
"Rebecca.. Alexander?"
Zenya terbelalak kala mendengar nama belakang dari gadis yang sedang mencari masalah dengannya itu,
"Cristhopan mempunyai seorang adik perempuan?" Batinnya
"Hey! Kau dengar aku tidak?" Bentak Rebecca sambil menjentik-jentikkan jarinya di depan wajah Zenya,
"Tentu aku dengar" Zenya mencoba agar terlihat biasa saja,
"Kau! Sungguh mempunyai nyali yang besar!" Rebecca melipat tangannya di dada,
Zenya tak bergeming, Ia menelan saliva nya dengan susah payah,
"Astaga, Dia sungguh membuatku ingin mengamuk disini" Rebecca menengadahkan wajahnya dengan mata yang tertutup, Safir mencoba menarik tangannya,
"Rebecca, Kau yakin akan memprovokasi gadis ini? Kau tidak takut dengan kakakmu?" Bisik Safir,
"Kau yakin akan membuat masalah dengan gadis ini?" Pekiknya dengan suara pelan
"Kau sungguh berpikir aku takut pada gadis ini? Kau meremehkan aku, Safir?!" Rebecca membulatkan matanya,
"Owh, No, no, I didn't mean that! Come one! I'm your best friend" Jawab Safir sedikit terkejut,
"Aku hanya mengkhawatirkanmu, Kau tahu kan, Kak Cristhopan paling benci dengan orang yang menyentuh orang-orang atau barang miliknya, Aku takut dia akan marah padamu, dan kau pasti tahu marah dia itu seperti apa" Safir mencoba menjelaskan maksudnya yang mengkhawatirkan Rebecca,
"Aku tidak yakin kalau kakakku akan marah padaku hanya karena seorang gadis tak tahu malu sepertinya. Sudah! Kau jangan ikut campur, Aku merasa terhina karena dia sudah mencoba menggunakan kakakku untuk mencapai tujuannya, Sama saja seperti ia memeras keluarga Alexander!"
"Apa kau puas sudah menggunakan kakakku untuk mencapai tujuanmu?" Rebecca mendorong bahu Zenya,
"Apa maksudmu?" Zenya memegang bahunya, Sorot matanya menajam,
"Cih, Berani kau menatapku dengan tatapan seperti itu! Sepertinya kakakku sudah sangat memanjakanmu! Hari ini, Aku akan membantunya untuk mendisiplinkanmu dasar gadis jalangg!!" Rebecca sudah mengangkat tangannya, ia hendak melayangkan pukulan yang cukup keras, Namun Zenya segera menghindar,
Rebecca semakin kesal karena pukulannya meleset, Ia segera menarik rambut Zenya yang terurai panjang.
"Kau pikir kau bisa seenaknya bersikap seperti itu padaku, Aku tidak akan sungkan padamu walaupun kau sudah pernah tidur dengan kakakku, Kau sangat menjijikkan! Aku sudah menemukan puluhan wanita yang sepertimu! Jangan bangga karena sudah pernah berada di samping kakakku, aku yakin kau hanya mainannya, budak pemuas nafsunya!" Rebecca meracau kesana kemari
"Kau ini kenapa?! Aku tidak kenal padamu! Dan aku tidak tahu siapa kakakmu! Apa kau sudah gila!" Zenya mencoba melepaskan cengkeraman tangan Rebecca
__ADS_1
"Cih! Sudah tertangkap basah masih saja tidak mau mengaku dasar jalangg!!"
"Aaawwhh!!" Zenya meraung kesakitan, Safir dan semua orang yang berada di kantin tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa di bilang Rebecca adalah kasta tertinggi di kampus itu, Tidak ada yang berani membuat masalah dengannya, Baik itu pria maupun wanita.
"Kau! Kau sudah memanfaatkan kakakku kan?" Rebecca masih terus meracau begitu
"Siapa kakakmu? Apa kau gila menanyakan hal yang sama sekali tidak aku ketahui?!" Zenya masih tidak mau mengakuinya,
"Dasar gadis ******!! Membuatku terlihat seperti orang bodoh! Rasakan ini!!" Rebecca mendorong Zenya dan dengan sengaja membenturkan kepalanya ke meja makan yang ada di kantin, Semua orang terkejut termasuk Safir
"Rebecca! Tahan emosimu, Ini masih di kampus!" Safir segera menghampiri
"Persetann dengan kampus! Gadis ini sudah sangat tidak memandangku! Kau pikir aku pantas di hina begini?" Safir menjadi sasaran amukan Rebecca,
"Iya, Aku tahu kau terhina, Tapi lihat! Gadis itu!"
