CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 88


__ADS_3

Bila menggenggam dengan erat itu menyakitkan, bukankah melepas dengan ikhlas adalah pilihan?


Walaupun sulit, namun Nilam bisa benar-benar merelakan masa lalunya, hingga tidak lagi tersisa nama Pandu dalam hati gadis itu.


Pendekatan yang dilakukan Bas, sedikit banyak memberi pengaruh, hingga tidak perlu waktu lama untuknya menyembuhkan luka.


Meski saat ini hubungan mereka masih tetap abu-abu, namun Nilam perlahan sudah lebih membuka diri. Tidak lagi membiarkan canggung menghalangi kedekatan diantara mereka. Nilam menjadi dirinya sendiri, dan Bas senang akan hal itu.


Acap kali mereka menghabiskan waktu berdua, entah itu pergi berlibur atau sekadar pulang kampung bersama.


Rasa aman dan nyaman yang Bas berikan, tanpa sadar membuat Nilam semakin bergantung pada laki-laki itu.


"Kenapa diem aja dari tadi?" Tanya Nilam yang sejak tadi merasakan perubahan sikap pemuda di hadapannya itu.


"Aah? Enggak ... Biasa aja." Sahut Bas tergagap.


"Ada apa?" Tuntut Nilam, tidak percaya.


Bas diam. Hanya menatap halaman kost yang sepi.


Hari ini Nilam mendapat jadwal libur, sementara Amanda mendapat jadwal kerja pagi. Suasana di kostan itu terlihat lengang sebab sebagian penghuninya tengah beraktifitas. Hanya beberapa yang tidak bekerja, atau mendapat jadwal kerja sore, namun mereka memilih diam di dalam kamar masing-masing.


"Lam ... Mas dapet tawaran kerja di luar kota. Menurut kamu gimana?" Tanya Bas.


Nilam diam. Masih menyimak cerita Bas.


"Kan sebentar lagi pekerjaan mas di sini beres. Kalau kamu keberatan mas ke luar kota, biar mas cari kerja deket-deket sini aja." Lanjut Bas lagi.


"Kenapa aku harus keberatan, Mas? Maksud aku, nggak mungkin aku menghalangi kamu untuk mencari rejeki kan?"

__ADS_1


"Jadi nggak apa-apa kalau mas tinggal kerja ke luar kota?"


Nilam mengangguk, membuat Bas sedikit kecewa.


Ia merasa terlalu banyak berharap pada gadis itu, rupanya. Mengira Nilam akan menahannya, meminta untuk tetap tinggal di sana.


"Kapan kira-kira mas akan berangkat?"


"Setelah serah terima proyek di sini, mungkin sekitar seminggu lah." Sahut laki-laki itu.


Nilam tidak lagi menanyakan apapun. Ia memilih diam, membuat prasangka Baskara semakin melebar liar.


Mereka tidak lagi membahas masalah pekerjaan Bas, hingga laki-laki itu pergi dari kostan tersebut


Keesokan harinya.


Biasanya Bas akan mampir ke kost Nilam sebelum dia berangkat ke proyek. Namun berbeda dengan hari ini, laki-laki itu tidak muncul batang hidungnya meski jam makan siang sudah lewat setengah jam yang lalu.


Hingga ia sudah siap dengan pakaian kerjanya, Bas masih belum menunjukkan batang hidungnya. Pesan yang dikirimnya pun hanya dibaca oleh laki-laki itu membuat suasana hati Nilam semakin tidak menentu. Ingin menelepon, namun ia takut mengganggu. Jadilah dia hanya bisa menahan rasa kesalnya seorang diri.


"Woe! Kenapa mukamu cemberut begitu?" Bisik Amanda yang sejak tadi melihat wajah murung Nilam.


Gadis itu bahkan mendekati Nilam yang tengah asyik dengan aktifitasnya.


"Nggak ada," sahut gadis itu, kembali menyelesaikan tugasnya.


Mereka tidak bisa bebas berbincang, sebab Nilam dan Amanda memiliki jadwal berbeda, sehingga pekerjaan yang mereka ambil pun berbeda.


Nilam tengah membersihkan lantai dua tempat display pakaian, sementara Amanda sedang melayani tamu yang baru datang.

__ADS_1


Hingga waktu kerja Amanda berakhir, dua sahabat itu tidak lagi sempat bertukar cerita.


***


"Lam, masih lama nggak makannya? Ada tamu yang minta biar dilayani sama kamu." Panggil salah satu rekan kerja gadis itu.


Meski merasa aneh, namun Nilam tidak berpikir yang bukan-bukan.


"Tunggu sebentar Lin, aku minum dulu." Sahut gadis itu, terburu.


Tidak sampai lima menit, Nilam keluar dari gudang tempat karyawan biasa beristirahat.


Wajahnya menegang saat menyadari tamu yang berada beberapa langkah dari tempatnya berdiri.


"Ehm ... Selamat malam," sapa gadis itu dengan senyum ramahnya. Ia mencoba menahan gemuruh yang bertalu di dadanya.


Wanita dengan pakaian modis dan berkelas itu menoleh.


"Hai Nilam ... Waaah nggak nyangka ya kita bertemu lagi. Apa kabar kamu?" Tanya Laksmi berbasa-basi. Dengan menampilkan senyum manis yang dibut-buat, wanita itu mendekati Nilam yang masih berdiri di dekat pintu gudang.


"Pindah dari tempat orang tuaku, ternyata kamu tetap bekerja jadi bawahan ya ... Aku kira kamu kekeh mau berhenti karena sudah mendapat pekerjaan yang lebih baik," ucapnya, membuat Nilam menatap tidak suka pada wanita beranak satu itu.


"Maaf, mba Laksmi kemari mau cari baju yang seperti apa? Biar bisa saya bantu carikan." Nilam berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Eeh, ooh saya mau cari baju couple untuk saya dan Caca. Untuk acara tujuh bulan kehamilan Delvia. Bisa tolong kamu Carikan yang cocok untuk kami?" Laksmi tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Ia berharap bisa memancing emosi Nilam, dan membuat gadis itu mempermalukan dirinya sendiri.


"Silahkan mba, ada beberapa koleksi terbaru kami di lantai dua." Nilam masih dengan senyum manisnya mempersilahkan Laksmi untuk naik ke lantai dua.


Mungkin wanita itu mengira Nilam akan mudah terpancing, hingga ia sengaja meluangkan waktunya datang mengusik ketenangan hati mantan calon adik iparnya itu.

__ADS_1


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^



__ADS_2