
Vincent menatap lekat-lekat wajah Zenya, Ia terus meneliti se-inci demi se-inci garis wajah yang sangat simetris itu
"Apa sungguh Cristhopan menyukai gadis yang seperti ini?" Gumam nya dengan mata yang terus menelisik,
"Rhandika sudah mengetahui soal gadis ini, Aku yakin Cristhopan sekarang pasti sangat khawatir. Cih, Gengsi ya?" Vincent menyunggingkan ujung bibirnya di sela-sela gumamannya,
Sesaat kemudian kening Zenya berkerut, Dengan susah payah ia mencoba untuk membuka mata,
"Awh!" Desis nya dengan tangan yang refleks memegang kepala,
Zenya membuka matanya perlahan, sesaat ia langsung terbelalak kala melihat Vincent yang sudah berpangku tangan menatap tajam ke arahnya
"Ini kakak dari gadis gila itu?" Pekik Zenya dalam hati,
"Kenapa? Kau terkejut melihatku ada disini?" Vincent menyunggingkan sudut bibirnya, Zenya mematung tak berkutik,
"Kau pernah terluka di bagian kepala? Tengkorak mu ada sedikit retak, Ini disebabkan karena sudah pernah terbentur. Aku duduk disini menjagamu karena merasa harus bertanggung jawab, Semua ini salah adikku" Vincent bangkit dari kursinya, ia berjalan santai kearah Zenya,
"Cih! Dia meminta maafpun masih dengan raut wajah dan nada yang sangat sombong begitu? Astaga! Memang mereka ini sekumpulan orang-orang sampah!" Alangkah kesalnya Zenya melihat tingkah laku Vincent yang sangat tidak sesuai dengan ucapannya.
"Kenapa? Kau tidak puas aku meminta maaf?" Vincent menaikkan satu alisnya,
"Tidak" Zenya menggeleng pelan,
"Bagaimana aku harus membayar kompensasi atas ulah adikku?" Vincent mengeluarkan ponselnya,
"Asal kau tahu, Semua benturan ini adalah ulah keluargamu!" Ingin sekali Zenya berucap begitu. Naasnya, Semua hanya bisa di keluhkannya didalam hati, Ia tak cukup berani jika harus protes seperti itu.
"Aku tak butuh apa-apa"
"Terpaksa harus mengalah lagi"
*
*
Di dalam ruang kerjanya, Cristhopan masih menyesap sebatang rokok yang sudah hampir stengah, Ia menghembuskan kepulan asap itu dengan perlahan,
"Akankah semuanya semakin rumit?" Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya,
"Andai aku bisa mengeluh" Ucapnya dengan nada lirih
"Tuan" Billy membuyarkan lamunannya, Ia langsung melirik ke arah Billy tanpa menjawab,
__ADS_1
"Nona Rebecca sudah menelepon beberapa kali, Namun saya masih belum menjawabnya" Billy menyodorkan ponsel kerjanya,
"Angkat dan katakan bahwa aku sedang sibuk" Ucap Cristhopan yang sama sekali tak ingin menyentuh ponsel tersebut,
"Baik, Tuan" Billy terlihat cemas,
"Tuan" Ia sedikit ragu untuk berucap,
"Ada apa lagi?" Cristhopan terlihat tak sabar,
"Bagaimana jika Nona Rebecca memaksa untuk berbicara dengan anda, Saya mengkhawatirkan jika ia langsung kemari setelah mengetahui anda menolak berbicara dengannya"
Cristhopan menghela nafas panjang,
"Gadis ini sungguh merepotkan" Desis nya sambil menatap layar ponsel yang masih bergetar,
"Sudah kau angkat saja!" Perintahnya,
"Baik"
Billy langsung menekan tombol hijau, Ia memejamkan matanya sesaat,
"Hallo, Nona" Ia berbicara sangat tenang, ciri khas seorang asisten pribadi.
"Tidak Nona, Saya mohon maaf, Tadi sedang ada rapat penting. Saya tidak membawa ponsel makanya sekarang baru mengangkat panggilan anda" Billy masih berbicara dengan sangat tenang.
"Kau pikir aku bodoh? Mana mungkin kau meninggalkan ponsel yang sudah jelas adalah barang pemberian dari kakek! Sekarang mana kakakku! Cepat berikan padanya sebelum aku mengamuk!" Rebecca sangat murka, Billy sudah sangat mengenal gadis itu.
