
Bu Rahma dan Utari pergi meninggalkan ruangan tempat Baskara dirawat, setelah kembali kalah dalam perdebatan. Jika kemarin Pak Brata yang membungkam mereka, kali ini giliran Baskara yang membela Nilam. Dengan wajah memerah menahan marah, Bu Rahma berlalu tanpa kata meninggalkan sang anak, disusul Utari di belakangnya.
Sementara di ruangan itu, baik Nilam maupun Baskara hanya diam, tidak mengucap sepatah katapun melihat sikap dua wanita beda generasi yang menghentakkan kakinya ke luar ruangan.
Cukup lama mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, membiarkan keheningan menyelimuti keduanya. Hingga akhirnya kata "maaf," terucap dari bibir pasangan kekasih itu secara bersamaan.
Tatapan mereka kembali saling beradu, tapi Nilam segera memutus kontak matanya, sebab tidak ingin merasakan kecanggungan lebih lama lagi.
"Sayang," panggil Bas menggerakkan tangannya, mencoba meraih tangan sang kekasih.
Nilam yang melihat pergerakan laki-laki itu, berinisiatif memindahkan tangannya ke atas ranjang. Memasrahkan jemarinya dikuasai jari kokoh milik Bas.
"Gara-gara aku kalian jadi berantem. Maafin aku ya, Mas." Nilam melanjutkan kalimat yang sejak tadi menari dalam kepalanya.
Bas menggeleng, "mestinya mas yang minta maaf sama kamu, mas belum bisa menghadirkan suasana nyaman untuk kamu," ucapnya penuh rasa bersalah.
"Tetap bertahan ya, Sayang. Temani mas," pinta laki-laki itu lagi dengan wajah sendu.
"Tapi Mas,"
"Please, jangan menolak mas lagi. Mas hancur tanpa kamu, Lam. Mas nggak berarti apa-apa,"
"Jangan ngomong gitu, Mas!"
"Tapi itu faktanya, Lam."
"Aku nggak mau menjadi perusak hubungan sebuah keluarga, Mas. Aku nggak mau, Mas menjadi durhaka karena aku. Biar bagaimanapun, keluarga jauh lebih penting daripada hubungan kita. Mas bisa menemukan wanita yang lebih baik daripada aku, di luar sana."
"Sayangnya mas nggak berminat dengan wanita di luar sana."
__ADS_1
"Mas,"
"Mas capek, Lam. Kepala mas sakit. Mas tidur dulu ya. Nanti kalau kamu keluar, sekalian tolong belikan mas jus alpukat," ucap Bas menghentikan perdebatan.
Laki-laki itu sedikit meringis saat membenarkan posisi bantalnya. Nilam ingin membantu tapi senyum Bas menghentikan gerakannya.
"Udah kok, ini udah nyaman," ucap Bas.
Nilam kembali duduk, menatap Bas yang sudah memejamkan mata. Ia ingin meraih tangan besar laki-laki itu, ingin mengusapnya dengan lembut, berharap bisa memberikan rasa nyaman pada Baskara. Namun semua urung ia lakukan, karena rasa ragu yang muncul di hatinya.
Nilam menarik nafas dalam, dan menundukkan kepala. Memainkan jari-jarinya untuk membunuh waktu.
"Mba Nilam." Seseorang menyentuh pundak Nilam, membuat gadis itu terkejut dan refleks menoleh.
"Eh maaf, Mba kaget ya?" Sembari tersenyum canggung, Satria berucap.
"Iy-ya. Kirain nggak ada orang di belakang. Kamu udah tadi datangnya? Kok nggak kedengeran suaranya?"
"Oh ya, Mba udah makan? Aku beli ini tadi di jalan," lanjut Satria mengangkat tangan kirinya, menunjukkan plastik yang ia bawa.
"Mau makan bareng nggak?" tanya Adik Laki-laki Baskara itu lagi.
"Kita duduk di sofa aja, Mas Bas juga udah tidur kan?"
Nilam menurut apa yang diucapkan Satria. Ia bangkit menuju sofa, dan ikut menikmati makanan yang dibawa calon adik iparnya itu. Sembari bercerita ke sana ke mari, tanpa terasa waktu yang mereka habiskan cukup lama.
"Sat, kamu sibuk nggak? Mau kemana habis ini?"
"Nggak ada, Mba. Kenapa?"
__ADS_1
"Mba mau pulang sebentar, mau ambil baju ganti. Kamu jagain Mas Bas ya,"
"Oh, ya Mba. Nanti biar aku di sini. Tapi Mba pulang sama siapa?"
Nilam seketika bingung. Benar juga. Kemarin dia datang diantar Amanda, sebab dia yang panik tidak bisa fokus membawa kendaraan sendiri.
"Eee nanti mba minta Damar untuk jemput," ucapnya setelah berpikir beberapa saat.
"Kamu aja yang anter Mba Nilam pulang, Sat. Kasihan Damar bolak balik." Suara Baskara mengalihkan pandangan keduanya.
"Mas," Nilam mendekat ke ranjang.
"Habis makan apa?" Tanya Bas.
"Itu tadi Satria bawain pizza sama Boba. Mas mau?"
Bas menggeleng.
"Jadi beliin mas jus alpukat?"
"Oh iya, lupa. Sekarang aku beliin ya. Tunggu sebentar."
"Nggak usah, nanti aja, pas kamu balik dari rumah."
"Tapi kan lama, Mas."
"Nggak pa-pa. Oh ya, kalau mau pulang, sekarang aja. Biar nanti balik ke sini nggak kemaleman."
"Trus Mas di sini sendiri dong?"
__ADS_1
"Nggak masalah. Nanti bisa minta tolong sama perawat, kalau butuh apa-apa. Yang penting nanti kamu balik ke sini lagi."
Nilam hanya bisa menganggukkan kepala. Tidak bisa menolak apa yang diinginkan laki-laki di depannya.