
Sebelumnya othor mau kasih tau kalian dulu, tahan emosi ya. Cobaannya hanya sekejap kok, 😁😁😁
Jangan lupa dukungannya, sebentar lagi mba Nilam bakalan tamat.
^_________^^_________^^_________^
Nilam memejamkan mata sejenak, sebelum memutuskan untuk mengatakan semuanya. Mungkin selama ini dia salah menutupi banyak hal yang terjadi antara dirinya dan Utari. Ia berpikir, itu adalah hal sederhana yang bisa diselesaikan dengan mengalah. Namun rupanya ia salah. Bukan selesai, masalah yang muncul justru semakin rumit.
Nilam meraih ponsel di tas selempangnya. Belum menjawab sama sekali pertanyaan dari calon suaminya itu. Ia menggulir menu dan mencari aplikasi chating yang biasa ia gunakan.
"Nih," ucapnya menyerahkan ponsel miliknya ke hadapan Bas.
"Aku nggak bisa menjadi orang yang mengadukan semua masalah, dan berharap mendapat pembelaan. Selama ini, aku berusaha menangani semua, karena aku mengira orang-orang akan sadar dengan sendirinya," ucap Nilam dengan mata menatap lurus ke depan.
Bas yang semula bingung, perlahan mengerti maksud ucapan calon istrinya. Ia men scroll dari atas, chat antara Nilam dan Utari.
"Itu baru chatnya, mas. Belum lagi omongan langsung dari mulutnya lewat telepon. Dan puncaknya hari ini. Ya, aku akui, aku membentaknya tadi pagi gara-gara masalah kain kebaya itu. Tapi tadi pagi adalah untuk pertama kalinya aku membalas ucapannya yang sudah melewati batas." Lanjut Nilam masih belum mau melihat ke arah Bas.
"Trus kenapa kamu malah berdebat sama ibu?" Suara Bas bernada rendah.
__ADS_1
Nilam menoleh.
"Apa yang sudah beliau katakan sama Mas?"
"Katanya, kamu mulai berani melawan dan membentak ibu. Ibu menangis cerita sama mas."
Nilam tersenyum sinis. Drama sekali keluarga calon suaminya itu.
"Mas percaya? Mas percaya aku membentak orang yang lebih tua dari aku?" tanya Nilam, menatap netra Baskara.
Laki-laki itu tidak menjawab. Tentu saja. Sebab ini tentang calon istri dan juga ibunya. Ia hanya bisa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Aku dididik oleh orang tuaku untuk tau batasan, Mas. Dan dari kecil aku belajar itu. Aku selalu belajar sabar, belajar mengalah, dan memaafkan. Tapi bukan berarti aku hanya bisa pasrah, ketika orang lain sudah begitu lancang melewati batasannya." Suara Nilam bergetar. Setiap kali ia ingat apa yang Bu Rahma ucapkan, rasanya amarah yang ia pendam kembali membuncah.
"Dia bilang, aku wanita yang nggak tau diuntung. Aku nggak bisa bersyukur, karena mas sudah mau menikahi aku yang ditinggal menikah sama mantan aku dulu. Dia juga bilang, orang tua aku nggak bisa ngajarin aku tata krama, karena aku udah nggak sopan berani membentak anak perempuannya, yang dia jaga dan dia sayangi sedari kecil!" Air mata Nilam mengalir tanpa bisa ditahan lagi. Sakit sekali rasanya saat orang tua yang ia hormati, dihina oleh orang yang bahkan sangat jauh adabnya.
"Begitu marahnya dia, saat aku membentak Utari karena kesalahan anak itu sendiri. Lalu bagaimana dengan kedua orang tuaku? Aku juga anak perempuan dari ibu dan bapakku, Mas! Bisa mas bayangkan bagaimana perasaan mereka jika tau semua ini? Bahkan mereka juga ikut dihina karena masalah ini," ucap Nilam.
"Jadi maaf, kalau apa yang aku katakan pada bibi Rahma, membuat beliau tersinggung."
__ADS_1
Bas membisu mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut kekasihnya. Ia benar-benar terkejut mendengar penuturan Nilam. Ingin tidak percaya, tapi yang bicara adalah Nilam. Akalnya sudah bekerja, sejak membaca rentetan chat kiriman Utari di ponsel Nilam. Sangat jauh berbeda dengan apa yang Utari dan ibunya adukan padanya.
"Benar, harusnya aku sangat bersyukur karena mas mau menikahi aku. Sebab kalau bukan karena belas kasih mas, mungkin aku tidak akan bisa berdiri lagi," sindir Nilam, dengan senyum sinisnya.
"Sayang,"
"Mungkin lebih baik memang kita harus memikirkan ulang pernikahan kita, Mas."
"Apa maksud kamu?" Bas kembali meninggikan suaranya, sebab terkejut dengan ucapan Nilam yang jauh dari dugaan.
"Ya, kita tunda saja pernikahan kita. Siapa tau mas menemukan wanita yang lebih baik dari aku. Yang sesuai dengan apa yang keluarga mas mau," ucap Nilam sambil beranjak meninggalkan Bas.
Sakit memang. Dada Nilam terasa dihimpit batu besar saat mengucap kalimat itu. Namun ini lebih baik, daripada kedepan semakin banyak jalan terjal yang harus dilewati. Ia tidak mungkin terus mengalah, dan tidak mungkin juga memaksa Bas untuk selalu membelanya.
Nilam menolak diantar ke kost oleh Baskara. Ia memilih menaiki taksi, dan mengabaikan kekasihnya itu. Pikiran Nilam benar-benar kacau. Ia tidak menyangka akan seperti ini liku-liku hidup yang harus dilewati. Namun ini harus ia selesaikan. Sebelum semua terlambat, dan hanya tersisa penyesalan.
Bas kembali ke kampung halamannya, setelah memastikan Nilam tiba di kost dengan selamat.
Laju motornya melebihi pebalap liar yang sering adu skill di jalan raya. Pikirannya kacau. Marah, kecewa, terluka, sedih, bercampur menjadi satu. Siapa yang salah dalam hal ini? Nilam, dirinya, atau ibu dan adiknya?
__ADS_1
Bersyukur Tuhan masih menjaganya, hingga ia tiba di rumah dengan selamat. Suasana sepi menyambut kedatangannya. Tentu saja, sebab waktu sudah menunjuk tengah malam.
Sebenarnya ia ingin menyelesaikan masalah saat itu juga. Namun mengingat semua orang sudah terlelap, ia terpaksa harus menahan dirinya. Besok akan dia bereskan semua yang membuat semua ini menjadi runyam.