
Haii, aku datang lagi. Sebelumnya mohon maaf ya, baru bisa lanjutin kisahnya NilBas, sebab kegiatan di dunia nyata nggak bisa ditinggalkan. Mohon dimaafkan y para readers yang baik hati 😘😘😘
^_________^^_________^^_________^
Tidak ada yang baik-baik saja, ketika menghadapi perpisahan. Pasti ada sesak dan sakit yang memaksa menyelusup ke dasar hati. Meredupkan senyum dan menggelapkan dunia bagi yang menjalani.
Setelah beberapa saat mencoba, rupanya Nilam tidak mampu membujuk hatinya agar nampak baik-baik saja. Setiap tanah yang ia pijak rasanya penuh duri yang menusuk, membuatnya meringis sakit. Begitupun udara yang ia hirup, seakan oksigen enggan mendekatinya, dan justru berganti karbondioksida memenuhi paru-parunya. Menyesakkan, hingga rasanya ia enggan bernafas.
Perpisahan ini memang keinginannya, tapi tidak bisa dipungkiri jika ia pun terluka oleh keputusan yang diambilnya.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kamu menyiksa diri seperti ini, Lam?" tanya Amanda jengah. Gadis itu duduk di kursi plastik, di samping mesin jahi Nilam.
"Udah dua minggu lho kamu kayak zombie gini? Nggak kasihan sama tubuhmu sendiri? Jangan egois lah jadi orang!" Dengan wajah kesal yang tidak ingin disembunyikannya, Amanda menatap Nilam yang tengah duduk termenung di teras depan kamarnya.
Namun seolah sedang menikmati dunianya sendiri, Nilam sama sekali tidak menanggapi ocehan sang sahabat. Ia masih setia memeluk lutut, seraya menyandarkan kepala pada pilar beton berlapis cat putih di belakangnya.
Amanda yang merasa ucapannya kembali sia-sia, hanya bisa mendengus kesal seraya menghentakkan kaki meninggalkan Nilam sendirian.
Nilam melirik punggung gadis tomboy itu, menggunakan ekor matanya. Namun ia sama sekali tidak berniat memanggil nama Amanda. Membiarkan begitu saja sang sahabat mengumpat karena kesal atas sikapnya. Ia masih ingin menikmati patah hati yang ia ciptakan sendiri, dengan membatalkan pernikahan yang hampir 80% selesai persiapannya. Ia masih ingin meresapi apa yang sebenarnya terjadi pada hidupnya saat ini.
__ADS_1
Menyesalkah dia? Mungkin. Sebab hatinya sudah bertaut begitu dalam pada sosok Baskara. Laki-laki berkulit coklat, dengan tatapan mata meneduhkan hati yang selama ini selalu hadir menemani mimpi Nilam. Namun lebih dari rasa sesal itu, ia merasa sangat bersalah pada keluarganya. Sebab karena keputusan sepihaknya, sang ayah sampai jatuh sakit.
Tidak dapat dipungkiri, langkah yang ia ambil menciptakan kerenggangan di antara kedua keluarga. Dan sudah bisa dipastikan, Bu Rahma pasti sudah membuat berita yang menyudutkan dirinya di kampung halaman mereka.
"Lam!" Kembali suara melengking Amanda menyapa telinga Nilam. Kali ini dengan membawa ponsel miliknya yang beberapa saat lalu masih ia isi daya di meja dekat tempat tidur.
"Dari tadi juga dipanggil nggak nyaut-nyaut! Hape kamu bunyi terus nih!" sungut Amanda mengulurkan tangan dengan ponsel di genggamannya.
Nilam menerima benda pipih yang disodorkan sang sahabat. Tanpa berkata apapun, hanya sekilas melihat mata Amanda sebagai ungkapan terima kasih. Ia lalu memeriksa riwayat panggilan, yang ternyata berasal dari sang kakak laki-laki.
__ADS_1
Dengan lesu gadis itu menghubungi kembali nomor Surya, menanyakan tujuan apa yang membuat sang kakak menghubunginya. Dan mata Nilam langsung membola ketika mendengar ucapan ayah dua anak itu dari seberang. Nilam segera bangkit, dan berlari dengan panik menuju kamarnya. Tanpa Nilam sadari air matanya menetes tiada henti membasahi pipi seputih pualam miliknya.
"Ada apa, Lam?" tanya Amanda tidak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya, saat melihat wajah panik Nilam.