CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 146


__ADS_3

Tatapan sinis dari Bu Rahma dan Utari masih Nilam dapatkan ketika dua wanita itu datang ke rumah sakit. Namun berbeda dengan kemarin, kali ini tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut ibu dan anak itu, untuk menyudutkan Nilam.


Nilam pun melakukan hal yang sama. Meski di dalam hatinya merasa kurang nyaman, tapi ia berusaha mengabaikan keduanya sesuai permintaan Pak Brata.


"Jangan dimasukkan ke hati ucapan bibimu itu, Lam. Dia memang seperti itu dari dulu. Selalu menganggap orang lain yang bersalah. Tidak pernah introspeksi diri. Meski akibat keegoisannya sudah nampak di depan mata seperti ini, dia tetap tidak mau belajar dari kesalahan," tutur calon ayah mertua Nilam itu kemarin, saat berhasil membungkam istri pertama dan anak bungsunya, hingga pergi meninggalkan rumah sakit.


Ibu dan anak itu begitu emosi ketika melihat Nilam berjaga di samping ranjang rawat Baskara. Mereka berniat mengusir Nilam pergi. Dengan kata-kata yang tidak pantas terucap, mereka menyerang gadis yang mestinya menjadi anggota baru keluarga mereka.


"Kalau mereka datang ke sini lagi, anggap kamu tidak melihat mereka. Jangan pedulikan, abaikan saja, tidak apa-apa. Kamu di sini untuk calon suamimu. Kamu penyemangat anak paman ini. Kehadiranmu sangat berarti untuk dia. Ingat Baskara sangat membutuhkan kamu di sampingnya." Nasihat laki-laki paruh baya itu lagi, sembari menepuk pundak Nilam yang menunduk sedih.


Saat itu Nilam hanya bisa mengangguk patuh. Tidak terucap satu patah kata pun dari bibir mungilnya. Ia hanya berharap, semoga tidak dipertemukan lagi dengan Bu Rahma dan Utari. Ia tidak ingin keadaan canggung yang membayang di depan matanya, benar-benar terjadi nantinya.


Namun sepertinya ia memang harus diuji. Mungkin Nilam harus menunjukkan sekuat apa dirinya bisa bertahan mendampingi Bas, sehebat apa ia bisa menulikan telinga dan menutup mata, tetap menggenggam tangan laki-laki yang dicintainya itu dalam segala suasana. Ketika lingkungan di sekitar sang kekasih begitu membuatnya merasa tidak nyaman, ketika mulut pedas dan tatapan tajam calon mertua dan adik iparnya seolah menguliti diri Nilam, akankah dia tetap bisa bertahan?

__ADS_1


Nilam duduk di samping ranjang, di mana Baskara masih berbaring dengan mata terpejam. Laki-laki itu baru saja meminum obat yang dibawakan oleh perawat. Tangan yang tertancap jarum infus itu, menggenggam jari lentik milik Nilam, seolah mengisyaratkan untuk sang kekasih tidak pergi meninggalkannya.


"Mas, aku ke kamar mandi sebentar ya," bisik gadis mungil itu di samping telinga Bas.


"Ngapain? Kan tadi baru dari kamar mandi?" tanya Bas, sembari membuka matanya.


Nilam tidak bisa menjawab. Ia melempar tatapan ke sembarang arah, kecuali sofa panjang tempat di mana Utari dan Bu Rahma duduk sejak tadi.


"Tetap di sini, temani Mas."


"Mas butuh kamu di sini, bukan orang lain." Tatapan lemah laki-laki itu meluluhkan hati Nilam. Ia yang semula sempat bangkit, kembali mendaratkan bokongnya ke kursi plastik.


"Ehm!" Terdengar suara berdehem dari belakang punggung Nilam. Gadis itu sedikit terkejut, tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa saja.

__ADS_1


"Kamu boleh pulang sekarang, Nilam. Sudah ada kami di sini yang akan menjaga Bas hingga sembuh. Terima kasih sudah repot-repot meluangkan waktu untuk menemani dia semalaman." Suara tegas Bu Rahma menarik perhatian Nilam dan Baskara.


"Iya, terima kasih banyak ya, Lam. Padahal kamu orang luar lho, tapi mau menghabiskan waktu di sini." Utari ikut menimpali ucapan sang ibu.


Mereka memang bicara dengan nada rendah, tidak nampak kemarahan dari nada bicara dua wanita itu. Namun Nilam tahu, setiap kalimat yang keluar adalah sebuah sindiran untuknya.


"Nilam akan di sini nemenin aku, Bu. Aku mau dia yang rawat aku." Baskara menjawab ucapan keluarganya, sebelum Nilam membuka suara.


"Tapi di sini sudah ada ibu dan Utari, Bas. Untuk apa orang lain?"


"Dia bukan orang lain, Bu. Dia calon istriku."


"Dia sudah membatalkan pernikahan itu, Bas! Dia sudah membuat malu keluarga kita! Dia juga sudah memecah belah persaudaraan antara kamu dan adikmu! Dan jangan lupa, kamu begini juga karena perempuan ini! Untuk apa masih mengharapkan dia untuk jadi istri kamu? Di luar sana masih banyak perempuan cantik yang mau menjadi pendampingmu, yang bersedia mengabdikan dirinya untuk suami dan keluarganya. Apalagi kamu sudah memiliki segalanya sekarang. Kamu punya pekerjaan yang bagus, rumah yang sebentar lagi akan selesai dibangun, penghasilan kamu juga banyak setiap bulannya. Untuk apa kamu mempertahankan dia? Dia nggak ada apa-apanya dibanding kamu!" Suara Bu Rahma begitu keras memenuhi ruang rawat Baskara. Nilam hanya bisa menundukkan kepala, menahan sesak di dadanya karena penghinaan yang terlontar dari mulut Bu Rahma. Ingin rasanya ia pergi meninggalkan ruangan itu, tapi genggaman tangan Baskara begitu kuat menahan tubuhnya agar tetap bertahan di tempat semula.

__ADS_1


"Apapun yang aku raih hingga kini, semua demi gadis ini, Bu. Demi gadis yang begitu berarti dalam hidupku. Bagi ibu, Nilam mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi bagiku dia segalanya, Bu. Hanya dia dan keluarganya yang tidak pernah menilai buruk aku selama ini. Aku yang ibu banggakan saat ini, hanyalah pemuda sampah yang dirangkul Paman Indra dan Bibi Sukma dengan penuh kehangatan. Mereka yang tidak pernah memandang hina aku, mereka yang selalu menasihatiku selayaknya orang tua, mereka yang selalu mendengar keluh kesahku, di saat ibu dan yang lain menutup mata dan telinga kalian untukku. Jangan pernah menyakiti Nilam dengan kata-kata dan perlakuan buruk ibu. Aku tidak bisa menerimanya."


"Mas," bisik Nilam, suaranya seolah tertahan bongkahan batu hingga tercekat di tenggorokan. Ia mendongakkan kepala menatap Baskara yang berucap dengan pelan tapi penuh ketegasan.


__ADS_2