
Nilam sebisa mungkin menjalani harinya seperti biasa. Mencoba mengesampingkan urusan hati, dan fokus pada pekerjaan yang syukurnya hari itu cukup banyak, sehingga pikirannya teralihkan. Namun sayangnya hal itu tidak berlangsung lama seperti harapannya, sebab setelah selesai menghabiskan bekal makan siang, Nilam yang hendak kembali beraktivitas, berhenti sejenak karena telpon dari orang tuanya.
Ia menarik nafas lelah, sudah tahu apa yang akan mereka bicarakan. Namun seperti biasa, sikap santun yang sudah tertanam sejak kecil, membuatnya tidak berani mengabaikan telepon tersebut.
"Halo," sapanya dengan pelan.
"Lam, kamu lagi kerja, Nak?" suara tenang sang ayah menyapa pendengarannya.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Nilam.
Terdengar hembusan nafas sedikit kasar dari seberang.
"Lanjutkan saja dulu kalau begitu. Nanti kalau sudah sampai di kost, tolong kabari bapak."
"Ada apa, Pak?"
"Nanti saja. Kamu lanjutkan saja dulu pekerjaannya, ya. Hati-hati."
Sambungan telepon di putus oleh Pak Indra. Namun bukannya bernafas lega, pikiran Nilam justru semakin rumit.
Gadis itu kembali lesu, sebab pikirannya terseret kembali pada masalah yang tengah ia hadapi. Rasanya Nilam ingin bersembunyi ke suatu tempat, di mana tidak ada orang yang bisa menemukannya saat ini. Ia benar-benar merasa gundah.
Waktu berlalu begitu cepat, tetapi membosankan bagi Nilam. Ia tiba di kostan, dan langsung membersihkan diri. Membasahi seluruh tubuh hingga kepala, mencoba mencari rasa nyaman di sana. Namun nihil. Segala masalah yang menumpuk dan enggan ia ingat, berlomba mendesak di kepalanya. Berdengung, membuatnya merasa frustasi. Selemah ini kah dia? Hanya karena urusan asmara, dunianya seakan suram tanpa warna.
Dering ponsel yang semula ia letakkan di atas kasur, menghentikan gerak tangan yang tengah mengusapkan body cream ke seluruh tubuh. Ia mendesah. Waktunya sudah tiba. Dengan malas ia menerima panggilan tersebut.
"Halo, Pak."
__ADS_1
"Lam, sudah di kost?"
"Sudah, Pak."
"Masih sibuk, Nak?"
"Nggak kok, Pak. Ini baru habis mandi. Lagi santai," sahutnya berbohong. Jelas bohong, sebab sejatinya meski raganya tidak beraktivitas, namun hati dan pikirannya begitu sibuk dengan segala kemelut yang ada.
"Bapak lagi apa?" Nilam balik bertanya.
"Nggak lagi ngapa-ngapain. Duduk di taman belakang, liat koi berenang," sahut Pak Indra dengan kekehan kecil.
"Ada apa, Pak?" Nilam kembali bertanya, kali ini suaranya lebih serius. Ia ingin menghentikan basa-basinya dengan sang ayah.
Hening sesaat.
Pak Indra belum menjawab pertanyaan anaknya. Mungkin laki-laki itu tengah merangkai kata yang tepat. Hanya terdengar hembusan napas kasar, yang menandakan betapa masalah yang Nilam hadapi juga menjadi beban pikirannya sebagai seorang ayah.
"Lam, apa benar kamu membatalkan pernikahan kamu dengan Baskara, Nak?" tanya Pak Indra akhirnya.
"Iya, Pak," sahut Nilam lemah.
"Kenapa sampai memutuskan hal sebesar itu dalam keadaan emosi, Nak?"
"Aku nggak lagi emosi kok, Pak. Aku sudah memikirkan semuanya."
"Berapa lama kamu memikirkannya?"
__ADS_1
Nilam diam. Tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya. Berapa lama ia memikirkan masalahnya dengan Bas? Bukankah sebelumnya ia dan kekasihnya itu baik-baik saja? Bahkan paginya mereka masih sempat saling bertukar kabar.
"Lam, pernikahan bukan sesuatu yang bisa kamu permainkan. Ini menyangkut orang banyak, bukan hanya kamu dan Baskara saja. Jangan gegabah mengambil keputusan, sebab bisa berpengaruh pada hubungan keluarga."
"Lalu aku harus gimana, Pak? Melanjutkan semua meski hatiku belum siap dengan keadaan yang ada?"
