CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 156


__ADS_3

Nilam menatap sinis Amanda, yang ia tahu sedang menahan tawa setelah mendengar ceritanya.


Setelah berhasil berkelit memberi penjelasan pagi tadi, gadis mungil itu tidak bisa lagi menghindar saat Amanda kembali menodongnya beberapa menit lalu.


"Nanti lah, Nda. Aku mau masak makan malam dulu," tawarnya beberapa saat lalu. Berharap nanti setelah waktu merayap semakin malam, Amanda akan lupa pertanyaan itu. Namun rupanya Amanda sudah menduga jawaban miliknya. Hingga gadis tomboy yang menjadi sahabat Nilam selama beberapa tahun ini, sudah menyiapkan amunisi hingga Nilam tidak bisa berkelit lagi.


"Aku udah pesen makanan barusan. Paling bentar lagi sampai," sahut Amanda dengan lensa mata lurus ke arah Nilam. Masih dengan tatapan yang sama, menunggu penjelasan.


Nilam menghela nafas berat. Ia memilih duduk di atas kasur single miliknya, membalas tatapan Amanda yang tersenyum penuh kemenangan.


"Mau tanya apa?" Bertanya pasrah pada akhirnya.


"Pertanyaan yang tadi pagi nggak mau kamu jawab, kamu kenal perempuan itu nggak?"


"Aku tau, tapi nggak terlalu kenal. Pernah bertemu sekali di rumah sakit. Dia itu ... Mantan pacarnya Mas Bas." Suara Nilam memelan di akhir kalimat.


"Oooh sudah kuduga ... Pantesan kamu terpancing emosi tadi ngadepin dia. Rupanya ada bara api yang memantik cemburu," seloroh gadis tomboy itu.


Nilam diam. Tidak memberi reaksi apapun. Sudah ia duga akan dijadikan bahan lelucon oleh sahabatnya.


"Ceritain, apa aja yang terjadi dari awal sampai dia datang ke sini!" titah Amanda, terlihat antusias. Sepertinya apa yang terjadi diantara Nilam, Baskara, dan gadis berambut caramel itu, begitu menarik baginya.


Disaat bersamaan, ponsel Amanda berbunyi. Rupanya makanan yang ia pesan sudah datang, dan ia harus keluar untuk mengambilnya.


"Nanti lanjut ceritanya. Aku ambil pesanan dulu," ucapnya sambil berlalu.

__ADS_1


Nilam tidak memberi reaksi apapun. Ia menatap punggung Amanda yang menghilang di balik pintu.


"Apa begitu tampak rasa cemburu itu di wajahku? Kenapa Amanda bisa mengatakan begitu?" tanya Nilam pada dirinya sendiri.


"Tapi kan wajar kalau aku cemburu. Dia calon suamiku," lanjutnya lagi sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Amanda datang dengan banyak makanan yang nampak begitu memanjakan lidah. Ada juga minuman yang sedang viral dan laris di aplikasi pesan antar.


"Banyak banget pesennya, Nda?" Takjub Nilam melihat kotak pizza, dan beberapa Styrofoam tengah Amanda tata di atas karpet.


"Sesekali manjain perut, Lam," sahutnya.


"Emang masakanku selama ini nggak manjain perut kamu?" kesal Nilam dengan tatapan menghujam.


"Nggak gitu ... Maksud aku, sesekali makan makanan luar yang manjain perut," sahutnya asal. Ia tidak benar-benar bermaksud memberi penjelasan agar Nilam tidak salah faham.


Tidak ada perdebatan lagi soal makanan. Keduanya kini fokus menikmati hidangan yang sudah Amanda beli. Sembari Nilam menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit, ketika wanita yang menjadi mantan kekasih Baskara itu datang.


Wajah menyebalkan dengan candaan konyol milik Amanda menghilang. Gadis itu nampak serius mendengar apa yang Nilam ceritakan. Bahkan sesekali ia menanggapi cerita Nilam dengan ekspresi kesal, ketika Nilam membahas prihal Bu Rahma dan Utari. Terlebih saat sang sahabat menceritakan soal Utari yang tiba-tiba membawa seorang perempuan yang ternyata adalah mantan kekasih Baskara. Amanda benar-benar terlihat emosi.


"Jadi si Utari itu bawa perempuan lain, berniat bikin kamu cemburu, gitu?" tanya Amanda sembari mengunyah nasi goreng di mulutnya.


Nilam mengangguk, membenarkan ucapan Amanda.


"Begitulah. Dia kira aku bakalan marah dan berubah pikiran, mungkin."

__ADS_1


"Trus kamu diem aja? Nggak langsung kamu gampar aja adik iparmu itu? Ngapain dia bawa masa lalu kakaknya lagi, sementara dia tau kamu ada di sana?" Amanda terlihat begitu kesal, saat mendengar cerita dari Nilam.


Ini hal kedua yang Nilam hindari, sehingga ia enggan membagi ceritanya dengan Amanda. Gadis tomboy itu pasti akan terbawa emosi, jika mendengar apa yang terjadi selama ia menjaga Bas di rumah sakit. Namun karena sebelumnya Amanda terus-terusan menggodanya, akhirnya ia yang merasa gerah mendengar komentar nyinyir sang sahabat, memutuskan untuk menceritakan semua. Tentu dengan resiko akan membangkitkan jiwa bar-bar Amanda.


"Lam! Ditanya malah bengong," sentak Amanda lagi, menarik Nilam dari lamunan.


"Trus gimana? Apa yang kamu lakuin saat itu? Jangan bilang kamu diam aja seperti biasa!" ocehnya tidak sabar. Ia sampai mengacungkan jari telunjuk yang masih terdapat beberapa butir nasi goreng ke arah Nilam.


Nilam menarik nafas sebelum melanjutkan ceritanya.


"Aku cuman senyum aja, duduk di samping Mas Bas sembari pegang tangannya. Saat itu Mas Bas nampak sangat emosi. Aku berusaha menenangkan dia, nggak enak juga ribut-ribut di rumah sakit. Itu jug yang bikin Mas Bas sekarang sering banget teleponin aku. Manja bangeet, karena takut aku bakal marah lagi."


"Trus kenapa tadi kamu nampak emosi hadepin ulat bulu itu?"


"Ya siapa yang nggak emosi coba? Jaket yang cewek itu bawa, itu tuh jaket kesayangannya Mas Bas. Trus tiba-tiba dikasih pinjam ke mantannya. Aku aja nggak pernah pakai, kok malah orang lain yang pakai?" Nilam membela diri.


"Tapi seketika aku sadar, Mas Bas kan udah nggak tinggal di rumah ibunya, jadi nggak mungkin dia yang kasih jaket itu ke Si Mantan." Kenang Nilam setelah menyadari sesuatu.


Amanda memutar matanya, merasa gemas dan geregetan pada sang sahabat.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Intip karya othor lainnya juga ya 😍😍😍


__ADS_1


__ADS_2