
Baskara meraih tangan Nilam, saat gadis itu sudah melangkah menuju parkiran. Raut lelah jelas nampak di wajah laki-laki tampan berkulit coklat itu. Ia menatap Nilam dengan tajam. Tidak suka dengan cara kekasihnya menyelesaikan masalah.
"Apa harus semua orang tau, kalau kita sedang berantem?" tanya Bas dengan suara dingin.
Nilam diam. Malas menjawab pertanyaan Baskara.
"Masalah ada untuk diselesaikan, Sayang! Bukan dihindari, bukan juga ditutup-tutupi. Ngerti nggak?"
Nilam masih bungkam. Otak gadis itu tiba-tiba buntu. Tidak bisa berpikir harus menjawab apa.
Reaksi Bas barusan, membuat prasangkanya liar kemana-mana. Meski itu belum tentu terjadi, tapi ia merasa jika calon suaminya pasti akan memihak pada ibu dan adiknya. Seperti di dalam cerita novel wanita tersakiti, Bas pasti tidak akan mau mendengar apa yang ia katakan, dan lebih memilih cerita fiktif yang dikarang Utari. Dan membayangkan itu, membuat amarah Nilam memuncak.
Dan kini, Bas kembali menyalahkannya. Mengatakan jika ia selalu menghindari masalah, dan memilih lari. Itu tidak benar! Dia tidak sedang lari dari masalah. Hanya sedang menyiapkan diri menghadapinya.
Tanpa banyak bicara, Bas menarik tangan gadisnya, membawanya menuju motor yang ia parkirkan di seberang jalan.
"Aku pulang bawa motor, Mas!" Ucap Nilam berusaha melepas cengkraman tangan Bas.
"Biar Amanda yang bawa motornya," sahut Bas.
__ADS_1
"Dia bawa motor sendiri! Di sini nggak aman, nanti motor aku hilang," Nilam berhasil melepas cengkraman tangan Bas. Gadis itu melangkahkan kakinya kembali menuju parkiran butik. Namun, Bas berhasil mengejarnya.
"Pulang sama mas!" Baskara menaikkan nada suaranya.
Nilam terkejut sekaligus takut, mendapati kemarahan yang nampak jelas di wajah calon suaminya.
Menyadari itu, Bas menarik nafas panjang.
"Maaf, mas nggak bermaksud bentak kamu. Tapi mas mohon, jangan bantah mas sekarang," ucap Bas penuh penekanan.
"Lam," Amanda datang mendekati keduanya.
"Nda, aku takut," bisik Nilam pada sahabatnya.
"Kenapa takut? Nggak akan ada apa-apa. Percaya sama aku," bujuk Amanda.
" Mas Bas, jaga Nilam. Jangan sampe terjadi apa-apa sama dia," ucap Amanda pada Baskara, lalu melangkah pergi setelah Nilam dengan terpaksa menyerahkan kunci motornya pada sang sahabat.
Nilam duduk agak jauh dari punggung kekasihnya. Ia masih takut pada bentakan Baskara, yang baru pertama ia alami. Pikirannya melayang kemana-mana. Benarkah keputusannya menikah dengan laki-laki ini? Wajahnya menakutkan ketika sedang marah. Suaranya menyeramkan. Dan dia tidak suka itu.
__ADS_1
Bas sadar Nilam menjaga jarak dengannya. Ia lalu meraih tangan gadis itu, kemudian membawa ke perutnya.
"Pegangan yang erat, mas mau ngebut," ucapnya.
Nilam terpaksa menurut. Dan benar saja, laju motor Bas seperti seorang pembalap di sirkuit. Menyalip dari kiri dan kanan, begitu lincah, seolah jalan yang dilalui tanpa hambatan. Padahal masih banyak kendaraan lain berlalu lalang.
Nilam hanya bisa memejamkan mata, dengan dada berdebar tidak beraturan. Ia semakin ketakutan. Ditempelkannya wajahnya ke punggung Bas, sembari memejamkan mata dan merapatkan doa dalam hati. Tanpa Nilam sadari, air matanya mengalir tanpa permisi, membasahi jaket yang kekasihnya kenakan.
Bas memelankan laju motornya, tubuh Nilam yang bergetar, membuat dia menyadari sesuatu. Gadisnya menangis.
"Lam," panggilnya saat kecepatan motornya sudah kembali normal. Sengaja ia memiringkan kepala, agar dapat mendengar sahutan kekasihnya.
"Hmm," cicit gadis itu lirih.
Kembali bas melajukan motornya dengan sedikit kencang, hingga tibalah mereka di salah satu taman yang sudah agak sepi.
Hanya ada beberapa pedagang kaki lima yang juga sudah bersiap menutup dagangannya.
"Ayo," ajak Bas, mengulurkan tangan ke arah Nilam.
__ADS_1
"Boleh mas tau, apa yang selama ini kamu, ibu, dan Utari tutupi dari mas?" tanya laki-laki itu lagi, setelah mereka berdua duduk di sebuah kursi kayu panjang, dekat dengan lampu taman.