
"Awwwwhhh!!"
Zenya dan Velia terkejut, mereka segera menoleh kala pengunjung yang lain berteriak.
Alangkah terkejutnya Zenya kala melihat seorang lelaki tergeletak di hadapannya dengan tubuh yang bersimbah darahh.
Ia dan Velia berpelukan, Tas belanjanya berhamburan, langkahnya perlahan mundur, Badan mereka gemetar.
Pengunjung lain banyak yang mendekat, Ada dari mereka yang nenelepon 112,
Banyak pengunjung lain juga yang membantu Zenya dan Velia,
"Mari nak, Duduk dulu di sebelah sini" Seorang bapak-bapak membantu memapah Zenya, Dan memberi minum pada kedua gadis itu.
"Nak, Kalian gak menyadari ada orang di belakang kalian?" Tanya seorang ibu-ibu
"Ti, tidak buk, Saya dan teman saya mengira jika orang yang di belakang hanya pengunjung yang kebetulan tujuan nya se arah, Tidak di sangka ia berdiri sedekat itu dengan kami" Ujar Velia, Zenya sudah tak dapat berbicara, Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tadi saya melihat, Pria itu seperti sedang menunggu kalian, Sehabis kalian melewati koridor ini, pria itu malah semakin mengekor, Saya mulai curiga, takutnya pria itu ingin berbuat jahat seperti mengambil dompet kalian atau melakukan pelecehan, tapi saat saya ikut mengekor tak di sangka malah ada seorang pria lain yang menikamnya, Pergerakannya sangat cepat" Ujar ibu-ibu tersebut.
Zenya dan Velia semakin dibuat ketakutan, Jika sampai orang itu berhasil melancarkan niat jahatnya kepada mereka berdua, Sudah di pastikan mereka tidak bisa selamat.
"Nona, Apakah anda mengenal orang ini?" Polisi bertanya pada kedua gadis itu, Dengan serentak Zenya dan Velia menggeleng, "Apakah kalian tidak menyadari jika pria ini membuntuti kalian?" Tanya Polisi sekali lagi.
"Tidak pak, Saya dan teman saya sama sekali tidak menyadari bahwa orang ini berdiri sangat dekat di belakang kami"
"Baiklah kalau begitu, Laporan kalian akan kami catat terlebih dahulu, Tolong tinggalkan nomor ponsel kalian, Agar kami bisa lebih mudah mengabari untuk kesaksian lebih lanjut" Velia mencatat nomor nya dan nomor milik Zenya di buku kecil, lalu memberikannya pada Polisi tersebut,
"Permisi" Semua orang sudah bubar, Zenya masih termenung, terbesit perasaan takut didalam hatinya,
"Ze, Masih kaget? Mau istirahat dulu sebentar?" Velia menepuk pelan bahu Zenya,
"Iya, Kita diem dulu disini" Zenya tak bergeming.
"Kok bisa ya kita gak sadar kalau di belakang kita ada orang. Orang itu bahkan bawa senjata tajamm" Velia bergidik ngeri.
"Iya, Terus apa motif pria itu, Perasaan kita gak pernah menyinggung orang lain"
"Jangan sampai ada orang yang dendam sama kita, Bisa gak tenang hidup kita kedepannya" Velia memeluk Zenya dari samping, Zenya masih belum bergeming. Wajahnya tak berekspresi di pikirannya hanya ada satu nama 'Cristhopan'.
"Tidak mungkin ini ulah Cristhopan. Dari pergerakannya sepertinya Pria itu bukan pria sembarangan, Apa aku harus bicara mengenai ini pada Cristhopan. Tapi, Aku takut jika nanti dia salah paham dan menyangka bahwa aku menuduh dirinya" Batin Zenya,
__ADS_1
Setelah di rasa cukup tenang, Zenya dan Velia memutuskan untuk bergegas turun, Mereka di bantu oleh seorang Pria Menggunakan troli guna membawa barang belanjaan milik mereka, Setelah taksi online sudah sampai, mereka bergegas untuk naik dan segera kembali ke Asrama.
Diperjalanan mereka masih di liputi rasa khawatir, Mereka masih diam termenung, Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang asrama. Supir taksi online membantu mereka untuk membawa tas belanjaan mereka ke dalam.
"Vel, Aku istirahat dulu ya, Sepertinya aku terlalu terguncang, Badanku lemas, Nanti setelah terasa mempunyai sedikit tenaga, Aku akan meneleponmu kembali" Velia mengangguk, Walaupun dalam hati ia merasa sedikit aneh, Tak biasanya Zenya seperti ini. Biasanya ia akan meminta Velia untuk menemaninya dikala ia sedih atau susah, Bukan malah menyuruh Velia untuk pergi, Tapi Velia tak mempermasalahkannya, Ia merasa jika saat ini Zenya sedang memberikan batasan di dalam dirinya, Velia merasa bahwa mungkin Zenya sedang menghadapi masalah yang besar, dan masih belum sanggup untuk menceritakan semua pada dirinya.
"Yasudah, Kalau gitu aku juga kembali kekamar dulu. Kalau butuh bantuan, telpon aja ya!" Velia tersenyum, Ia masuk ke dalam kamar yang bersebrangan dengan kamar Zenya.
