CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 92


__ADS_3

Tanpa rasa berdosa, Amanda duduk di samping Nilam yang sejak tadi hanya menundukkan kepala.


"Kenapa pada tegang gini sih? Kayak orang kepergok habis mesum." Celetuknya lagi, membuat Nilam menatap horor ke arahnya.


"Mulut! Mesti dipakein plaster kayaknya." Geram Nilam namun dengan suara tertahan.


Amanda tidak menanggapi kekesalan sahabatnya itu. Ia memang sengaja ingin mengacaukan suasana romantis diantara keduanya.


"Jangan lupa, janji adalah hutang. Aku tunggu pembayarannya, 1x1 jam dari sekarang." Ucapnya lagi, entah ditujukan pada siapa. Ia berbicara sembari asyik memakan kue kering yang Nilam hidangkan untuk Baskara.


Nilam yang tidak mengerti, menatap bingung ke arah sahabatnya itu.


"Ngomong apaan sih? Aneh banget. Kamu kesambet ya?" Kesal Nilam lagi.


"Ehm, Lam kita keluar yuk ... Di sini banyak gangguan." Ucap Baskara mengalihkan perhatian Nilam.


"Kemana mas?"


"Cari angin aja, temenin mas sebentar."


Nilam tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah sahabatnya yang sejak tadi menyimak percakapan keduanya.


Meski sejak tadi Manda membuatnya kesal, namun gadis tomboi itulah yang selalu mendukungnya. Sehingga Nilam merasa perlu untuk meminta pendapat Amanda.


Amanda memberi kode, dengan menganggukkan kepalanya.


"Pulangnya jangan malem-malem." Pesannya pada Nilam.


"Tunggu ya mas, aku mandi dulu." Ucap Nilam, tanpa menanggapi ucapan Amanda.


"Eeh, bisa sabar nggak sih?" Baskara meninju bahu Amanda agak keras, membuat gadis itu tersedak kue yang dimakannya.


"Apaan sih?" Sengit Amanda, setelah berhasil mengatasi batuk akibat tinjuan Baskara. Bahkan laki-laki itu tidak berniat mengambilkan air meski melihat dirinya tersedak.


"Kasar banget jadi cowok." Keluhnya sembari mengusap bekas tepukan Baskara di bahunya.


"Nih!" Baskara meletakkan selembar uang berwarna pink di bahu yang tadi sempat ya tepuk.


"Jangan dibiasakan nyindir di depan Nilam." Lanjutnya lagi, kemudian keluar dari kamar kost milik dua gadis itu.

__ADS_1


Baskara memilih menunggu pujaan hatinya di depan kamar. Sembari menikmati suasana sore yang mulai ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang.


Lingkungan yang dipenuhi pendatang dari berbagai daerah disekitar kota itu, memang akan terasa sepi saat siang hari. Sebab sebagian besar adalah pekerja yang menghabiskan banyak waktunya di tempat kerja. Namun saat jam kerja berkahir, jalan yang hanya cukup dilewati oleh dua kendaraan itu pun begitu ramai.


Di dalam kamar, Nilam yang sudah selesai membersihkan diri, menatap heran pada sahabatnya yang terlihat kesal.


"Kamu kenapa, Nda?"


"Pacarmu tuh, melakukan KDRT sama aku. Ada maunya aja, baik-baik sama aku." Kesal Amanda, duduk di samping Nilam yang tengah membalurkan body lotion ke kaki dan tangannya.


"Memangnya kenapa? Kalian ada masalah apa?"


"Tanya sama orangnya sana. Males aku. Besok-besok nggak mau lagi aku kerja sama sama dia." Ketus Amanda lagi, lalu bangkit menuju kamar mandi.


Nilam hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya. Perubahan moodnya memang secepat itu, Nilam sudah terbiasa.


"Nda ... Aku pergi ya ... Itu ada blayag di samping kompor, kuah santannya kamu angetin lagi nanti kalau mau makan." Panggil Nilam, di dekat pintu kamar mandi.