"Bukankah kamu sudah tau seperti apa keadaannya, jauh sebelum rencana pernikahan itu?"
"Itulah salahku, Pak. Aku terlalu sombong. Mengira akan sanggup menyelesaikan semuanya. Menggampangkan masalah, tanpa berpikir jika semua akan menghabiskan banyak energi untuk menghadapinya. Aku yang salah, karena terlalu cepat menerima lamaran Mas Bas." Air mata Nilam jatuh tanpa bisa dicegah lagi . Ia menangis, menyesali semua yang telah terjadi. Tangisnya begitu pilu, dengan sang ayah yang setia menjadi pendengar.
"Maafkan bapak, Lam. Karena sudah memaksa kamu menikah dengan laki-laki pilihan bapak," ucap Pak Indra lemah. Merasa sedih dan menyesal ketika mendengar tangisan sang putri yang bahkan tidak dapat ia peluk dan tenangkan saat ini.
"Nggak Pak! Nggak gitu! Ini bukan salah Bapak, bukan salah siapa-siapa. Ini salah aku, karena yang menjalani adalah aku. Aku nyaman dengan Mas Bas. Aku menyayanginya dengan tulus, Pak. Dia memperlakukan aku dengan sangat baik. Tapi di balik itu, aku harus menghadapi keluarganya. Mereka sangat jauh berbeda dengan kita, Pak. Rasanya aku nggak sanggup setiap hari harus menghadapi Bu Rahma dan Utari." Masih dengan suara bergetar, Nilam menjelaskan perasaannya.
Lagi-lagi terdengar helaan nafas kasar di telinga Nilam. Pak Indra merasa sulit membujuk anaknya. Ia juga tidak berani memaksakan keinginannya, karena ini semua menyangkut kebahagiaan Nilam.
"Lalu mau kamu sekarang, apa? Apa semua harus berakhir begitu saja? Apa kamu nggak kasihan sama Baskara? Apa kamu tidak bisa melihat perjuangannya untuk membahagiakan kamu?"
"Aku berharap ada jalan keluar terbaik, Pak. Yang nggak nyakitin Mas Bas, tapi juga nggak nyakitin aku. Kalau seperti ini, aku takut lama-lama hubungan kami tidak sehat. Biarkan Mas Bas menentukannya sendiri. Kalau dia masih ingin mempertahankan aku, itu berarti dia harus bisa tegas pada ibu dan adiknya. Kalau dia lebih memilih mendengar ibu dan adiknya, itu berarti dia harus rela melepaskan aku," ucap Nilam.
"Kenapa kamu memberikan dia pilihan yang begitu sulit? Jangan memisahkan dia dengan keluarganya, Nak! Itu nggak boleh!"
"Aku nggak memisahkan, Pak. Aku hanya ingin dia tegas. Dan mumpung ini belum dimulai, aku mau semuanya jelas terlebih dulu. Apa yang boleh dan tidak boleh aku langgar, apa yang boleh dan tidak boleh keluarganya langgar, semua harus jelas."
"Lam, pernikahan bukan proyek bisnis. Pernikahan adalah penyatuan dua anak manusia yang melibatkan keluarga. Saling menyayangi, saling menghormati, sama-sama mau mengalah dan menurunkan ego. Yang bermain adalah perasaan, bukan logika."
"Justru karena itu aku nggak mau, Pak. Sebab yang aku hadapi adalah orang yang nggak punya kesadaran itu. Aku nggak bisa menggunakan rasaku pada orang yang nggak memiliki perasaan."
__ADS_1
Dalam hati ia meminta maaf pada sang ayah, sebab untuk pertama kalinya ia mendebat pria yang sangat ia hormati itu. Namun ini semua harus ia lakukan, sebab ini menyangkut masa depannya. Ia ingin menikah sekali seumur hidup, dan tidak ada penyesalan di kemudian hari.
"Terserah kamu saja, lah. Bapak hanya berharap kalian bisa menyelesaikan dengan baik. Ingat, Nak. Mencari suami yang sempurna seratus persen itu tidak mungkin, sebab kamu juga bukan manusia sempurna. Bagi bapak, Baskara adalah laki-laki yang tepat, yang bapak percaya bisa menjaga kamu. Soal keluarganya, tidak ada seorangpun, yang bisa memilih mau dilahirkan di mana. Siapa ibunya, siapa ayahnya, siapa keluarganya, itu semua bukan pilihan dia. Jangan kamu tutupi semua kebaikannya, jangan kamu hapus semua nilai dirinya, hanya karena dia ada di keluarga seperti apa. Itu tidak adil untuk Baskara, Nak."