CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 137


__ADS_3

Sikap Eby yang dinilai berani dan lancang oleh Utari, menciptakan rasa marah dan tidak terima di hati ibu satu anak itu. Ia semakin tidak suka pada gadis pilihan sang kakak, dan ingin membuat ibunya pun tidak menyukai Nilam. Dengan wajah sedih, ia menghampiri sang ibu yang tengah menimang anaknya di belakang rumah.


"Bu," panggilnya dengan tatapan sendu.


"Sstt" kode sang ibu, melarang anak perempuannya untuk bicara.


Utari mengerti. Ia mengangguk dan memilih duduk di kursi, yang biasa dijadikan tempat minum kopi saat sore hari. Air mukanya masih tetap berkabut mendung. Ia memerhatikan ibunya yang tengah bersenandung, sembari menepuk-nepuk punggung cucunya dengan lembut.


Pikiran Utari berkelana kemana-mana. Baginya, ini adalah rumahnya. Ibu dan kakak-kakaknya adalah milik dia seutuhnya. Tidak ada yang boleh mengambil itu darinya. Semua yang menjadi saingan adalah musuh untuknya.


Iya. Nilam adalah gadis yang mampu menarik perhatian kakaknya. Bahkan ibunya pun sudah mulai menyukai gadis itu. Utari tidak suka, sebab ia takut perhatian dan kasih sayang keluarganya berpindah pada Nilam kelak. Terlebih hubungannya dengan para ipar dan mertuanya yang kurang baik, membuatnya merasa terancam.


"Ada apa?" Bu Rahma duduk di samping putrinya, membuat ibu satu anak itu tersentak kaget.


"Ibu! Ngagetin aja!" sungut Utari pada ibunya.


"Adek mana, Bu?" tanyanya lagi saat menyadari ibunya sudah tidak menggendong bayi lagi.


"Udah ibu taruh di ayunan. Kamu nggak tau ibu ke dalam barusan?" Utari menggeleng.


"Mau ngomong apa tadi? Muka kamu kusut gitu?" tanya Bu Rahma mengganti topik obrolan.


Anak bungsu dari tiga bersaudara itu, menatap manik ibunya dengan sendu. Wajah yang sebelumnya sempat nampak kesal itu, kini berubah kembali.


"Mba Nilam marah sama aku, Bu. Katanya aku nggak becus dimintai tolong," adu wanita itu.


"Kok bisa? Memangnya kamu nggak becus kenapa?"

__ADS_1


"Dia kan minta tolong aku untuk bagikan seragam, tapi rupanya aku salah hitung. Dia ngomel-ngomel sama aku. Aku nggak terima, Bu. Dia baru mau jadi ipar aku, baru akan masuk ke keluarga ini, udah begitu kelakuannya. Kalau sampai dia menikah sama mas Bas, aku yakin semua akan diubah sama dia. Rumah ini, keluarga ini, pasti akan diatur-atur sama dia, Bu." Dengan penuh kekesalan Utari mengungkapkan fakta dengan versinya.


"Kok Nilam gitu, sih? Bukannya berterima kasih karena udah dibantu, malah marah-marah. Dasar anak nggak tau etika," kesal Bu Rahma termakan omongan anaknya.


"Sebenarnya dari awal dia sering nggak sependapat sama aku, Bu. Tapi aku ngalah aja sama dia." Utari melirik reaksi ibunya dengan ekor mata. Nampak raut wajah Bu Rahma berubah. Dalam hati Utari bersorak girang, sebab bisa memengaruhi ibunya, yang selama ini sudah mulai menyukai Nilam.


"Jadi selama ini, anak itu bermuka dua? Pantes aja perasaan ibu di awal-awal nggak sreg sama dia. Tapi karena dia baik dan perhatian, ibu berpikir ibu salah menilainya dulu," ucap bu Rahma lirih. Matanya menerawang jauh membayangkan awal-awal ia tahu hubungan anaknya dengan Nilam.


"Iya, Bu. Dari awal aku malah udah nggak suka sama dia. Mukanya aja sok dilembut-lembutin. Tapi hatinya jahat! Aku denger juga, dia dulu sampai ditinggal nikah sama mantan pacarnya. Karen apa coba, kalau bukan karena dianya yang nggak baik?"