"Iya ... Ati-ati ...." Sahut Amanda dari dalam kamar mandi.


Nilam bergegas menemui Baskara yang sudah menunggu di depan kamar kost.


***


"Terserah mas Bas, aku ikut aja." Sahut Nilam, sembari memasang kuncian helmnya.


"Kok pasrah gitu sih? Kalau mas ajak kamu ke tempat aneh-aneh gimana?"


"Nggak mungkin bapak salah percayain orang untuk jaga aku, mas." Sahut Nilam membuat Baskara tersenyum.


"Yang namanya manusia, Lam. Tempatnya salah dan khilaf."


"Kalau direncanakan sih bukan khilaf namanya mas, tapi disengaja!"


Baskara terkekeh mendengar jawaban Nilam yamg sedikit ketus. Gadis itu, selalu saja berhasil mengusir awan gelap dalam hatinya.


Obrolan sederhana yang terkesan absurd, namun mampu mengembalikan suasana hati yang carut marut, menjadi lebih baik.


"Kita ke pantai yuk, katanya patung ikoniknya sudah hampir jadi." Usul Baskara, setelah hening beberapa saat.

__ADS_1


"Sekalian cari jagung bakar atau lumpia di sana."


"Boleh. Tapi traktir ya ...."


"Siap ratuku ... Untuk Nilam Meira, apa sih yang nggak bisa Baskara lakukan?"


"Duuuhh ... Mulai gombalnya." Nilam yang semula nyaman memeluk pinggang laki-laki itu, langsung menjauhkan tubuhnya, dan melepas belitan tangannya.


Motor Baskara melaju melewati bangunan-bangunan bertingkat di sisi kanan dan kiri jalan. Lalu lintas begitu padat, bahkan di beberapa tempat terjadi kemacetan. Beruntung Baskara tahu jalan-jalan tikus yang hanya muat dilewati satu kendaraan saja.


"Kenapa harus lewat gang-gang kecil gini sih, mas? Mana gelap lagi."


"Tenang ... Mas udah biasa lewatin jalan ini kok. Timbang di jalan umum, macetnya parah begitu." Ucap Baskara.


"Lagian jalan ini juga termasuk jalan pintas, biar kita cepet sampai tujuannya."Nilam hanya mengangguk, tidak lagi memperpanjang obrolan soal jalan yang dilewati.


Deburan ombak yang tidak terlalu besar, menyambut langkah mereka yang baru saja menjejak di pasir putih pantai tersebut.


Bersama pengunjung lain yang cukup ramai, Baskara mengajak Nilam menikmati suasana sore menjelang petang di pantai tersebut.


"Rame ya mas," ucap Nilam sembari matanya liar melihat kiri dan kanan.


"Semakin ramai semenjak ada tiga patung besar itu. Meski belum rampung sempurna, tapi orang-orang sudah penasaran dan ingin melihatnya." Tunjuk Gunadh, ke arah patung megah yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka duduk saat ini.


Nilam mengangguk tanda mengerti. Meski ia juga merasa penasaran, namun melihat banyaknya orang yang berlalu lalang di sekitar tempat itu, membuat ia mengurungkan niatnya untuk mendekat.


"Nanti kalau sudah agak sepi, baru kita ke sana ya ...." Ucap Baskara seolah mengerti apa yang ada dalam kepala Nilam.


Gadis itu mengangguk, dengan senyum manis menghiasi bibirnya.


"Mau cari makanan dulu nggak?"


"Mas laper?" Tanya balik Nilam.


"Nggak sih, mas tawarin kamu. Siapa tahu pengen sesuatu. Kan tadi ada yang minta ditraktir,"


"Nggak sekarang, nanti aja."


Mereka kembali diam, sama-sama menikmati deburan ombak yang menenangkan. Menikmati semilir angin yang tidak terlalu kencang, dengan pemandangan bias cahaya Matari di ujung langit berwarna oranye.

__ADS_1


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^



__ADS_2