CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 56


__ADS_3

Amanda yang resah mengetahui rahasia besar itu seorang diri, memutuskan untuk menceritakan semua yang ia dengar pada Baskara.


Awalnya pria itu tidak percaya, namun setelah Amanda menjelaskan apa saja yang di dengarnya, pria itu akhirnya percaya apa yang di ucapkan gadis itu.


"Kasian Nilam mas Bas ... Dia terlalu baik untuk menjadi korban pengkhianatan seperti ini." Ucap Amanda, saat ia dan Baskara bertemu ketika jam makan siang.


Baskara menarik nafas dalam. Jujur ia sakit mendengar semua itu, namun apa yang bisa dilakukannya?


Baskara tidak ingin terlalu ikut campur, urusan percintaan Nilam.


Baginya, Nilam sudah dewasa, sudah tahu harus bersikap seperti apa dalam menghadapi masalah.


"Semua sudah jadi takdirnya dia, Nda ... Kita sebagai teman hanya bisa menjaga dan menemani dia disaat terpuruknya. Syukur kamu tahu, sebelum Nilam menjalani hubungan lebih serius lagi dengan pria itu, jadi kamu bisa memberi dia peringatan. Tapi hanya sebatas itu yang bisa kit lakukan. Kit tidak bisa melangkah terlalu jauh, masuk dalam urusan pribadi mereka." Ucap Baskara langsung lebar.


"Berarti mas bas rela, cewek yang mas suka, mas sayang, disakiti oleh orang lain?"


"Bukan masalah rela atau nggak ... Tapi ini masalah perasaan. Kita nggak tau seperti apa reaksi Nilam nanti saat mengetahui kekasihnya berbuat bejat di belakangnya. Apa dia marah, atau pasrah menerima. Jangan sampai kita yang sebagai penonton, lebih galak dibanding dia yang menjalani." Jelas Baskara lagi.


Amanda diam, mencerna ucapan laki-laki yang sempat ia kagumi itu.

__ADS_1


Benar kata pria itu, semua ada di tangan Nilam. Ia dan Bas hanya orang luar yang kebetulan tahu seperti apa hubungan yang dijalani Nilam. Namun sekali lagi, sebanyak apapun ia tahu, ia hanyalah orang luar yang tidak berhak menentukan nasib hubungan itu.


"Kamu jangan khawatir, aku yakin Nilam gadis yang kuat. Kita hanya perlu menjaganya dari jauh aja. Tapi untuk saat ini aku nggak bisa jagain dia terus. Kamu tau sendiri pekerjaan aku yang berpindah-pindah tempat, nggak memungkinkan untuk aku selalu ada di sini. Jadi aku harap kamu akan selalu ada menjadi teman disaat terberatnya, dan jangan meninggalkan dia saat ia tau semuanya. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Kalau ada apa-apa kabari aku ya ..." Baskara menatap Amanda, memastikan gadis itu setuju dengan apa yang dikatakannya.


Amanda mengangguk, menyanggupi apa yang diucapkan pria itu.


Mereka menyelesaikan makan siangnya, sebelum akhirnya berpisah, menjalani aktifitas masing-masing.


Selepas kepergian Amanda yang jam istirahatnya sudah habis, Baskara pun meninggalkan warung makan pinggir pantai, tempat favorit gadis tomboi itu mengisi perut.


'mungkin ini jalan Tuhan untuk mendekatkan kita, Lam ... Aku tau kamu pasti akan terluka. Tidak ada yang akan baik-baik saja ketika cintanya berbalas dusta. Tapi percayalah, air matamu tak akan berakhir sia-sia. Akan tiba saatnya datang bahagia, menjadi alasan untuk kamu mengulas tawa.' gumam Baskara seolah sedang bicara pada Nilam.


***


Itulah yang dirasakan Pandu saat ini.


Setelah mengetahui semuanya, pria itu begitu marah pada dirinya sendiri.


Tangis pilu Nilam, ungkapan perasaan gadis manis itu, serta rencana sang kakak dan Delvia yang ternyata bekerja sama ingin merusak hubungan keduanya, membuat ia ingin membenturkan kepalanya karena menyesal.

__ADS_1


Sejak pagi ia menyibukkan diri di ruang olah raga, yang mulai jarang ia datangi beberapa waktu terakhir.


"Pandu, kamu kenapa sih? Dari kemarin mukanya ditekuk begitu." Laksmi, sang kakak datang menghampirinya. Membawa segelas jus untuk diberikannya pada Pandu.


Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan fokusnya sekilas dari samsak yang ada di depanmya, kemudian kembali lagi memukul benda berbentuk guling itu dengan emosinya lebih besar.


"Kakak buatkan kamu jus, diminum ya ... Oh ya sebentar lagi kami mau balik ke kota G."


Ucapan Laksmi tidak sedikitpun ditanggapi oleh Pandu, membuat sang kakak kesal.


"Pandu! Kamu tuh kenapa sih? Dari tadi kakak ajak ngomong, nggak sekali pun kamu jawab. Kamu marah sama kakak? Salah kakak apa?" Laksmi yang kesal, menaikkan nada suaranya di hadapan sang adik.


Pandu menghentikan aktifitasnya, menatap sang kakak intens lalu meninggalkan ruangan itu sembari menahan kesal.


"Apa si Nilam udah ngadu sama kamu, sehingga kmu marah sama kakak?"


Pandu menghentikan langkahnya.


"Jika dia tau apa yang terjadi, dia bukan mengadu kak, tapi pergi meninggalkanku. Selamat ya, kakak berhasil membuat aku menciptakan noda dalam hubungan kami."

__ADS_1


Mendengar ucapan Pandu, membuat Laksmi membeku.



__ADS_2