CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
CK 45 - FLASHBACK


__ADS_3

Cristhopan terlihat semakin murung setelah berbicara lewat telepon dengan Rebecca beberapa waktu lalu, Billy yang sudah bisa menebak dan mengetahui situasi yang terjadi hanya bisa diam dan menyayangkan semua yang terjadi di dalam hati,


"Pasti sangat berat bagi Tuan" Iba nya dalam hati


"Billy, Sampai kapan aku harus berlumuran darah?" Tiba-tiba Tuannya bertanya demikian, Billy gelagapan, Ia tidak bisa menjawab


"Tak apa, Jawab saja. Aku sangat ingin berdialog dan mendengar kenyataan saat ini" Ucapnya yang terdengar sangat putus asa


"Tuan, Saya tak berani" Billy membungkuk,


"Kenapa? Apa karena hidupku sungguh sangat malang, dan kau takut aku tersinggung?" Cristhopan beralih menatap Billy,


"Ampun, Tuan! Maksud saya bukan begitu, Saya tak berani" Billy semakin membungkuk,


"Lalu kenapa? Kau yang paling lama berdiri di sampingku, Kau pasti sudah sangat tahu situasi disini melebihi siapapun. Kau bisa menasehati atau berkata apapun sekarang padaku, Aku sangat ingin mendengar pencerahan, Billy" Billy menghela nafasnya dengan sangat hati-hati, Ia memejamkan matanya sesaat,


"Baiklah, Tuan. Tapi saya memohon maaf jika nanti ada perkataan saya yang tidak sopan" Cristhopan mengangguk pelan


"Saya rasa, Situasi sekarang sangat buruk, Tuan. Nona Rebecca sudah mengincar Nona Zenya, kedepannya akan sangat menyulitkan Nona Zenya, Ditambah lagi dengan temperamen Nona Zenya yang sudah pasti sangat di ketahui oleh anda, Itu hanya akan menyakitinya" Billy sangat berhati-hati saat berucap,


"Kalau itu aku sudah tahu, Tak perlu kau menjelaskan aku sudah paham. Solusi dari masalah itu yang ingin aku ketahui!" Cristhopan sangat tak puas dengan jawaban Billy,


"Maaf, Tuan. Saya rasa sebaiknya anda menjauh dari Nona Zenya" Billy ragu untuk mengatakannya,


"Apa tak ada yang lebih baik dari ini? Aku sangat tak ingin mendengar jawaban itu. Jawaban itu sudah berputar dari tadi di kepalaku, Aku selalu menepisnya, tapi apakah memang hanya itu solusinya?" Lagi-lagi Cristhopan tak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Billy


"Tuan, Solusi yang lainpun hanya akan menyakiti Nona Zenya, Saya khawatir Nona Rebecca akan bertindak lebih jauh lagi" Cristhopan menutup mata, Ia menghela nafasnya panjang, Sudah pasti memang hanya akan ada akhir yang buruk bagi dirinya dan Zenya.


Flashback on

__ADS_1


"Cristh, Apa kau yakin akan terus bersamaku?" Seorang wanita cantik bersandar di bahu Cristhopan yang bidang, Mereka tengah berbaring di kursi santai disuguhi pemandangan yang sangat menyejukkan mata.


Tampak seorang Cristhopan Alexander sangat bahagia, Matanya sangat teduh dan hangat. Ia memeluk mesra sang gadis yang memiliki wajah manis itu,


"Ya! Apa kau meragukanku?" Sesaat mata mereka saling bertaut,


"Aku tidak ingin kau terluka, Cristh!" Gadis itu tersenyum getir, Matanya sudah mengembun.


"Kau percaya padaku, Aku tak akan terluka" Cristhopan mengelus pipi sang gadis, Namun gadis itu malah terlihat semakin sedih.


"Kau tak tahu, Aku selalu memikirkanmu! Aku tak bisa tidur dengan nyenyak, Makan dengan tenang, Aku tak bisa bahkan untuk memalingkan sebentar saja pikiranku darimu! Cristh, Tolong mengerti aku" Tiba-tiba air matanya berderai, Gadis itu memang terlihat sangat polos dan rapuh, Ia sudah terisak didalam dekapan Cristhopan yang hangat,


"Sudahlah, Amara. Aku tidak akan terluka, Kau tahu aku siapa, Aku tidak akan terluka dengan mudah" Cristhopan tersenyum samar, Ia mencoba menenangkan Amara, Sang pujaan hatinya.


