-nya agar senantiasa selalu bersikap sopan dan menghargai adat dan kebudayaan dimanapun mereka berada.
Setelah mendengar beberapa patah kata sambutan dan wejangan dari pihak kampus, mereka pun berbondong-bongdong masuk ke dalam mobil dan masing-masing dari mereka memilih tempat duduk untuk masing-masing.
Zenya duduk di barisan paling depan, Karena ia malas jika harus meladeni Fiona, ataupun mendapat lirikan tajam dari Devon.
Setelah semuanya selesai ter-urus, Mobil melaju. Zenya langsung membuka laptop-nya untuk menghindari kontak mata dari dua teman nya yang sedang bermasalah.
Saat sedang fokus mengerjakan tugas, Ponsel yang berada di dalam tas nya bergetar, ia segera merogohnya, terlihat nama Velia di layar ponsel tersebut.
Zenya tersenyum,
"Halo" Sapa nya,
__ADS_1
"Hallo Ze, Udah sampai mana?" Velia antusias di seberang telepon.
"Baru aja berangkat" Zenya menyandarkan tubuhnya.
"Kirain udah sampe"
"Tadi persiapan nya agak alot" Zenya memainkan gantungan kunci.
"Kenapa? Biasa nya kelompok kalian kompak?!"
"Kamu tahu kan kalau kemarin sempat ada 'konflik', Mungkin itu penyebab nya" Zenya berbicara dengan nada yang rendah. Ia menutup mulut, sadar bahwa ia hampir saja keceplosan mengatakan masalah yang sebenarnya kepada Velia.
"Ooohh, Dasar ga profesional. Kamu pasti bad mood, 'kan?" Velia menebak dengan sangat tepat.
"Hmm, gitulah, Coba kalau ada kamu disini, Aku pasti gak akan kesepian" Zenya sedikit tertawa.
"Emh.." Velia tak suara
"Kenapa?" Zenya menunggu
"Ng, nggak, Ngga apa-apa.. Sabar aja, disana ngga lama kok, paling dua bulan ya? Haha" Velia terkekeh.
"Issshh, itu lama tahu!" Zenya mengerucutkan bibir atas nya.
"Iya, iya pokoknya sabar aja, baru aja berangkat. Nanti setelah ada kegiatan, gak begitu berasa kok" Velia menyemangati.
"Hhh, Iya deh, mudah-mudahan aja gitu"
"bye!!"
-Tut
"Hhhhh" Zenya menghela nafas panjang, Ia mengerucutkan ujung bibirnya.
"Kenapa sih Velia buru-buru banget tutup telpon nya" Lirih nya sambil menatap nanar layar ponsel nya yang sudah dalam mode off.
Zenya kembali pada lamunannya,
"Hmmm, Kaya nya sejak kejadian ice cream itu, Cristhopan 'gak pernah menghubungi aku lagi. Hari ini, Aku pergi tanpa mengabari, akan jadi masalah atau tidak, 'ya? Awal nya berpikir pasti bertemu di upacara sebelum berangkat tadi, Tak di sangka ternyata hanya staf nya yang datang" Zenya merasa gelisah karena belum mengabari Cristhopan, Ia takut jika nanti Cristhopan marah dan melakukan hal gila lagi.
"Aku tidak mungkin menelepon nya disini, Apa aku coba kirim pesan singkat saja? Tapi bagaimana jika ia langsung menelpon setelah mendapat pesan singkat? Biasanya ia memang seperti itu. Hmmm, Coba dulu saja lah, Belum dicoba 'gak bakal tahu" Zenya segera menyalakan kembali ponsel nya,
......"Tuan, Hari ini aku berangkat, Aku mengabari karena takut anda lupa. Di tambah waktu itu aku pernah berjanji, Aku akan mengabari jika aku berangkat. Aku ingin meminta maaf tentang kejadian lusa kemarin. Dan lagi, aku meminta, tolong jangan menelepon terlebih dahulu. Nanti aku akan mengabari mu duluan"......
"Apa aku kirim seperti ini?" Zenya menautkan satu alisnya
"Jangan menelpon? Ah! Nanti Cristhopan malah terpancing dan akan menelpon lalu memaki ku! Astaga! Aku harus bicara bagaimana" Zenya menghembuskan nafasnya kasar.
"Hhh" Coba saja deh kirim dulu seperti ini, Walaupun terkesan sedikit PD, tapi 'gak usah di pikir deh, Biar nanti paling dia mengejek" Zenya mengangkat satu bahu nya, jemarinya menekan tombol send,
__ADS_1
"Kenapa hanya centang satu?" Ia mengulum bibir nya.
"Sejak kapan nomor ini tidak aktif?" Ia jadi bergumam sendiri.
Pikirannya mulai di penuhi oleh pemikirannya tentang Cristhopan, Secepat kilat ia menggeleng, Mencoba menghempaskan pikiran-pikiran yang melayang di dalam kepala nya.
"Sudahlah Zenya, Untuk apa kau memikirkan orang sepertinya" Ia buru-buru mematikan kembali ponsel nya.
*
*
Mereka akhirnya sampai di kota tujuan, Radit membantu Zenya mengeluarkan perlengkapan dan barang-barang yang 'agak berat.
"Huh!" Terdengar eluhan Zenya.
"Zenya kenapa? Berat ya? Sini biar aku yang bawa" Rangga yang berdiri tak jauh dari Zenya pun ikut menawarkan diri.
"Hey Fiona! Devon! Kenapa kalian 'gak bawa apa-apa?" Decak Rangga yang mulai jengkel melihat sikap santai sang Ketua Pelaksana.
"Lho?! Kan ada kalian, Kenapa aku harus bawa?" Fiona mengerlingkan kedua bola matanya.
"Oh.. Oke! Kalau gitu nilai yang kita kumpulin mulai sekarang individual ya, Zenya!" Radit ikut menimpali.
"Kenapa kalian ribut?! Dan kenapa kamu tanya Zenya, Radit?! Kan Ketua Pelaksana disini itu, Saya! Bukan Zenya!" Bentak Devon.
"Apa? Jadi selama ini Ketua Pelaksana itu Devon, Kok gue baru tahu, 'ya?" Radit sengaja berulah.
"Apa maksud, 'kamu?!" Nada bicara Devon sudah menekan.
"Gue bilang, KOK GUE BARU TAHU KALO KETUA PELAKSANA NYA ITU, LO!" Radit menunjuk tepat di depan wajah Devon.
"Hahaha bener, dit! Gue juga baru tahu! Perasaan selama ini cuma Zenya yang kerja keras sendirian, Yaaaa.. Gue juga merasa bersalah sih sama dia, karena gue gak bantuin. Tapi gue pikir seharusnya ada Ketua, dan Sekretaris dong yang cover pekerjaan Zenya yang numpuk!" Celetuk Rangga.
Devon sudah mengepalkan tangannya kuat, Wajah Fiona pun sudah merah padam.
"Heh! Apa maksud, 'Kalian?! Kalian sengaja ngomong kaya gitu?!" Fiona meradang.
"Apaan sih lo cewe sok cantik! Pantes aja lo selalu di bawah Zenya, Abis lo sama dia itu bagaikan langit dan bumi, sih! Hahahaha" Radit dan Rangga tergelak bersamaan, sedangkan Zenya dibuat makin bingung, Ia menepuk jidatnya pelan kala nama nya ikut terseret.
"Dasar Zenya gadis sialan!"
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~
Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.
Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~
__ADS_1
Terimakasih~