"Baik Nona, Segera saya sampaikan pada Tuan muda" Billy sudah merasakan kegelisahan didalam hatinya
"Tuan, Nona Rebecca sudah sangat marah, ia ingin berbicara dengan anda sekarang juga" Billy berbisik,
Cristhopan mengerlingkan bola matanya, Ia menghembuskan nafas dengan kasar lalu meraih ponsel tersebut.
"Ada apa, Becca?" Tanya Cristhopan tanpa berbasa-basi,
"Kakaaakk!!" Rebecca merengek,
"Ada apa lagi, Becca?" Cristhopan mencoba melembut.
"Kak! Kau sudah mempunyai wanita lagi?" Rebecca masih terus merengek,
"Apa maksudmu?" Cristhopan masih bersikap lembut,
__ADS_1
"Kau mempunyai hubungan special dengan gadis yang bernama Zenya?" Cristhopan mengernyit,
"Zenya?" Cristhopan membuat agar nada suaranya terdengar bingung,
"Iya, Zenya! Jangan berbohong kak! Aku sudah mengetahui semuanya!" Rebecca mencoba mengintimidasi,
"Zenya, Gadis yang mana ya?" Cristhopan berkata seolah-olah ia memang sangat memiliki banyak wanita,
"Aku sudah bersama dengan banyak gadis, Aku juga tidak terlalu mengingat nama-nama dari mereka, Itu tidak penting! Jadi apa kau bisa memberitahuku, Dia gadis yang mana?" Sambungnya
"Kak!" Rebecca memekik,
"Kau jangan menipuku! Aku sudah tahu kau sama sekali belum pernah bermain wanita, Kau sangat perduli padanya sampai tega membohongiku?"
"Aku sama sekali tidak berbohong, kau mengetahuinya sendiri, Becca. Lagipula, kenapa kau sampai semarah ini? Apa kau mempunyai masalah dengannya?" Cristhopan masih bersikap sangat tenang.
"Ya! Dia sangat menyebalkan! Dia sudah berulang kali menyinggungku!" Rebecca mulai melebih-lebihkan,
"Kau tahu, Dia sangat bangga karena sudah menjadi wanitamu! Dia sampai berani menyinggung Safir! Dan tak segan-segan diapun langsung menyingunggku! Kalau kau memang tak memiliki hubungan special dengannya, Apa kau berani membalaskan dendamku?" Cristhopan sedikit tersentak, Dadanya sudah bergemuruh karena emosi,
"Baik, Bagaimana kau ingin aku membalasnya?" Mau tak mau, Cristhopan hanya bisa berkata demikian,
"Itu terserah padamu, Aku hanya ingin dia menderita dan di permalukan, Tapi dengan level main mu, Kak!" Mendengar keinginan Rebecca yang sangat ingin membalas dendam pada Zenya, mampu membuat raut wajah Cristhopan menjadi suram.
"Bagaimana, Kak?" Rebecca memastika, sudah pasti ia sangat puas, Level Cristhopan itu sangat mengerikan.
"Baiklah, Aku akan mempersiapkan semuanya" Cristhopan tak bergeming
"Kau memang harus begitu, Kak. Aku sama sekali tak rela jika kau bersama seorang wanita jika bukan dengan Kak Rachel! Kau tahu bagaimana sakit hatinya aku saat Kak Amara pergi? Dia gadis yang sangat sempurna kak, Tapi kesempurnaannya itu masih belum cukup di mata kakek. Aku hanya ingin melihat kau bahagia, Jika kau bersama wanita lain yang bahkan sangat lebih buruk dari Kak Amara, Kau pikir kakek akan bertindak seperti apa? Aku tidak ingin kau salah dalam memilih cinta lagi kak, Aku tidak mau melihatmu sakit hati lagi. Percayalah, Ini semua untukmu" Rebecca sengaja menyinggung masalah Amara, Ia pun membumbui dan mencampur semuanya dengan kebohongan, Ia berpura-pura perduli dan menyadarkan sang kakak.
"Kau jangan khawatir, Aku tak akan salah langkah lagi, Aku bersumpah untuk kedepannya kakek tak akan bisa menyentuh titik terlemahku lagi, Kau belajarlah yang baik, Dan temukan pria yang kau suka. Aku akan sangat tenang jika sudah ada yang menjagamu" Cristhopan masih mencoba bersikap tenang, Namun tak bisa di pungkiri rahangnya sudah mengetat akibat menahan amarah.
"Nona Rebecca pasti membawa-bawa nama Nona Amara. Gawat! Tuan pasti marah besar!"
••••••••••••••••••°°°°°°°°°°°*••••••••••••
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~
Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.
Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~
Terimakasih~
__ADS_1