
Nilam menggeliat sembari mengucek matanya yang terasa perih. Amanda terus menggoyang bahunya membuat tidur nyenyak gadis itu terganggu.
"Apa sih, Ndaaaa? Ya ampuuun ... Boleh kali aku tidur duluu," keluh Nilam memperbaiki posisi tidurnya.
"Iiish anak ini! Udah siang woee! Kau nggak kerja?" Amanda meninggikan volume suaranya, berharap bisa membangunkan sang sahabat. Dan itu berhasil. Meski mata Nilam masih sulit dibuka, namun Amanda berhasil membuat gadis itu terduduk, saat ini.
"Mandi dulu sana! Sarapannya udah aku siapin." ucap Amanda lagi sambil bersiap memakai riasan di wajahnya.
"Nda, nggak boleh apa aku tidur sebentaaar lagi? Kepala aku pusing banget," keluh Nilam, menyandarkan kepalanya di tembok. Ia ingin sekali merebahkan tubuh, namun nanti pasti Amanda akan menarik tangannya. Dan itu malah akan membuat dia semakin pusing.
"Mangknya jangan sok-sokan begadang! Seminggu ini kamu kerja romusha udah kaya dijajah Belanda aja. Belum lagi kemarin. Kamu kemana sih? Kok tadi subuh baru pulang?" Amanda bukan memberi solusi, tapi justru mencecarnya dengan ceramah dan pertanyaan.
"Nanti aja aku jelasin. Pala aku benar-benar sakit ini," Nilam tidak tahan lagi. Ia kembali membawa kepalanya ke atas kasur. Meringkuk seperti binatang kaki seribu yang sedang melindungi diri.
Amanda mendekat, memeriksa suhu tubuh sahabatnya itu, untuk memastikan apakah Nilam demam atau tidak.
"Kepala aku aja yang sakit, Ndaaa. Aku nggak demam," reaksi Nilam, menjauhkan tangan sang sahabat.
"Kamu beneran pusing? Nggak kerja sekarang? Aku belikan obat dulu ya,"
Nilam tidak menjawab pertanyaan Amanda. Ia memilih untuk terus memejamkan mata, sebab ia merasa kepalanya seperti mau pecah. Bahkan saat dia duduk barusan, rasa mual ikut menyerangnya.
Amanda segera keluar mencari apotek yang sudah buka.
Tidak menunggu lama, gadis itu datang dengan membawa bubur ayam serta obat dan vitamin.
"Lam, bangun dulu. Makan buburnya dulu, mumpung masih anget."
"Tar aja, Nda. Aku mual,"
"Ck. Sekarang Lam! Kamu mau nahan sakit itu terus-terusan?" omelnya, mendekatkan mangkuk ke arah sang sahabat.
Nilam terpaksa membuka mata.
"Mual banget aku, Ndaaa" keluh Nilam lagi.
"Iya tau, tapi harus dilawan. Makan dikit aja, biar nanti bisa minum obat."
__ADS_1
Amanda membantu Nilam untuk bangkit. Ia membawa bantal ke pangkuan sahabatnya, untuk dijadikan alas mangkuk bubur ayam yang ia bawa.
Nilam memakan hanya beberapa suap saja,
"Udah, Nda. Aku nggak kuat lagi."
"Ya sudah, minum dulu." Gadis tomboy itu menyodorkan gelas berisi air hangat dan obat untuk Nilam. Ia juga membereskan mangkuk bekas makan Nilam, dan meletakkannya di dapur.
"Habis ini kamu istirahat aja, biar nanti aku mintakan ijin sama bos. Nggak apa-apa kan aku tinggal kerja?"
"Nggak pa-pa. Makasih ya, Nda."
Nilam kembali berbaring.
Amanda yang sudah siap berangkat, teringat akan sesuatu.
"Lam, jangan lupa hubungi yayangmu. Tadi subuh dia telepon aku, nanyain kamu."
"Hah? Kok dia telepon kamu, bukan aku?" tanya Nilam membuka mata.
"Ya mana aku tau? Mangknya sekarang telepon dia! Jelasin tuh! Kamu kelayapan kemana kemarin itu?"
"Tolong ambilin ponsel aku donk, Nda. Di tas," pinta Nilam.
Amanda mengambilkan ponsel yang dayanya sudah hampir habis itu untuk Nilam. Bersyukur colokan ada di atas meja samping tempat tidur mereka, sehingga Nilam bisa mengisi daya sambil berbalas pesan dengan kekasihnya.
"Udah ya, ada yang mau aku ambilkan lagi nggak? Ke kamar mandi? Bisa sendiri?" tawar Amanda lagi, namun dengan wajah menyebalkan.
"Kamu antara mau bantuin sama nyindir, beda tipis ya?" kesal Nilam.
Amanda tertawa kecil.
"Berarti nggak ada lagi, aku berangkat dulu ya,"
"Ya ti-ati, Nda."
Setelah Amanda pergi, Nilam segera menghubungi kekasihnya. Beberapa panggilan tidak terjawab serta chat yang belum sempat ia baca, menandakan jika Bas mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Baru di dering pertama, panggilan itu sudah langsung disambut oleh Bas.
"Halo, sayang?" Suara laki-laki yang dirindukannya menggema, memenuhi hati Nilam.
"Mas," panggil Nilam lemah.
"Kamu kenapa? Lagi sakit?"
"Iya,"
"Udah minum obat?"
"Udah barusan. Manda yang beliin,"
"Ya sudah, istirahat dulu ya," sahut Bas lagi.
Wajah Nilam berubah kesal.
"Sibuk banget ya? Sampai nggak ada waktu buat ngobrol?"
"Maksudnya? Kan kamu lagi sakit?"
"Terserah lah, matiin aja."
"Lho kok jadi marah? Harusnya mas donk, yang marah sama kamu. Nggak ada kabar, pulang subuh, sendirian,"
"Mas mata-matain aku?! Mas nggak percaya sama aku?" sergah Nilam cepat.
"Lho, siapa bilang nggak percaya? Mas nggak mata-matain,"
"Udah, matiin aja mas. Aku pusing."
Nilam yang merasa kepalanya masih pusing, kini menjadi semakin sakit akibat perdebatannya dengan Baskara beberapa saat lalu. Ia mengabaikan panggilan yang masih tersambung, dan memilih menutup kepalanya dengan bantal, berharap bisa meringankan rasa sakitnya.
Tanpa terasa air matanya mengalir deras, diiringi isak yang memilukan.
Entahlah dia menangis karena apa. Mungkin karena sakit kepala yang begitu hebatnya, atau karena rindu yang selama ini ia pendam begitu menyiksa hatinya? Yang pasti sesak menggelayut menekan dadanya, hingga ia merasa kesulitan untuk bernafas.
__ADS_1
Cukup lama Nilam menangis, namun efek obat yang diberikan Amanda mulai bekerja, sehingga membuat ia perlahan merasakan kantuk dan akhirnya terlelap.