
Nilam ikut panik saat mendengar ucapan dokter, yang mengatakan jika bayi Delvia harus diangkat segera, sebab cairan ketubannya terus merembes.
Rupanya darah yang beberapa saat lalu keluar tidaklah banyak, namun bercampur dengan air ketuban, sehingga terus mengalir dari area pribadi wanita itu.
"Nilam, tolong hubungi Pandu," ucap Delvia lemah.
"Sudah, tapi tidak tersambung. Ada orang lain yang bisa aku hubungi?" tanya Nilam lagi.
Mereka masih ada di UGD saat ini. Nilam tidak berani mengambil keputusan, apa yang harus dilakukan. Ia tidak mau disalahkan nantinya jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Tolong," Delvia menunjuk tas miliknya yang Nilam simpan di samping kaki wanita itu.
"Ambilkan ponselku di tas," pintanya lagi.
Nilam menurut. Mengambilkan ponsel dan menyerahkannya pada ibu hamil itu.
Delvia tidak berani bergerak sama sekali. Rasa tidak nyaman di area pribadinya membuat ia takut. Meski rasa sakit sudah tidak terlalu ia rasakan, namun sebagai calon ibu yang belum berpengalaman, wajar jika ia tidak berani terlalu gegabah.
"Ck, mereka kemana sih?" keluh Delvia saat tidak ada yang menerima panggilannya.
Tidak berselang lama, dokter kembali datang hendak membawa Delvia ke ruang operasi.
"Tapi belum ada keluarganya yang datang, Pak. Saya nggak berani bertanggung jawab," ucap Nilam.
"Tapi janinnya harus segera dikeluarkan, Mba. Ketubannya sudah kering, saya takut terjadi apa-apa pada bayinya nanti. Dan bukan hanya bayinya, ibunya juga bisa bahaya."
__ADS_1
"Lam, tolong kamu yang wakili keluarga aku yaaa, aku mohon. Aku nggak mau anakku kenapa-kenapa," pinta Delvia dengan wajah memelas.
"Tapi,"
"Aku mohon, Lam,"
Nilam dilema. Ia bingung harus berbuat apa. Bersyukur disaat bersamaan ponselnya berdering dan itu dari nomor Pandu.
Ia menjelaskan keadaan Delvia dengan singkat.
Pandu meminta Nilam untuk menemani istrinya sementara waktu, sebab laki-laki itu masih berada di kota N, di rumah orang tuanya. Tidak mungkin tiba di rumah sakit dalam waktu singkat.
"Aku mohon, Lam. Tolong temani Delvia. Tandatangan saja administrasi yang diperlukan. Aku kesana sekarang."
Dan di sinilah Nilam kini, di depan ruang operasi seorang diri. Menunggu wanita yang dulu merebut kekasihnya, yang saat ini tengah berjuang di dalam sana seorang diri. Matanya perih menahan kantuk, tapi ia harus tetap terjaga. Tidak boleh lengah, sebab dirinya hanya seorang diri di sana. Takut bila terjadi sesuatu, ia malah tidak tahu.
Nilam baru ingat jika dia belum sempat menghubungi Amanda. Sahabatnya itu pasti khawatir, sudah tengah malam dia belum juga pulang.
Beberapa kali ia menekan nomor Amanda, namun sepertinya gadis itu sudah terlelap. Nilam akhirnya hanya mengabari lewat chat, mengatakan jika ia ada di rumah sakit sedang menunggu seseorang.
Sengaja Nilam tidak memberi tahu siapa, karena ia tahu seperti apa karakter sahabatnya itu. Ia pasti akan habis diceramahi, bila mengatakan jika yang ia tolong adalah Delvia.
🌟🌟🌟
Sementara itu, Pandu yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah rapat keluarga yang menegangkan, merasa aneh saat menyadari ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Nilam. Ia yang semula berniat mengabari istrinya, merasa penasaran dan memilih segera menghubungi kembali mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya ia, saat mendengar kabar jika saat ini Nilam tengah menemani Delvia di rumah sakit, dan menjelaskan apa yang menimpa istrinya.
Ia mengesampingkan rasa tidak enak hatinya, meminta tolong pada wanita yang pernah ia sakiti itu, untuk menjaga sang istri beberapa saat.
Ia tidak mungkin tiba di rumah sakit dalam waktu singkat, mengingat saat ini ia tengah berada di rumah orang tuanya. Perlu waktu paling tidak dua jam, untuk ia bisa sampai di tujuan.
Dengan tergesa ia bersiap dan menuju kamar orang tuanya, untuk berpamitan.
"Ma, Pa, aku mau balik sekarang," ucapnya sambil terus mengetuk pintu dengan tidak sabar.
Tuan dan nyonya Wijaya yang baru saja merebahkan tubuh, terpaksa harus bangkit lagi menemui anak mereka.
"Ada apa, Pan? Kenapa kamu panik begini?" tanya Tuan Wijaya.
"Aku balik sekarang Pa, Ma,"
"Kok balik? Masalah kakakmu belum selesai lho. Kita masih ada urusan besok! Kamu gimana sih?" Nyonya Wijaya menatap tidak suka anak bungsunya itu.
"Delvia masuk rumah sakit, Ma! Dia jatuh dan sekarang harus dioperasi. Nilam telepon aku barusan," jelas Pandu.
"Nilam? Mantan pacarmu itu? Kamu masih berhubungan sama dia?"
"Maa, aku nggak ada waktu buat jelasin sama mama sekarang, aku harus balik. Pa, aku balik sekarang." Pandu berlalu dari hadapan orang tuanya, tanpa bisa dicegah lagi.
Ia mengabaikan panggilan wanita yang melahirkannya itu, dan segera melajukan kendaraannya menuju tempat di mana sang istri dirawat.
__ADS_1