
Nilam merasakan sensasi dingin, saat sebuah tangan bertaut di sela jarinya.
Ia yang setengah sadar, tidak berani membuka mata, untuk melihat apa yang sedang terjadi.
'Apa ini? Jangan bilang ada makhluk halus di kostan ini,' ucap Nilam dalam hati.
"Sayang, bangun ...." Suara lembut menyapa telinganya, membuat Nilam semakin ketakutan. Namun akalnya juga mulai bekerja, ini sudah pagi, mana ada hantu ganggu manusia pagi-pagi? Dan lagi, suara itu sangat mirip dengan suara kekasihnya.
Ini bukan mimpi kan? Tidak, Nilam tidak sedang bermimpi. Tapi rasanya tak mungkin itu nyata.
'Menyebalkan! Kenapa nggak beneran ada sih, orangnya di depan mata? Biar aku bisa marah-marah sepuasnya sama dia. Kenapa cuman lewat mimpi aja?' sungutnya dalam hati.
Nilam mengencangkan genggaman jemarinya pada tangan yang mulai menghangat itu, seakan ingin melampiaskan kekesalan yang ia pendam selama ini.
"Nyebelin bangeeet kamu, mas! Bisanya cuman bikin aku marah aja, bikin nangis aja." Masih dengan mata terpejam, Nilam meracau.
"Maaf, mas nggak bermaksud bikin kamu marah, sayang ...." sahut suara itu lagi.
Kali ini Nilam diam. Tangan yang semula ia remas sesuka hati itu pun, seketika ia lepaskan.
Seolah tau apa yang sedang dipikirkannya, suara lembut itu terdengar lagi.
"Buka mata kamu, mas tau kamu udah bangun." Kali ini Nilam benar-benar sudah terjaga, namun ia menahan sekuat tenaga agar korneanya tidak terbuka.
Ia belum menyiapkan diri, mau memberi reaksi seperti apa pada kekasihnya itu.
Perasaan yang muncul kini bercampur aduk, antara senang, kesal, marah, dan juga kecewa.
Bas tersenyum dengan reaksi kekasihnya. Ia meniup mata Nilam.
"Apa mau dicium dulu, baru mau membuka mata? Baik, akan mas lakukan," ucap Bas membuat Nilam seketika membuka matanya.
"Selamat pagi, sayang," sapa Bas tersenyum manis.
Nilam tidak menjawab, ia masih mengamati wajah yang nampak lelah, yang tersenyum di depan matanya itu.
__ADS_1
Sedetik,
Dua detik,
Nilam tidak memberi reaksi apapun, membuat Baskara tidak tahan, dan akhirnya laki-laki itu mengecup kening Nilam dengan cepat.
Nilam merengut kesal. Mengusap keningnya, lalu bangkit dengan malas.
"Kok mas ada di sini? Amanda mana?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Amanda lagi keluar, katanya mau cari sarapan," sahut Bas. Ia pun bangkit, ikut duduk di atas kasur, di samping Nilam.
Nilam melirik jam dinding yang tergantung di tembok kamarnya. Jam 05.15.
"Jam segini, mau beli sarapan di mana dia?" gumam Nilam. Lalu gadis itu menatap tajam kekasihnya.
"Mas pasti suruh Manda keluar ya?" tanyanya dengan curiga.
Baskara tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kuda, sambil terus menatap mesra kekasihnya.
"Jangan marah-marah terus, sayang. Nggak kasihan kah sama mas? Tiap hari dicuekin, jarang diperhatiin, sekalinya ngajak ngobrol, marah-marah, ngambek. Baru ketemu, marah-marah lagi," rengek Baskara dengan wajah memelas. Ia menarik tangan Nilam lalu mengecupnya berkali-kali.
"Siapa suruh nyebelin? Bikin Gedeg aja?" sungut Nilam.
"Iya maaf. Udah donk, jangan marah lagi," rayu Baskara.
"Tau," sahut gadis itu. Namun ia masih membiarkan tangannya digenggam erat oleh Bas.
"Sayang,"
"Hmmm"
"Boleh mas minta kopi? Mas kedinginan, nggak sempet beli kopi tadi di jalan,"
Nilam memerhatikan penampilan sang kekasih. Benar saja, Bas masih memakai jaket jins dan celana panjang andalannya. Laki-laki itu juga mengenakan kaos kaki, sepertinya ia memakai sepatu sebelumnya, namun sengaja dilepas saat akan masuk ke kamar kost Nilam.
__ADS_1
Pantas terlihat begitu lelah, rupanya ia baru saja tiba.
"Tunggu sebentar, aku buatkan air hangat dulu."
Nilam bangkit, berjalan pelan menuju dapur kecil miliknya, sembari merapikan rambutnya yang berantakan.
Celana pendek dan kaos oblong yang digunakan, membuat Nilam terlihat mungil di mata Baskara.
Sambil menghangatkan air, Nilam masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi.
Setelah urusan pribadinya selesai, ia melanjutkan kegiatannya di dapur.
Meracik kopi dan membuatkan roti panggang untuk Baskara. Ia juga membuat teh untuk dirinya sendiri.
Sibuk dengan kegiatannya, Nilam tidak sadar Baskara sejak tadi memerhatikan gerak geriknya. Hingga ia menjerit saat Bas memeluknya dari belakang.
"Aaa!!"
"Sssttt, jangan bangunin tetangga pagi-pagi sayang," bisik Bas di telinga gadis itu.
"Astaga mas! Aku lagi bawa air panas ini! Kalau ketumpahan gimana?" omel gadis itu.
"Nggak akan tumpah, kan kamu udah beres nuang airnya," sahut Bas masih betah memeluk perut Nilam.
"Mas kangeeeen banget sama kamu, pengen deket kamu terus."
Nilam tidak menjawab. Ia diam, ikut menikmati kehangatan yang ditawarkan. Ia jug merindukan kekasihnya itu, ingin selalu ada di dekat laki-laki yang dicintainya, tapi i bisa apa? Pekerjaan Bas memaksa mereka terpisah jarak. Hanya mengandalkan komunikasi, yang bahkan akhir-akhir ini semakin menambah pelik.
"Mas, kopinya keburu dingin nanti, nggak enak. Kita ngopi dulu, ya." Nilam mencoba melepas belitan tangan Bas, namun gagal. Bas semakin mengencangkan pelukannya.
"Maaas,"
"Masih kangen sayang,"
Nilam kesal dengan tingkah Bas yang manja.
__ADS_1
"Kirain nggak tau kangen, betah banget di sana sampe nggak pulang berbulan-bulan," dengus Nilam.
"Oh ya lupa, kerjaan kan lebih penting timbang pacar, ya. Memang harus diutamakan sih. Pacar kan bisa nunggu, kalau bosan tinggal putus, trus cari yang lain," ucap Nilam pedas, penuh sindiran.