
"Jadi di sini Via terjatuh? Gimana kejadiannya, sih?" tanya Pandu saat ia sudah mematikan mesin mobil tepat di depan mini market, dimana Delvia mengalami musibah.
Nilam hanya mengangguk. Tidak berniat menjelaskan apapun, karena memang dia tidak tahu.
"Makasih mas, udah antar aku sampe sini," ucap gadis itu sembari membuka sabuk pengamannya.
"Kost kamu di mana, Lam? Biar aku antar."
"Nggak usah, maass. Sebaiknya mas Pandu balik, jagain Delvia di rumah sakit." Nilam bergegas turun. Ia ingin segera tiba di kostan, dan segera beristirahat.
"Lam, tunggu." Nilam yang sudah turun dari mobil, terpaksa menghentikan langkah, saat Pandu kembali memanggil namanya.
"Lam, apa kita nggak bisa berteman seperti dulu? Seperti saat aku dan kamu belum pernah menjalin hubungan?" tanya laki-laki itu penuh harap.
Nilam bingung harus menjawab apa. Ia tidak masalah berteman dengan siapapun. Orang tuanya selalu mengajarkan untuk mencari teman dimanapun ia berada. Namun dengan Pandu, ia tidak ingin terlalu dekat. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman, yang akan membuat urusan menjadi panjang.
"Kenapa harus mencari perempuan lain, untuk mas jadikan teman? Ada Delvia yang sudah mas pilih menjadi teman hidup. Tidak cukupkah dia saja? Jangan ulangi kesalahan yang sama, mas. Jangan menyakiti orang yang dengan setia mendampingi kamu, hanya karena keegoisanmu semata."
"Kenapa kamu menolak? Apa kamu takut jatuh hati lagi padaku?" Pandu kesal, karena niat baiknya justru ditolak oleh Nilam. Ia tidak berniat mendekati gadis itu lagi. Ia hanya ingin berteman. Murni berteman.
Nilam tersenyum tipis.
"Aku bukan orang yang dengan mudah datang dan lalu pergi dari kehidupan seseorang mas. Kalau aku sudah memilih, itu artinya aku yakin dengan pilihanku, dan tidak akan tergoda oleh apapun. Aku nggak takut tergoda hanya karena seorang mantan, yang pernah mengkhianatiku. Aku menolak, karena bagiku, cukup pasanganku saja yang aku jadikan teman dalam segala hal. Aku tidak butuh laki-laki lain, sebagai teman curhatku."
Nilam lalu pergi meninggalkan Pandu, menuju motor miliknya yang masih terparkir di ujung bangunan minimarket.
Ia memakai helm dan tanpa permisi melajukan kuda besinya di depan Pandu.
Masih banyak kendaraan yang berlalu lalang, meski hari masih gelap. Membuat Nilam merasa aman melintasi jalan raya, menuju kostannya yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Pikirannya menerawang jauh. Entah karena ucapan Pandu yang membuatnya kesal, atau kantuk dan lelah yang semakin menyerangnya, sehingga gadis itu hampir saja menabrak tiang listrik di dekat gang menuju kostannya.
__ADS_1
"Woee mba! Hati-hati! Jangan bawa motor kalau mabuk!" teriak seorang sopir pick up dari belakang, membuat gadis itu semakin meradang. Namun sebisa mungkin ia menahan diri, agar tidak membalas ucapan laki-laki itu.
Nilam menarik nafas berulang kali untuk menenangkan pikiran, dan tubuhnya yang bergetar, sebelum melajukan motornya kembali.
🌟🌟🌟
Suara pintu yang dibuka dari luar, membangunkan Amanda dari tidur lelapnya. Gadis tomboy itu langsung bangkit, dan bersiap menyerang.
Namun akhirnya ia mendesah lega, saat lampu kamarnya menyala dan melihat Nilam-lah yang datang di pagi buta itu.
"Kirain maling yang buka pintu malem-malem." sungutnya membenarkan selimut.
Namun belum sempurna tubuhnya terbaring, gadis itu bangkit lagi saat menyadari sesuatu.
"Astaga, Lam! Kamu baru pulang? Dari mana aja?"
Amanda bangkit memeriksa sahabatnya yang terlihat lelah dengan kondisi tubuh berantakan.
Nilam memukul pipi Amanda dengan kesal.
"Sembarangan kalau ngomong. Mulut nggak ada saringannya sama sekali!" kesal gadis itu, berlalu meninggalkan Amanda menuju kamar mandi.
Mata Amanda terbuka lebar. Rasa kantuknya hilang entah kemana kini.
"Kamu dari mana? Kok baru dateng? Mentang-mentang yayangnya nggak ada, kelayapaaan aja kerjanya." tuntut Amanda lagi, ikut masuk ke kamar mandi.
"Nanti ajalah aku cerita ya, aku ngantuk bngeeet. Mau tidur dulu," sahut Nilam.
Amanda tidak lagi bertanya apapun. Ia menyimpan rasa penasarannya, sambil ikut kembali naik ke atas ranjang.
"Tapi kamu nggak apa-apa kan, Lam?" tanya gadis itu memastikan.
__ADS_1
"Hmm, nggak apa-apa," sahut Nilam dengan suara lemah antara sadar dan tidak.
Amanda hanya bisa menatap sang sahabat, dengan khawatir. Namun ia mengerti, bukan saatnya memaksa Nilam untuk bercerita.
Getar ponsel di bawah bantalnya, mengejutkan gadis itu.
"Siapa sih, nelepon malam-malam begini?" sungutnya mencari-cari benda pipihnya, yang ternyata masuk ke dalam sarung bantal.
Ada nama Baskara di sana, membuatnya ragu untuk menerima panggilan.
"Kenapa Mas Bas nelepon aku malem-malem begini? Apa dia tau Nilam baru pulang ya? Aku harus jawab apa donk, ini?" gumamnya menimang ponsel yang kembali bergetar.
Terpaksa ia menerima panggilan dari seberang itu.
"Hallooo," ucapnya berpura-pura menahan kantuk.
"Nda, Nilam sudah di kost? Sama siapa dia pulang?"
Tepat dugaannya, Bas tahu kalau Nilam kelayapan hingga tengah malam.
"Hmmm, kenapa Bas?"
"Nilam udah di kost apa belum? Nggak usah pura-pura kamu! Nggak mempan tipuanmu sama aku!" suara Baskara naik satu oktaf membuat Amanda ikut tersulut emosi.
"Yeee, siapa yang pura-pura? Nilam udah di kost! Udah tepar dia!" Amanda tidak lagi berpura-pura, aktingnya sudah Baskara ketahui.
"Dia pergi kemana sebenarnya? Kenapa jam segini baru sampai kost?"
"Lha mana aku tau? Tanya sama orangnya aja langsung. Mau aku bangunkan? Mangkanya, punya pacar tuh diperhatiin biar nggak galau mulu! Nyari cowok lain, baru tau rasa!"
"Jangan sembarangan kamu! Ya sudah, jangan dibangunin. Nanti aku telepon dia." Sambungan telepon terputus, sebelum Amanda sempat menjawab.
__ADS_1
"Dasar! Baik kalau ada maunya aja tuh orang!" kesal Amanda, memasukkan kembali ponselnya ke bawah bantal. Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya, bersiap merajut mimpi yang sempat terganggu.