CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 162


__ADS_3

Hingga malam Nilam tidak bisa melupakan pesan yang ia terima. Ingin memberi tahu Bas, tapi hatinya ragu. Ia tidak ingin menambah beban calon suaminya itu. Ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri, nanti. Namun seolah memiliki ikatan batin yang kuat, justru Bas yang menghubungi dirinya dan menanyakan keadaannya.


"Mas terus-terusan kepikiran sama kamu, sayang. Kamu baik-baik aja, kan?" tanya laki-laki itu saat Nilam menerima panggilannya.


"Baru tadi, lho Mas. Belum ada dua jam kita teleponan, kan? Mas udah tau, kalau aku baik-baik aja. Jangan terus over thingking, Mas. Nggak baik," ucap Nilam dengan kekehan kecil.


"Kamu nggak tau gimana perasaan mas. Mungkin mas nggak seistimewa itu di hati kamu, jadi kamu nggak se-khawatir mas sekarang," Rajuk Bas mendengar ucapan Nilam.


"Nggak gitu, Mas. Mas Bas kok kayak anak kecil sih, sekarang? Gampang banget ngambek. Aku yang pms aja nggak sesensitif itu, lho."


Bas tidak lagi menjawab ucapan Nilam. Ia diam, tapi deru nafasnya dapat Nilam dengar dengan jelas.


"Aku nggak harus meyakinkan dengan kata-kata perasaanku ke mas, kan? Ucapan yang keluar dari bibir bisa saja berbeda dengan apa yang ada di hati. Mas tau seperti apa perasaanku, jadi aku mohon jangan mempertanyakannya lagi. Aku nggak selalu nanyain keadaan mas, bukan karena aku nggak sayang, tapi karena aku percaya mas bisa jaga diri mas di sana. Aku yakin, mas nggak akan lakuin sesuatu yang bisa bahayain diri mas, karena aku tau mas nggak akan mau membuat aku sedih, di sini. Sehebat itu aku percaya sama kamu, mas," ucap Nilam lembut.


"Mas juga percaya sama kamu, sayang. Mas juga tau kamu bisa jaga diri. Tapi tetap saja, dari siang tadi mas merasa gelisah, lebih dari sebelumnya. Mas coba abaikan, tapi kayak ad yang ganjal di hati mas. Itu mangkanya mas nanya, apa ada sesuatu? Bukan karena mas nggak percaya sama kamu," terang Bas lagi.


"Iya mas, aku tau. Aku nggak pa-pa. Kalau ada sesuatu, orang pertama yang akan aku kasih tau pasti mas Bas. Jadi tenang, ya. Fokus sama kerjaan, biar bisa cepet pulang," bujuk Nilam.


"Kamu kangen? Mas bisa ambil cuti beberapa hari kalau kamu mau mas pulang," sahut Bas dengan cepat.


"Nggak usah! Jangan cuti-cuti lagi. Ingat waktu kita semakin mepet. Semakin sering mas libur, semakin banyak waktu yang terbuang. Banyak yang harus disiapkan setelah ini, kan?" tolak Nilam. Gadis itu terkejut dengan reaksi kekasihnya yang terlalu semangat jika menyangkut soal pulang.

__ADS_1


"Gitu ya? Tapi mas kangen kamu, sayang," Bas merengek.


"Mangkanya cepetan selesaiin kerjaannya, biar cepet bisa pulang."


"Kamu udah nggak sabar ya mau ketemu mas?"


"Memangnya mas masih bisa sabar?" tanya balik Nilam.


Bas terkekeh, suasana hatinya mulai membaik kini.


Setelah berbincang lebih kurang 30 menit, akhirnya pasangan yang tengah dimabuk cinta itu mengakhiri panggilan.


Karena obrolan bersama Baskara barusan, Nilam akhirnya bisa melupakan pesan dari nomor misterius yang sempat mengganggu pikirannya. Gadis itu bersiap untuk tidur, setelah memastikan semuanya aman.


Sementara di tempat berbeda, seorang wanita tengah gelisah, dan tidak bisa memejamkan mata karena kedua kakaknya tidak mau membantu memberinya uang.


Ia melirik laki-laki yang sudah terlelap di sampingnya. Merasa kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Boleh nggak sih, aku bilang nyesel nikah sama kamu? Katanya aja orang kaya, tapi ibu bapakmu nggak mau tanggung jawab sama anak, sama mantu. Masa bayarin hutang enam juta aja nggak mau? Padahal itu motor anaknya yang pake," sungutnya menatap ke arah sang suami.


"Coba aja Mas Bas nggak deket sama si Nilam itu! Pasti mau bantuin aku saat kesusahan begini. Dasar perempuan nggak tau diri! Belum juga jadi istri udah berani nyetir mas Bas sampai jauh dari keluarga. Liat aja, aku bakal terus neror dia, biar tau rasa!" Utari meraih ponsel yang sebelumnya disimpan di balik bantal. Mengetik pesan, dengan umpatan dan cacian yang bahkan lebih sadis dari pesan sebelumnya.

__ADS_1


Iya, dialah pengirim pesan untuk Nilam beberapa saat lalu. Ibu satu anak itu melampiaskan kekesalannya Karen sang kakak, Baskara, tidak mau membantunya sama sekali. Bukan hanya Bas, satria pun tidak mau ikut campur masalahnya kali ini.


Keesokan paginya, Utari ke dapur seperti biasa untuk membantu sang ibu.


"Kenapa muka kamu ditekuk begitu?" Tanya Bu Rahma.


"Ibu, tolong bilangin mas satria dong, aku perlu banget uang itu. Kalau nggak bayar besok, motor suamiku bakal ditarik sama bank," rengeknya langsung pada sang ibu.


"Kemarin katanya minta tolong si Bas untuk bayarin?"


"Mas Bas nggak mau ngasih uang, Bu. Katanya biarin aja motornya ditarik, lagian ngapain ambil kredit kalau nggak bisa bayar? Buu aku mesti gimana dong?"


"Masa Bas bilang gitu ke kamu? Wah bener-bener ya, dia mau lepasin tanggung jawab di rumah ini. Kamu tenang aja, nanti biar ibu yang telepon dia. Tapi ingat suruh suami kamu juga nyari kerjaan. Jangan tiap hari maiiin aja, nongkrong nggak jelas!"


"Iya, Bu."


Bu Rahma lebih memilih meminta pada Baskara, sebab anak pertamanya itu lebih bisa dikendalikan dibanding Satria. Ia tidak sadar, sesabar-sabarnya manusia, pasti memiliki batas. Dan saat ini, Baskara ada pada keterbatasannya itu.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Huuuuh menguras emosi ya kalau ngadepin orang nggak sadar diri macem Utari? Di sini ada nggak yang punya sodara kelakuannya bikin naik darah terus?

__ADS_1


Oh ya sembari nunggu NilBas update, intip karya temen othor yang lain yuk,



__ADS_2