"Hah! Kamu dapat berita dari mana?" Bu Rahma terkejut dengan penuturan anaknya.


"Ada lah, Bu. Orang desas desusnya udah dari dulu, kok. Ibu aja yang jarang bergaul keluar, jadi nggak tau informasi," ucap Utari melantur.


"Mas Bas juga terlalu sayang sama dia, mangkanya orang itu jadi ngelunjak. Coba ibu pikir. Dia minta bikin rumah, trus nikah sekarang dengan biaya yang nggak sedikit, kan kasihan mas Bas, Bu. Dia sih enak tinggal terima beres, lah anak ibu? Sampai bela-belain kerja keluar pulau demi memenuhi ambisi perempuan satu itu!" sungut Utari lagi. Ia benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk menjelekkan Nilam. Terlebih saat ini ibunya mau mendengar semua yang ia katakan. Tidak seperti biasanya, Bu Rahma akan menghindari obrolan jika itu menyangkut Nilam.


"Kamu kenapa baru ngomong sekarang, Utari?! Harusnya yang begini jangan kamu simpan sendiri,"


"Gimana aku mau ngomong? Ibu kan selalu muji dia, nganggep kalau dia calon menantu idaman."


"Ya kan selama ini dia baik sama ibu, selalu perhatian, suka beliin ibu barang-barang bagus. Siapa yang nggak suka punya mantu royal?"


"Ibu nyindir aku? Karena suami aku nggak pernah kasih ibu barang-barang mahal?" Utari tersinggung dengan ucapan ibunya.


"Nggak gitu! Ini kenapa omongannya jadi kemana-mana sih?" Bu Rahma kesal dan bingung sendiri jadinya.


Utari tidak menyahut. Wanita itu menghentak kakinya, masuk ke dalam rumah dengan wajah memerah. Tidak peduli dengan ibunya yang masih bingung melihat sikapnya.

__ADS_1


Bu Rahma menari nafas dalam. Ia berpikir, apakah selama ini dia benar-benar telah salah menilai Nilam? Apakah calon menantunya itu tidak sebaik yang terlihat selama ini.


Pantas saja pertama kali tahu soal hubungan Baskara dan Nilam, ia merasa tidak rela. Jadi ini sebenarnya yang terjadi? Ini tidak bisa dibiarkan. Meski tidak mungkin membatalkan pernikahan, tapi dia harus mengingatkan Baskara akan sikap calon istrinya.


Mengingat kembali bagaimana raut sedih Utari sebelumnya, timbul rasa marah di hati wanita paruh baya itu. Ia tidak terima perlakuan Nilam pada putrinya. Ia harus memberi pelajaran pada Nilam, yang sudah lancang memarahi anaknya.


Segera wanita itu bangkit, mencari Utari kembali.


"Apa lagi, Bu?"


"Ibu minta maaf soal omongan ibu, barusan. Nggak ada maksud ibu membanding-bandingkan suami kamu dengan Nilam."


"Udahlah, Bu, nggak usah dibahas," sahut Utari.


"Tari, bisa kamu telepon Nilam sekarang? Ibu mau ngomong sama dia,"


"Nggak usah, Bu. Nanti panjang lagi urusannya." Tolak Utari.


"Nggak. Ini nggak akan panjang. Mumpung belum terlambat. Ibu mau kasih nasihat sama dia, biar bisa bersikap baik sama orang. Biar belajar tau diri. Ibu nggak terima orang lain memarahi anak ibu."


Utari menarik nafas. "Ya sudah, Bu. Tapi nanti jangan jadi rame. Aku nggak mau mas Bas jadi ikutan marahin aku nanti,"


"Nggak akan! Udah cepet, telepon dia!"


Utari kembali masuk ke dalam kamarnya. Dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat, ia meraih ponsel yang disimpannya di bawah bantal.


'Rasakan kamu! Kamu pikir, kamu akan menang lawan aku? Nggak akan!' ucap Utari dalam hati, membayangkan wajah Nilam.

__ADS_1


__ADS_2