CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 72


__ADS_3

"Lam ... Plisss buka pintunya, aku tahu kamu di dalam. Beri aku satu kali lagi, kesempatan untuk bicara ...." Dengan suara memohon, Pandu menggedor pintu kostan, tempat tinggal gadis itu.


Nilam membekap mulut dan menutup kepalanya dengan bantal. Berharap suara itu tidak lancang menerobos masuk, namun tetap saja, gendang telinganya terlalu peka, hingga panggilan pria yang sudah menorehkan luka begitu dalam di hatinya itu masih tetap bisa ia dengar.


'Pergi mas ... Jangan lagi mengusik hati yang sudah kau koyak dengan begitu kejam ... Aku lelah menelan kebohongan dan bergumul dengan prasangka selama ini.' Lirihnya dengan air mata menetes membasahi pipi putihnya.


"Lam... Jangan gini donk ... Jangan kayak anak kecil ..." Desak suara itu lagi, kali ini sarat dengan emosi tertahan.


"Baik, kalau kamu nggak mau buka, aku akan tetap diam di sini. Nggak perduli penghuni kost lain memarahi aku, atau bahkan ngeluarin kamu dari tempat ini." Ancam laki-laki itu.


Namun tetap saja, tidak ada reaksi apapun dari dalam sana yang menandakan kalau Nilam akan membuka pintu untuknya.


"Untuk apa lagi kamu kemari?" Suara berat yang Pandu benci selama ini, mengejutkan laki-laki itu. Ia menoleh, menatap penuh permusuhan ke arah Baskara, yang berdiri bersisian dengan Amanda.


Keduanya menampakkan wajah yang tidak ramah ke hadapan Pandu.


"Masih punya nyali juga mas datang kemari ya?" Ucap Amanda, mendekati laki-laki itu.


"Kalian nggak usah ikut campur masalahku dan Nilam. Urusi saja hidup kalian sendiri."


"Apa? Nggak usah ikut campur?" Amanda tersenyum mengejek.


"Agar apa? Agar mas lebih mudah memperdaya dia, begitu? Lebih mudah memainkan peran menjadi laki-laki baik di depannya? Nggak ngaruh mas ... Nilam sudah tau semuanya! Bagaimana bej atnya kamu, dia sudah tau!" Amanda begitu berapi mencerca Pandu.


Sejenak laki-laki itu terdiam. Merasa terkejut, dengan apa yang diucapkan Amanda. Namun ia tidak ingin menyerah. Ia yakin Nilam pasti mengerti posisinya saat ini.


Ia ingin menceritakan semuanya. Bagaimana ia dijebak oleh Delvia dan Laksmi, hingga semua bisa berakhir seperti saat ini. Ia tidak ingin berbohong lagi pada kekasihnya.


"Sebaiknya mas Pandu pergi! Jangan lagi datang, memohon pada Nilam, seperti tidak punya harga diri. Udah cukup mas bikin dia menangis semalaman ...."


"Nggak bisa! Salah faham ini harus berakhir. Dia harus denger dulu penjelasan dariku." Kembali Pandu berusaha mengetuk pintu kamar Nilam.


Namun tanpa dia duga, Kerah jaket yang ia kenakan, ditarik oleh seseorang dari belakang.


"Sudah ku bilang jangan mengusiknya lagi!"

__ADS_1


Sebuah pukulan Baskara layangkan ke arah wajah Pandu.


Ketidak siapkan laki-laki itu, membuat tubuhnya terhuyung dan jatuh.


"Aaaa ...." Jeritnya memegang pipinya yang terasa ngilu.


"Ban gsat! Berani sekali kau!" Serunya, seraya bangkit.


Ia ingin membalas apa yang dilakukan Baskara padanya barusan. Namun belum sempat ia melaksanakan niatnya, sebuah tendangan kembali mengenai perutnya.


Hampir saja ia terjungkal ke halaman, bersyukur tangannya mampu menggapai pilar beton si sampingnya.


"Mas Bas ... Udaah ... Jangan membuat keributan."


Amanda meraih baju Baskara dari samping, ketika laki-laki itu berniat menerjang Pandu kembali.


"Aku nggak akan biarkan laki-laki ba nci seperti dia mendekati Nilam lagi, Manda. Sudah cukup aku melihat dia menangis dan hancur seperti saat ini. Aku bertanggung jawab, bukan hanya atas fisiknya, tapi juga jiwa Nilam." Jelas Baskara.


