
Bila ingin kecewa, haruskah kecewa pada takdir? Bila ingin marah, bolehkah marah pada keadaan? Ternyata luka yang sama bisa menciptakan rasa sakit yang berbeda, ketika sayatan itu diciptakan oleh keluarga sendiri.
Merutuk, menyesali hidup bukanlah pilihan. Namun kenyataannya, apa yang terjadi membuat Baskara merasa nelangsa. Kenapa Tuhan memilihkan dia keluarga yang tak pernah bisa menghargainya? Sejahat apa dia di kehidupan lalu, hingga kini harus menanggung karma buruk yang menyesakkan hati?
Baskara membaca berulang kali potongan percakapan yang Nilam kirim, seolah itu adalah mantra yang harus dihafalnya. Semakin sering ia baca, semakin terremass hatinya, hingga dadanya sesak dan sulit bernafas. Tanpa terasa air matanya menetes.
Inilah titik kulminasi semua rasa pedih, sakit hati, dan kecewa yang ia rasakan. Ia tidak lagi memiliki toleransi pada apa yang Utari lakukan. Hingga dengan tangan gemetar menahan emosi, ia menghubungi ibu satu anak yang dulu begitu ia sayangi itu.
Namun sayang, panggilannya tak terhubung. Mungkin ponsel sang adik sedang tidak aktif. Hingga ia kembali harus menelan kemarahan yang siap ia muntahkan sebelumnya.
__ADS_1
"Bas," suara Gilang mengejutkan Bas yang tengah terpekur dengan rokok yang hampir habis di sela jarinya.
Wajahnya nampak kusut, membuat sang sahabat menatap dengan alis berkerut.
"Ada apa lagi? Jangan bilang kau bertengkar dengan Nilam lagi," ucap Gilang sembari meletakkan bungkus sarapan yang baru dibelinya.
Seperti biasa, Gilang-lah yang setiap hari bertugas membeli makan untuk mereka berdua. Baskara sangat jarang keluar, ia lebih memilih mengukir kertas dari pada harus menghabiskan waktu mengantri di warung makan.
"Utari bikin ulah lagi," sahut Bas lesu, tanpa mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Gilang terdengar mendengus. Sambil berlalu mengambil piring, laki-laki itu berucap, "kamu yakin Nilam bakal kuat ngadepin ibu dan adikmu yang kelakuannya di luar nalar? Apa nggak kasihan sama calon istrimu itu? Dia yang lahir di keluarga yang hangat, nggak pernah ada konflik, tiba-tiba harus masuk ke kandang singa di mana orang-orangnya fokus mikirin diri sendiri dan nggak segan menyakiti orang lain," oceh Gilang dengan jujur.
Entah membenarkan atau menyangkal ucapan sang sahabat tentang keluarganya, Baskara hanya bisa menatap dengan tatapan datar, pemuda yang sudah ia anggap seperti saudaranya itu. Gilang menoleh ke belakang, seolah mengerti akan arti tatapan sang sahabat, laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.
"Sorry kalau ucapanku bikin kamu tersinggung. Tapi coba pikirkan baik-baik, apakah yang aku bilang itu benar atau salah," ucapnya sembari melangkah meninggalkan dapur.
"Selama ini, kamu kerja banting tulang, ibumu selalu punya alasan buat meras kamu. Bahkan adikmu si Utari, kayak nggak ada malu-malunya minta duit buat kebutuhan dia dan anaknya. Padahal kan kita semua tau, ibumu selalu membanggakan mantunya, yang katanya anak orang berada. Sementara kamu, yang anaknya, mana pernah ibumu bangga? Tapi saat ada kepentingan, kamu yang harus bertanggung jawab." Gilang terus bicara, sementara tangannya sibuk memindahkan makanan ke atas piring lalu mengulurkannya pada Baskara.
Bas menerima piring yang diulurkan sang sahabat. Ia tak mengucap satu patah katapun, menanggapi komentar Gilang. Namun hati dan pikirannya bekerja keras mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
Kalau dipikir, Gilang seharusnya tidak berhak memberi komentar terlalu pedas tentang Utari dan ibunya. Terlebih komentar itu ia tujukan langsung pada Baskara. Namun Gilang adalah salah satu orang yang setia bersama Baskara. Menjadi sahabat, bukan hanya saat Bas memiliki pekerjaan dan uang, melainkan disaat tersulit pun ia ada. Mereka tak jarang berbagi sebatang rokok berdua, ketika sama-sama tidak memiliki uang. Dan Baskara tahu, Gilang adalah orang yang tulus dan apa adanya. Bukan orang yang suka bermuka dua, demi kepentingannya sendiri.