CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 138


__ADS_3

Di tempat kerja, Nilam hanya duduk termenung dengan tatapan mata kosong. Semangatnya hilang entah kemana. Ucapan Bu Rahma, calon mertuanya terus terngiang di telinga gadis itu. Sakit sekali rasa hatinya, ketika Bu Rahma dengan lancang mengatakan jika orang tuanya tidak bisa mendidik dia dengan baik.


"Lam! Jangan bengong aja! Itu di depan tamu rame!" Amanda mendatangi Nilam yang saat ini duduk di lantai gudang.


"Kamu tuh gampang banget baper. Jangan dipikirkan kalau omongan yang mengandung racun. Bisa merusak mental kamu," omel gadis tomboy itu.


"Iya, Nda," sahut Nilam. Kekasih Baskara itu bangkit, memperbaiki penampilannya di cermin, lalu mengikuti langkah Amanda yang sudah keluar lebih dulu.


Malam ini pengunjung cukup ramai. Mungkin karena sudah masuk musim libur sekolah, sehingga banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka menghabiskan liburan di Pulau ini. Dan butik tempat Nilam bekerja merupakan salah satu yang sering dikunjungi wisatawan lokal (wisatawan asing juga tentunya), sebab selain tempatnya yang strategis, kualitas pakaian yang di jual juga tidak kalah dengan merk luar.


Sejenak Nilam lupa dengan masalah yang saat ini sedang ia hadapi. Gadis itu sibuk mencari dan memilihkan pakaian untuk customer. Dan tersenyum puas ketika apa yang ia tawarkan mau diterima oleh mereka yang datang.


Waktu berlalu dengan cepat. Jam kerja mereka sebentar lagi selesai. Nilam dan Amanda bersiap menutup butik tersebut, memindahkan barang-barang pajangan yang sebelumnya ditata di depan butik.


"Coba aja ya, tadi ada size untuk anak gendut itu, pasti emak bapaknya borong banyak di sini," ucap Amanda sembari menggeser patung mannequin yang berdiri di samping pintu.


"Jangan bilang gendut, Nda. Nanti banyak yang nggak terima," sahut Nilam.


"Trus apa donk namanya? Orang perut sama dagu berlomba gitu. Kamu nggak liat, hidung sama matanya sampe tenggelam! Ish, kalau aku jadi emaknya ya, nggak akan aku biarkan anak aku sampe kayak gitu. Kasihan, pasti sering di-bully di sekolahan," ucap Amanda lagi.


"Ya kan masing-masing orang tua beda, Nda. Mungkin bagi mereka itu lucu dan menggemaskan? Mangkanya mereka kayak bangga gitu kasih unjuk anaknya barusan, kan? Yah meskipun aku juga merasa kasihan sih, sehat kan nggak harus segemuk itu," sahut Nilam.


"Nah kamu juga setuju kan, kalau anak itu udah over?" sahut Amanda lagi.


Mereka begitu semangat membicarakan seseorang yang entah sudah berada di mana saat ini. Salah satu pengunjung yang datang beberapa jam yang lalu, terdiri dari perempuan dewasa dengan tubuh tinggi semampai, satu pria dewasa yang tidak kalah tampan, dan seorang anak berusia sekitar tujuh tahun, dengan tubuh penuh berisi.


Nilam tidak lagi memberi reaksi. Dan tiba-tiba memilih berlalu ke belakang, membiarkan Amanda dalam kebingungan. Ia bahkan mengabaikan teriakan sahabatnya yang kesal dengan tingkahnya itu.


Beberapa saat lalu, mata Nilam tidak sengaja menoleh ke seberang jalan. Di sana, ia melihat dengan jelas, kekasihnya duduk di atas motor, di bawah pohon palem. Seketika ingatannya kembali. Masalahnya belum selesai. Dan dia belum siap berdebat lagi. Pasti masalah siang tadi berbuntut panjang, hingga kini Bas mencarinya ke tempat kerja.

__ADS_1


"Lam, udah beres? Si Manda teriak, tuh!" Kasir yang satu shift dengannya mencari Nilam ke dalam gudang.


"Eh maaf ya, tiba-tiba kepala aku pusing. Udah mau beres kok itu, tinggal dikit lagi tadi," jelas Nilam.


