CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 151


__ADS_3

Di tengah kegelisahan Baskara memikirkan ucapan sang adik, dua pria paruh baya muncul dari balik pintu, menghentikan percakapan kakak beradik tersebut.


"Ngobrolin apa kalian? Serius sekali?" tanya Pak Brata menatap secara bergantian dua anak dari istri pertamanya itu.


Satria dan Baskara saling lirik. Lalu tanpa Bas duga, Satria mengatakan apa yang menjadi kegelisahannya pada dua paruh baya yang ada di ruangan itu.


"Mas Bas masih bingung soal mba Nilam, Pak. Gimana cara bujuknya biar mau kawin sama dia? Susah sekali yakinin Mba Nilam, katanya. Tadi bahkan Mas Bas sempat pengen pinjam pegangan bapak, tapi aku larang," ucap Satria dengan wajah serius, yang justru membuat Baskara terkejut.


Bas membolakan matanya hingga hampir keluar, menatap marah ke arah sang adik.


"Jangan sembarangan kamu bicara! Kapan aku bilang begitu?" ucap Bas marah dan panik. Ia bahkan sampai bangkit dari posisi tidurnya, dan melupakan bahunya yang masih cidera.


Sungguh candaan Satria sangat tidak lucu menurut Bas. Di sana masih ada Paman Indra, yang adalah orang tua Nilam sendiri. Bagaimana jika laki-laki paruh baya itu termakan ucapan sang adik? Satria membuat candaan dengan hal-hal yang Bas rasa pasti membuat laki-laki berpembawaan tenang itu merasa kurang nyaman.

__ADS_1


"Pegangan apa maksudmu? Ada-ada saja kau ini," kekeh Pak Brata menanggapi ucapan Satria dengan santai. Begitu pun Pak Indra yang juga ikut tertawa kecil mendengarnya.


"Jangan didengar ucapan Satria, Paman. Aku nggak ada ngomong gitu. Tau bapak punya barang-barang begitu saja, nggak." Dengan wajah memelas, Bas berucap pada Pak Indra. Meski sudah melihat reaksi Pak Indra yang nampak biasa saja, tapi Bas masih berusaha meyakinkan calon mertuanya itu.


"Yeee tadi itu apa? Yang mas bilang, bingung bagaimana laki caranya yakinin mba Nilam. Nggak usah pura-pura deh, mas!"


"Kamu ya. Awas nanti kalau aku udah sembuh!" sungut Bas menahan kesal.


"Udah-udah jangan dilanjut. Kamu itu, suka sekali bikin mas mu naik darah, ya." Pak Brata menghentikan perdebatan dua anak laki-lakinya.


"Nggak apa-apa, Bas. Paman percaya sama kamu. Paman tau kamu, bukan sehari dua hari saja, kan? Nggak usah dipikirkan ucapan adikmu ini. Mungkin dia lagi tes ombak saja, bermaksud memberi kode pada ayahmu agar memberikan apa yang dikatakannya tadi," ucap Pak Indra menepuk bahu Satria beberapa kali dengan menampilkan senyum lembutnya. Ia membela Bas dengan balik menggoda Satria.


"Ah, nggak paman. Untuk apa aku pakai begitu? Wajahku cukup tampan kok, untuk menaklukan hati wanita," sahut Satria lagi.

__ADS_1


Pak Brata dan Pak Indra kompak menertawakan Satria, sementara Bas hanya menampilkan senyum sinis mengejek.


Mereka berempat melanjutkan perbincangan dengan santai. Obrolan ke sana ke mari tanpa tema, yang berujung membahas masalah Nilam dan Bas.


Banyak saran dan masukan yang Bas dapatkan dari ayah, adik, dan juga dari Pak Indra. Bas juga menyampaikan kegelisahan yang sesungguhnya pada mereka.


Cukup lama mereka berbincang. Hal yang sangat sulit terjadi jika tidak sedang di rumah sakit.


Bas tidak mungkin datang ke rumah ayah dan ibu tirinya bersama Satria, dan berbincang lama di sana. Sebab jika sampai Bu Rahma tahu, maka wanita yang sudah melahirkan tiga anak itu akan marah dan mendramatisir keadaan.


Selama ini wanita paruh baya itu tidak pernah berniat menyatukan anak-anaknya dengan sang suami. Ia justru menciptakan keadaan yang membuat seolah-olah suaminya tidak peduli pada anak-anak dan istri pertamanya, dan lebih memilih fokus dengan keluarga baru. Itu sebabnya hubungan ayah dan anak itu seperti ada jarak selama ini.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^

__ADS_1


Jangan lupa mampir di karya yang nggak kalah seru di bawah ya, 😘😘😘



__ADS_2