CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 87


__ADS_3

Nilam hanya bisa menundukkan kepala mendengar ucapan Baskara. Ia pun hanya bisa pasrah membiarkan tangannya nyaman dalam genggaman laki-laki itu.


Mereka berdua sama-sama diam beberapa saat. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


Tidak mungkin merek membahas hal yang sama berulang kali, bukan?


Bas menunduk, memainkan jari tangan Nilam yang masih ia tahan dalam pangkuannya.


"Ehm ...." Suara deheman dari depan pintu kamar mandi, mengejutkan keduanya. Nilam dengan cepat menarik tangannya dari pangkuan Bas, sementara laki-laki itu hanya menoleh sesaat lalu kemudian bersikap biasa lagi.


Amanda yang memergoki itu, berusaha menahan senyumnya. Kembali melanjutkan aktifitas yang belum selesai.


Sembari mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah, gadis tomboi itu bernyanyi dengan santainya. Sesekali ia melirik ke arah Nilam dan Bas, yang duduk di atas ranjang.


"Dari awal aku curiga, kalian punya hubungan. Tetapi ternyata kalian na nana Nana na nana ... .... Wo o, kamu ketahuan pegangan tangan, malu-malu kucing, kepergok aku ... Wo o kamu ketahuan, suka-sukaan, tapi gak mau ngaku sama diriku ...." Amanda menyindir pasangan yang tengah dalam masa pendekatan itu, dengan lagu terkenal, yang ia ubah sendiri liriknya.


Tanpa gadis itu sadari, sebuah bantal melayang ke arah kepalanya, saat ia tengah asyik bernyanyi sambil membongkar tasnya kembali, entah untuk mencari apa.


"Aauuu, sakit tau" ucapnya marah ke arah Nilam dan Bas.


"Berisik banget sih jadi orang. Suara jelek begitu, segala dipamerin." Tersangka pelempar bantal itu berkomentar pedas pada Amanda. Siapa lagi kalau bukan Baskara.


"Biarin wleee, yang pentin happy." Sahut Amanda acuh.


"Mas ... Udah," Nilam menengahi perdebatan antara Baskara dan Amanda. Ia merasa pusing melihat tingkah dua orang yang seperti kucing dan an*ing itu.


"Ngapain dia ke sini Lam?" Akhirnya Bakara menanyakan tujuan Amanda, yang datang secara tiba-tiba itu.


"Ituuu, dia mau lamar kerja di butik juga mas. Biar samaan sama aku. " Sahut Nilam, yang juga baru sadar, jika Bas tidak tahu niat Amanda datang ke kostannya dengan membawa banyak barang.


"Lam, aku mau keluar dulu sebentar ya ...." Amanda berpamitan pada sahabatnya.


"Mau kemana Nda?"

__ADS_1


"Mau cari angin segar, nggak betah jadi obat nyamuk, jagain orang pacaran."


"Udah pergi sana, ganggu aja." Bukan Nilam yang menjawab melainkan Bas.


"Mas," Nilam yang merasa tidak enak pada sahabatnya, menepuk paha Bas, agar tidak kelewatan dalam berucap.


Namun sepertinya Amanda tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Baskara. Gadis itu terlihat acuh, menganggap angin lalu apa yang terlontar dari mulut Baskara.


"Kamu mau nitip apa Lam? Sekalian aku mau cari makan untuk nanti malam." Amanda yang sudah siap dengan jaketnya, mendekati Nilam yang masih betah duduk di atas tempat tidur.


"Mmm apa ya, aku lagi nggak pengen apa-apa," Nilam menjawab dengan wajah lesunya.


"Dipaksain Nilam ... Biar cepet sembuh, biar besok bisa kerja."


"Beliin bubur ayam aja, Manda." Sahut Bas, yang buru-buru dibantah oleh Nilam.


"Nggak mau bubur ayam, bosen mas ...."


"Apa ya?" Nilam bingung, sebab memang ia tengah kehilangan na fsu makannya.


Jika boleh, gadis itu ingin memilih untuk tidak memakan apapun malam ini. Tapi kalau niat itu ia utarakan, tentu Bas akan memarahinya. Terlebih saat ini ada Amanda yang meski terlihat cuek, namun sebenarnya, dia gadis yang paling khawatir jika Nilam sakit. Gadis tomboi itu pasti akan ceramah panjang lebar, jika ia tidak memakan apapun.


"Ok, aku tau. Nanti aku beliin makanan enak buat kamu. Nunggu kamu mikir, keburu tutup semua warung makannya." Ucap Amanda tidak sabar.


Gadis itu segera beranjak keluar, meninggalkan Nilam dan Baskara.


"Antik sekali teman kamu itu." Komentar Bas, setelah mendengar suara motor Amanda menjauh.


"Mas Bas pikir, Amanda itu guci kuno? Hati-hati lho suka julidin orang. Nanti jatuh cinta, lagi." Ucap Nilam sembari bangkit dari atas tempat tidurnya.


"Mau kemana?" Bas dengan sigap menahan tangan Nilam, agar gadis itu tidak bergerak lagi.


"Kamar mandi, mas ...."

__ADS_1


"Oohh ...." Ia akhirnya melepaskan gadis itu dari cengkraman tangannya.


Nilam hanya menggelengkan kepala, sambil melenggang menuju kamar mandi.


***


Pagi ini, suasana kamar Nilam tidak lagi sepi seperti biasanya. Ada Amanda yang memiliki seribu kata untuk ia ucapkan sejak baru membuka mata.


"Lam, kamu mau makan ini lagi, atau mau sarapan apa?" Gadis itu menunjukkan bawal kremes yang masih tersisa setengahnya, pada Nilam.


"Melempem nggak itu, Nda?"


"Nggak sih, cuman nggak garing lagi tepungnya." Sahut Amanda, setelah mencobanya.


"Ck, itu maksudku ...." Sungut Nilam, mendekat ke arah dapur, dimana Amanda tengah berdiri di sana.


"Digoreng lagi enak nggak ya?" Nilam bergumam sambil ikut mencicipi ikan bawal yang kemarin ia simpan di kulkas.


Tubuh Nilam sudah lebih sehat, sudah tidak merasakan pusing dan terhuyung jika bangun dari tempat tidur. Hanya saja, ia masih merasakan lemas dan sakit pada persendiannya.


"Mau ngapain?" Tanya Amanda saat melihat Nilam bergerak mendekati rak perabot.


"Goreng itu, bawalnya. Kalau hangat kayanya enak."


"Udaaah, aku aja. Kamu diem aja, biar besok bisa kerja. Hari ini kamu udah nggak bisa temenin aku, besok harus bisa kerja barengan sama aku." Ucap Amanda.


Gadis itu meraih wajan yang dipegang oleh Nilam.


"Lagian, kemarin pangeran kamu nitipin kamu, sama aku. Kata dia jangan sampai kamu kelelahan lagi." Ucap Amanda mencebikkan bibirnya.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


__ADS_1


__ADS_2