"Ooh. Ya sudah kamu di sini aja, biar aku yang bantu Manda."


"Makasih, ya," ucap Nilam. Kasir itu tersenyum dan meninggalkan Nilam seorang diri di dalam gudang.


Ponsel di dalam tas Nilam terus bergetar. Ia yang duduk di bawah gantungan baju, tempat dimana tasnya berada, jelas mendengarnya. Namun ia enggan meraih benda pipih itu. Nilam yakin itu pasti telepon dari Baskara.


"Lam! Dicariin tuh sama Bas!" Panggil Amanda dari luar.


"Biarin aja, Nda. Bentar lagi juga ketemu, kan. Pala aku masih pusing," sahut Nilam.


Gadis itu menelungkup. Membiarkan wajahnya masuk ke dalam lutut, yang ia peluk dengan kedua tangannya.


Nilam diam tidak menyahut. Ia benar-benar gelisah saat ini. Apa yang harus ia katakan pada Bas nanti? Masa belum apa-apa dirinya sudah bertengkar dengan adik dan ibunya Baskara? Namun, itu kan bukan karena kesalahannya, bukan maunya juga mencari masalah dengan mereka.


Usapan lembut di punggungnya yang membungkuk, membuat Nilam tersentak.


"Nda! Ngagetin ...." Suara Nilam hilang saat menyadari yang ada di depan matanya kini bukan Amanda, melainkan kekasihnya.


"Mas," ucap Nilam segera bangkit dari tempat duduknya.


"Katanya pusing, sini mas pijit," ucap Bas mendekatkan tubuhnya pada Nilam.


"Eh nggak usah, Mas. Nanti di kost aku minum obat. Bentar lagi pulang, kok," tolak Nilam.


"Mas ngapain di sini? Ini kan khusus karyawan," tanya Nilam lagi.

__ADS_1


Bas mengabaikan pertanyaan kekasihnya itu. Bahkan penolakan Nilam pun ia abaikan. Laki-laki itu meraih wajah kekasihnya yang terlihat sedih, menatap dalam manik yang begitu menenangkan jiwanya.


"Tadi ngobrol apa aja sama ibu?" tanya Bas lembut. Kedua ibu jarinya mengusap pipi Nilam yang ia penjarakan dengan kedua tangan besarnya.


Nilam yang tidak bisa memalingkan wajah, hanya dapat memejamkan mata, guna menghindari kontak dengan kekasihnya itu. "Ngapain nanya sama aku, Mas? Mas Bas pasti udah tau semuanya, kan? Tinggal memilih untuk percaya atau tidak," sahut Nilam, masih dengan mata terpejam.


"Nggak bisa gitu, mas harus denger dari kedua belah pihak, baru bisa memutuskan seperti apa harus bersikap."


Nilam membuka mata. Kali ini ia membalas tatapan kekasihnya. Gadis itu juga meraih kedua tangan Bas, membebaskan wajahnya dari kuasa laki-laki itu.


"Sekarang aku tanya sama Mas, apa aja yang udah mas dengar?"


"Banyak. Bahkan sampai mas nggak bisa jelasin satu-satu sama kamu. Tapi mas yakin, penjelasan kamu lebih sedikit, jadi mas minta kamu jelasin sama mas."


"Apa mas akan percaya sama aku?"


"Tergantung,"


Wajah Nilam berubah keruh. Lalu untuk apa ia menjelaskan? Hanya akan menambah lelah dan sakit hatinya saja.


Belum selesai mereka membahas masalah, Amanda datang mengganggu keduanya.


"Omongin di luar aja. Nggak enak sama yang lain. Ini juga udah tutup. Memangnya kalian mau nginep di sini?" ucap gadis itu, bersiap memakai jaketnya.


"Udah absen, Nda?" tanya Nilam.


"Udah. Kamu juga udah aku absenkan. Buruan siap-siap! Kasirnya sampe nggak berani masuk, gegara drama kalian!" ketus Amanda.


Tanpa banyak bertanya, Nilam bergegas meraih jaket dan memakainya. Ia mengabaikan Bas yang masih betah memerhatikan gerak-geriknya. Setelah itu, ia mengambil tas dan helm, lalu keluar dari gudang. Ia benar-benar mengabaikan Bas.

__ADS_1


__ADS_2