CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 102


__ADS_3

Nilam membolakan mata, mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Nii kaaah, Mas?" tanya Nilam memastikan.


Bas mengangguk mantap.


"Tapi ...."


"Kenapa? Kamu nggak mau?"


"Bukan nggak mau, Mas. Hanya saja, apa nggak terlalu terburu-buru? Jangan membuat keputusan hanya karena pengaruh orang lain, Mas. Aku nggak mau mas Bas menyesal nanti."


"Kenapa menyesal? Ini bukan karena orang lain, sayang. Ini murni keinginan mas sendiri. Hanya saja, kejadian tadi, semakin memantapkan mas untuk segera melamar kamu." ucap Baskara jujur.


Nilam hanya dapat menundukkan kepala, merasa bersalah karena belum menceritakan semua yang terjadi.


Ia berpikir, Bas emosional saat ini, hingga mengambil keputusan dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Mas nggak marah sama aku, soal aku ketemu mas Pandu?" tanya Nilam sedikit takut. Kepalanya masih menunduk, dengan kedua tangan saling meremmass di atas meja.


Lebih baik ia membahas masalah ini, dari pada Baskara melanjutkan obrolan soal pernikahan.


"Maaf, aku belum sempat cerita sama mas Bas. Tadi memang mas Pandu datang cari aku di tempat kerja. Dan kami sempat ngobrol beberapa saat. Tapi hanya ngobrol kok, dan itu di tempat ramai." ucap Nilam jujur.


"Apa yang kalian obrolkan?" tanya Bas, menatap dalam kekasihnya, mencoba mencari celah kebohongan di mata gadis itu.


Nilam diam beberapa saat. Ia seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen di warung ibunya.


"Mas, kalau aku jujur, apa mas akan marah dan pergi ninggalin aku?" tanya Nilam takut. Obrolannya dengan Pandu, cukup sensitif, sebab menyangkut masalah rasa dan keinginan laki-laki di masa lalunya itu, untuk kembali dengannya. Meskipun Nilam sudah dengan tegas menolak, namun tetap saja ia merasa tidak enak hati pada Baskara.


"Maaas. Jangan gituuu," rengek Nilam meraih tangan Baskara.


"Trus gimana?" tanya laki-laki itu sembari tertawa kecil.


"Ya jangan marah, kan bukan aku yang salah ... Dia yang datang dan merengek minta ngobrol sama aku. Di toko banyak orang, dari pada jadi pusat perhatian, ya aku iyakan aja maunya dia."

__ADS_1


"Iya mas tau. Yang mas pengen denger itu, kalian ngobrolin apa sampai kamu diserang tadi sama wanita itu?" desak Baskara lagi.


Nilam akhirnya menceritakan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu, saat dirinya baru keluar dari butik tempatnya bekerja. Bagaimana ia bertemu dan apa saja yang ia bicarakan dengan Pandu, semua Nilam ceritakan tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


Baskara menyimak dengan penuh perhatian. Tanpa menyela atau menunjukkan wajah kesal. Laki-laki itu justru tersenyum tipis, menatap bagaimana bibir kekasihnya mengalirkan kalimat demi kalimat yang dia sudah ketahui sebelumnya.


"Eh tapi tadi, maksudnya mas udah tau, gimana?" Setelah selesai dengan penjelasanya, barulah Nilam sadar ada yang mengganjal dengan ucapan Baskara beberapa saat lalu.


"Mas ada di sana?" desaknya lagi, saat kekasihnya tidak kunjung memberi jawaban.


Bukannya menjawab, Baskara justru membalas genggaman tangan Nilam dengan lebih erat. Dia memang ada di sana. Berniat ingin memberi kejutan pada Nilam, ia pulang tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Namun langkahnya terhenti saat melihat kekasihnya berdebat dengan seseorang di depan butik. Ia pun mengikuti, saat Nilam masuk ke sebuah kafe. Dan mencuri dengar obrolan mereka di sana.


"Karena itu mas ingin segera melamar kamu, Nilam. Hari ini mungkin kamu masih teguh pendirian, tapi besok dan seterusnya? Dia cinta pertama kamu, bukan tidak mungkin perasaan itu akan muncul kembali, jika dia terus mengejar kamu. Sementara mas jauh. Mas nggak bisa kasih perhatian lebih, mas nggak bisa jaga kamu seutuhnya."


"Mas nggak percaya sama aku?" tanya Nilam sedikit kecewa.


"Bukan sama kamu, tapi sama mantan kamu. Mas rasa, dia bukan laki-laki yang dengan mudah mau menyerah. Mas benci mengakui ini, tapi kenyataannya begitu. Mas melihat ada banyak cinta dan penyesalan yang menggerogotinya, yang bisa saja melumpuhkan akal sehatnya."

__ADS_1


Nilam tidak lagi bisa menjawab. Ia kehabisan kata dan tidak bisa berpikir untuk saat ini. Bukan lamaran yang seperti ini yang ia mau. Bukan karena rasa curiga atau pun persaingan. Dia bukan objek rebutan. Ia ingin dilamar, karena Bas menginginkan dirinya, dan merasa sudah waktunya mereka melangkah bersama.


__ADS_2