Zenya menutup pintu perlahan, Setelah itu Ia bersandar, Tubuhnya perlahan runtuh.
"Hhhh, Ini sangat mengganggu pikiranku, Pertama soal Devon yang menuduhku melakukan sesuatu pada Angeline, Terus mendengar Angeline di lukai di bagian wajah, Sekarang kejadian ini. Apa aku harus tanya pada Cristhopan? Tapi kalau nanti dia malah tersinggung aku bisa celaka" Zenya berdialog sendiri.
Ia merogoh ponsel yang berada di dalam tasnya, mulai mencari kontak dengan nama Tuan Cristhopan,
"Aku menelpon atau tidaknya, ya?" Jemarinya kaku, ia ragu untuk menekan nomor tersebut.
Saat hendak mematikan ponselnya, tak sengaja ia menekan nomor itu.
Matanya membelalak "Zenya kau gila?!" ia memekik sesegera mungkin ia menekan tombol merah.
"huffftt.. Kenapa lagi bisa terpijit"
*
*
"Dia hanya misscall?" Gumam Cristhopan, Tangannya menggesek didagu, Tanpa berbasa-basi lagi ia segera menelpon balik Zenya,
Tringg.. Tringg..
Zenya terhenyak kala nomor Cristhopan muncul di layar ponselnya, Ia kalangkabut, "Angkat tidak ya?" Gumamnya, "Masasih panggilan cuman 1 detik bisa sampe, Ya ampun ceroboh banget sih aku" Zenya memukul pelan kepalanya,
Klik
"Halo" Ucapnya sedikit ragu,
"Ada apa?" Suara bariton khas Cristhopan terdengar candu di balik ponsel,
"Ti, tidak tuan" Zenya gugup
"Kenapa? Rindu padaku?" Cristhopan mulai menggoda,
__ADS_1
"Ti,tidak. Aku-aku tidak sengaja terpijit nomor Tuan" Raut wajah Cristhopan berubah, Ia menaikkan satu alisnya.
"Tidak mau jujur ya?" nadanya menelisik
"Tuan, Aku takut jika kamu tersinggung" Suara Zenya melirih,
Cristhopan memalingkan wajahnya sejenak, Tangannya ia angkat guna memberikan kode untuk berhenti kepada orang yang sedang presentasi. Billy mengangguk, "Berhenti dulu, Tuan sedang menerima telepon penting" Ujar Billy, Orang itu pun mengangguk
"Tuan pasti menelepon Nona Zenya" Gumam Billy dalam hati.
"Bagaimana aku bisa tahu tersinggung atau tidak jika kamu belum bicara" Cristhopan menaikkan satu kakinya.
"Tuan, Kemarin aku dihadang oleh seseorang, Ia menanyakan perihal Angeline kepadaku. Setelah malam itu, Aku tidak bertemu dengan Angeline, Tuan apakah kau tahu kemana Angeline pergi?" Cristhopan mengulum bibirnya, Ia beranjak dari kursi, Lalu menyuruh Billy untuk menghampirinya.
"Sebentar" Ia bicara pada Zenya
"Kau urus dulu disini, Aku kembali ke ruangan ku sebentar. Ada yang tidak beres" Raut wajah Cristhopan sangat serius, Billy mengangguk setelah itu Cristhopan bergegas kembali ke ruangannya.
"Angeline, Malam itu aku memang sedikit memberinya pelajaran karna dengan lancang ia memanggil namaku berulang kali, Tapi setelah itu anak buahku membiarkannya pergi, memang ada apa dengan Angeline?" Billy mengekor, ia menutup pintu dengan pelan, Ia tersenyum sesaat kala mendengar Cristhopan sedang menjelaskan sesuatu pada Zenya.
"Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi kepada Angeline, Tapi orang itu terus mendesakku untuk mengakui sesuatu yang tidak kulakukan, Ia menyalahkan aku telah berbuat sesuatu pada Angeline"
"Siapa orang yang sudah mendesakmu?" Billy menaikkan wajahnya kala mendengar Cristophan berbicara seperti itu. Ia merogoh ponsel yang berada di saku jas nya,
"Itu tidak penting, Awalnya aku pun tidak terlalu menganggap serius omongan orang itu. Tapi tadi, saat aku sedang makan siang di kantin kampus, Tak sengaja mendengar pembicaraan orang, mereka membicarakan Angeline yang wajahnya penuh dengan luka" Zenya seperti tak enak hati untuk berbicara
Cristhopan termenung, "Bukan aku yang melakukannya"
Zenya terhenyak, "Syukurlah, Aku sudah menduganya" Zenya berbicara lirih.
"Terus ada apa lagi? Hanya mau menanyakan tentang orang lain? Kau sama sekali tidak ingin tahu kabarku?" Cristhopan mulai terlihat badmood
"Ermh, Itu.. Tadi aku mengalami insiden saat belanja"
Deg!
Cristhopan menatap tajam ke arah Billy, Billy yang baru mendapat kabar dari bawahannya menenggelamkan wajahnya sangat dalam.
○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang setia membaca Cinta Kedua ~ Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote. Tambahkan sebagai Favorit juga agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~ Terimakasih~
__ADS_1