Zenya sudah terkulai lemas, Dahinya mengeluarkan cairan darahh yang merah dan segar,
"Kau! Kau sama gilanya dengan lelaki itu" lirihnya stengah sadar
"Apa? Kau baru saja mengumpat?" Rebecca mendekat lagi ke arah Zenya,
"Kau lebih baik kembali ke kelas, gadis ini biar aku yang urus" Safir menepuk pelan bahu Rebecca,
"Tidak! Aku akan memberikan pelajaran yang sangat berharga untuknya hari ini juga" Rebecca mulai melancarkan aksinya lagi,
"Stop!" Ia menolah ke arah sumber suara
"Rebecca! Kau sudah gila?!" Laki-laki yang bernama Vincent itu muncul kembali, Rebecca setengah tersentak karena kedatangannya
"Apa yang kau lakukan? Menindas orang lagi? Tak cukup mahasiswi yang bersekolah disini menjadi sasaranmu, Sekarang seorang tamu pun sudah menjadi incaran mu? Kau pikir bagaimana aku harus menutupi reputasi mu lagi?" Vincent sengaja memarahi Rebecca di muka umum, Wajahnya kini sudah merah padam
"Kakak! Kau memarahiku didepan umum juga karena gadis ini?" raut wajah Rebecca terlihat sangat marah.
"Apa maksudmu? Ini bukan soal dia atau siapa, Ini soal kelakuanmu yang sudah kelewat batas!" Vincent mendekat
"Untuk apa kau mendekat?!" Rebecca beringsut mundur,
"Segera pulang atau aku tidak akan menjadi pelindungmu lagi, Setelah kakek tahu apa yang sudah kau perbuat di luar, Ia pasti akan marah besar!" Vincent mengancamnya,
__ADS_1
"Kau pikir aku akan takut? Kakek sangat menyayangiku, Tidak mungkin dia akan menghukumku!" Rebecca sudah melipat tangannya di dada
"Tapi, Kau sudah merusak citra keluarga Alexander! Kau berandalann kecil! Aku akan mengadukan semuanya. Setelah itu, Akan ada banyak alasan untuk kakek memarahimu!" Terdengar seperti ancaman yang sangat kekanak-kanakkan, Namun hal itu bisa membuat Rebecca gentar,
"Kau!" Pekiknya, Raut wajahnya sudah memperlihatkan gurat kecemasan,
"Apa kau melakukan ini karena dia?" Rebecca menatap tajam ke arah Zenya yang sudah terkulai lemas, Masih belum ada yang berani membantunya,
"Bukan! Karena aku peduli padamu!" Vincent terlihat sangat meyakinkan,
"Baiklah, Aku akan memegang ucapanmu, Aku akan pergi, Tapi jika sampai aku mengetahui kalau kau perduli padanya, Aku akan lebih marah!" Rebecca melenggang pergi tanpa merasa bersalah sedikitpun, Safir tak berani berbicara disaat dua kakak beradik tersebut beradu argumen, Iapun mulai mengekor saat Rebecca berlalu dari kantin.
"Segera bantu dia" Perintah Vincent pada orang-orang yang tengah menyaksikan,
Mereka segera membopong tubuh Zenya yang sudah lunglai, Vincent mengikuti mereka dari belakang,
"Segera obati lukanya, Ia terlalu banyak mengeluarkan darah" Perintah Vincent pada petugas kesehatan yang sedang bertugas, Mereka segera melaksanakan perintah Vincent, Vincent berdiri tak jauh dari tempat tidur Zenya, Ia menyaksikan proses pengobatan Zenya,
"Dasar bajingann tak berpendidikan" Gumam Zenya yang sudah tak sadarkan diri,
"Dia mengumpat?" Batin Vincent
"Kau dan adikmu sama saja, Kalian iblis!" Racaunya yang terdengar kurang jelas
Proses pembalutan lukanya sudah selesai, Vincent duduk di ujung ranjang, dengan tangan yang sudah terlipat di dada,
Berulang kali Zenya bergumam, ada yang terdengar jelas dan ada yang tidak, Vincent mengulum senyum kala mendengar racauan itu.
"Kau iblis, Cristhopan!!" Zenya tiba-tiba berteriak, Vincent sedikit tersentak
"Cristhopan? Dia mengenal kakak?"
°°°°°°°°°°°°•••••••••••°°°°°°°°°°••••••••••••••°°°°°°°°°°°°••••••••••
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~
Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.
Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~
__ADS_1
Terimakasih~