"Cuih! Aku tau kamu suka sama dia. Sejak awal aku liat tatapan matamu yang memujanya, aku tau kalau kamu berniat merebut Nilam dariku. Dan sekarang, kamu memanfaatkan masalah yang menimpa hubungan kami. Kamu berniat menjadi pahlawan untuknya, begitu? Heh ... Kasihan sekali! Nilam hanya mencintaiku, jangan bermimpi ingin mendapatkannya. Sebab aku yang sudah mendapatkan semua yang dia miliki."


"Aku nggak nyangka kamu laki-laki memalukan mas. Sama sekali nggak nyangka. Busuk hatimu, bisa dengan sempurna kamu tutupi dengan wajah sok alim mu itu. Jangan mengucapkan apapun yang bisa membuat Nilam semakin membencimu."


Keributan di teras depan kamar Nilam, menimbulkan rasa ingin tahu dari tetangga kost yang lainnya. Mereka tentu merasa terganggu, dengan kegaduhan yang terjadi.


"Mas, mba, bisa cari tempat lain nggak untuk selesaikan masalah kalian? Jangan di sini. Jangan menganggu waktu istirahat kami." Tegur salah satu penghuni kamar.


"Maaf mas, atas ketidak nyamanannya. Kami udsh beres kok." Amanda tersenyum kaku, merasa tidak enak hati.


"Udah denger kan? Sebaiknya mas Panduan pergi dari sini. Jangan menambah masalah baru bagi Nilam." Tegas Amanda.


Namun Pandu masih bergeming. Akhirnya baskara memutuskan untuk menyeret laki-laki itu keluar gerbang kostan.


"Manda, kamu temani Nilam ya, aku balik dulu."


"Tapi mas ... Makanannya?"

__ADS_1


"Gampang, aku nanti beli lagi. Pastikan dia makan, malam ini ya. Titip Nilam." Ucap Baskara sebelum berlalu.


Pandu terpaksa mengikuti langkah baskara yang semula menyeretnya. Perutnya masih terasa sakit, belum lagi pipinya yang bengkak, membuat ia pasrah dan memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Ia masih punya waktu besok pagi untuk menemui Nilam, sebelum ia kembali ke kota B, sesuai janjinya pada sang papa.


Setelah kepergian dua laki-laki itu, Amanda menghubungi ponsel Nilam. Ia tidak mungkin menggedor pintu itu lagi, takut menimbulkan keributan seperti sebelumnya.


Cukup lama Amanda menunggu, hingga akhirnya Nilam mengangkat panggilannya.


"Iya Nda ...." Sahut Nilam dengan suara parau.


"Astagaaaa Lam ... Kamu tidur?" Amanda menjawab dengan berbisik, namun suaranya penuh penekanan.


"Buka pintunya cepetan, aku diluar ini jadi santapan nyamuk!" Tanpa menunggu jawaban Nilam, gadis tomboy itu memutus sambungan teleponnya.


Dengan muka bantalnya, Nilam membuka pintu kamar.


Gadis itu sedikit linglung, mungkin karena belum terjaga dengan sempurna.


Baru setelah ia mencuci wajahnya, ia benar-benar sadar. Nyawanya sudah terkumpul sempurna.


"Mas Bas mana, Nda?" Tanyanya, setelah menyadari kalau laki-laki yang memaksa mengantarnya kembali ke kota N, tidak terlihat batang hidungnya.


"Udah balik." Sahut Amanda singkat.


"Kok nggak pamit sama aku?" Lirih Nilam, sembari melirik jam dinding.


"Udah jam sebelas," sambungnya lagi.


"Kamu kira ini jam berapa?" Tanya Manda, sembari membuka bungkusan yang ia bawa. Makanan di dalam styrofoam itu sudah dingin, namun Amanda tetap menghidangkannya di depan Nilam.


"Nih, hari ini special kita makan makanan laut seharian." Ia menyodorkan cumi pedas manis yang menjadi salah satu makanan kesukaan Nilam.


"Kok udah dingin sih Nda?"


"Udaaah makan aja, yang penting cacing di perutmu nggak demo. Punyaku juga udah dingin, ni liat. Bentar lagi beku ini," tunjuknya pada makanan yang ia santap.

__ADS_1


Tanpa bertanya apa pun lagi, Nilam akhirnya menikmati apa yang temannya bawakan untuknya itu. Bersyukur nasi yang ia masak pagi harinya, tidak ia pindahkan dari menghangat nasi, sehingga saat ini ia masih bisa menikmati makanan hangat.


__ADS_2