"Apa kau tak bisa memohon pada Kakek Armando untuk membiarkanmu menjalankan bisnis perusahaan saja? Pekerjaan ini terlalu berbahaya, Aku tak bisa tenang. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Gadis itu malah menangis semakin kencang.


"Kau tahu kakek tak akan pernah mendengarku, Kau harus menjadi gadis yang baik, Setelah itu aku akan membawamu pergi. Pergi sejauh jauhnya meninggalkan lingkungan ini. Amara, Aku sangat ingin hidup bahagia bersamamu, Menikmati sejuknya pagi dan indahnya senja menyingsing, Aku hanya ingin berdua denganmu tanpa ada gangguan dari orang lain. Saat ini aku sedang berjuang, Bertahan demi kebahagiaan kita, Do'akan agar aku selalu selamat dan segera menyelesaikan misi besar yang di berikan kakek Armando. Setelah itu, Kita akan pergi dan meninggalkan nama Keluarga Alexander disini" Cristhopan mengecup mesra pucuk kepala sang gadis, Ia nampak sangat mencintai dan menyayanginya, Amara sama sekali tak merespond, Ia masih membenamkan wajahnya di dada bidang milik Cristhopan.


Waktu bergulir sangat cepat, Billy datang dengan sangat hormat, Memberitahu bahwa kakek Armando sudah memanggil. Mau tak mau mereka harus berpisah, Amara tentu saja menangis dan tak rela jika Cristhopan harus pergi,


"Cristh aku mohon, Temani aku sebentar lagi saja. Aku sudah sangat merindukanmu beberapa bulan ini. Tolong ya, Sekali ini saja kau dengarkan aku" Amara memohon sambil memegang erat lengan Cristhopan. Cristhopan tak tega untuk meninggalkannya, Tapi demi kebaikan Amara juga ia harus segera pergi.


"Tunggu aku, Aku pasti akan datang padamu, Tak perduli kapan, kita pasti akan segera bertemu, sayang" Cristhopan memeluk gadis itu, Membungkuk agar bisa sejajar dengannya, Ia tersenyum lalu segera meraup bibir merah merekah yang sudah mengerucut, Ia mengesapnya pelan, Pagutan demi pagutan sangat mereka nikmati, Amara sengaja membuat hasrat Cristhopan bangkit, Ia mengelus tengkuk Cristhopan, Tentu saja Cristhopan terpancing, Ciumannnya kini semakin ganas,


"Ayo kita lakukan sekali lagi" Amara sengaja membuatnya bergairah, Ia langsung berinisiatif mencium Cristhopan duluan saat Cristhopan melepaskan pagutannya,


"Amara, Aku harus pergi" Tolak Cristhopan yang sebenarnya sudah tak bisa membendung hasratnya lagi,


"Aku tahu kau masih menginginkannya, Ayo kita lakukan satu kali lagi, Setelah itu kau boleh pergi" Amara masih terus mencoba menahan agar Cristhopan tak jadi pergi,

__ADS_1


"Amara, Aku memang sangat menginginkannya. Tapi, Aku tak akan bisa lepas jika sudah menikmatimu" Cristhopan menggoda Amara dengan seringai yang sudah menjadi ciri khas nya.


Tidak seperti biasanya, Amara sama sekali tidak tersenyum mendengar godaan dari Cristhopan. Ia malah menekuk wajahnya "Yasudah, kau boleh pergi! Tapi jangan salahkan aku dan jangan menyesal jika kita tidak bertemu lagi!" Ucapnya sambil berlalu meninggalkan Cristhopan.


Cristhopan hendak meraihnya, Namun ia mengurungkan niatnya. Ia berbalik dan pergi tanpa berucap lagi.


Setelah beberapa saat, Amara berhenti ia berbalik dan melihat Cristhopan sudah menjauh darinya,


"Cristh, Kau memang tak akan mengejarku, 'kan? Kau pasti akan memilih tugas yang di berikan kakek Armando daripada aku, Aku sangat mencintaimu, Cristh. Jangan pernah bersedih dan kau harus hidup bahagia, Walaupun tanpa aku"


Air matanya berurai tak bisa ia tahan, Amara mencoba menyeka air mata itu namun ia tak bisa berhenti menangis. Hatinya terasa sangat sakit, Entah apa yang menjadi penyebabnya, Ia memilih bungkam dan menelannya sendiri


*


*


"Tuan, Nona Amara! Dia di sekap!"


••••••••••••••°°°°°°°°°°°°••••••••••••


Amara Agatthe Wilson



Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~


Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.


Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~

__ADS_1


Terimakasih~


__ADS_2