
Delvia menatap punggung Pandu dengan perasaan terluka.
Apa yang terjadi?
Hingga laki-laki itu mengabaikannya, acuh akak kehadirannya, bahkan menghindar bila tanpa sengaja bertemu di suatu tempat.
Beberapa pengunjung melihat kejadian itu, dan saling berbisik. Entah apa yang mereka bahas, namun Delvia yakin saat ini, dirinyalah yang dijadikan bahan ghibah oleh mereka.
Dengan segala rasa malu, marah, dan kecewa, ia meninggalkan kafe itu.
Seseorang yang duduk di salah satu meja pengunjung, menatap wanita itu sembari memainkan sedotan di atas gelas jus nya.
'Jadi ini wanitanya? Apa saat ini hubungan keduanya tengah renggang?'
Sebenarnya ia enggan ikut campur urusan orang lain, nun ini menyangkut wanita yang dicintainya, tentu ia ingin mengetahui apa saja yang terjadi di sekitar pujaan hatinya.
Pria itu mengambil ponsel dari dalam saku jaketnya. Memainkannya sebentar, lalu memasukkannya kembali.
Ia menghembuskan nafas sedikit kasar, lalu kembali fokus dengan makanan dan minuman di depannya.
Di sisi lain, Delvia yang meras kesal akhirnya memutuskan kembali ke dalam mobilnya.
"Mba, ada apa sebenarnya sama Pandu? Kenapa dia terus menghindar dari aku?" Tanya Delvia melalui sambungan telepon.
Ia memutuskan menghubungi Laksmi, setelah merasa buntu tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaan yang muncul di hatinya.
"Jadi dia marah sama kamu juga?"
"Maksud mba?"
"Mmm Pandu tahu soal kita yang ngerjain Nilam. Dia marah sama mba, pas acara itu."
Delvia diam sejenak. Mengingat kejadian apa yang terjadi di kota N sebulan yang lalu, saat ulang tahun perkawinan kedua orang tua Pandu.
"Kenapa Pandu bisa tau masalah itu? Apa si Nilam mengadukannya?"
"Entah lah Via, mba jug nggak bisa cari tau. Pandu marah sama mba, dan sampai sekarang dia nggak mau ngomong sama mba."
"Huuuh, ternyata lumayan besar juga pengaruh cewek itu ke adikmu ya mba." Delvia tersenyum kecut.
__ADS_1
"Nggak gitu juga Via, dia hanya marah karena merasa dibodohi. Kamu harus tetap semangat untuk ambil hatinya, jangan menyerah. Level kamu jauh di atas gadis kampungan itu."
Seru Laksmi, memberi semangat pada Delvia.
Tentu ia tidak sudi mendengar seseorang memuji Nilam. Baginya, Nilam bukan apa-apa, tidak akan berpengaruh apapun dalam kehidupan sang adik.
Delvia terdiam, menimbang apa yang diucapkan Laksmi. Memang ibu satu anak itu benar. Kenapa dia yang harus mengalah? Bukankah dia jauh di atas Nilam? Dari segi apapun dirinya jauh lebih baik.
"Halo Via,"
"Iya mba, aku dengar."
"Ada apa lagi? Kenapa diam?"
"Oohh nggak ... Aku lagi mikir gimana caranya deketin Pandu lagi."
"Biar saja dulu dia tenang, kasi dia waktu barang seminggu, jangan kamu ganggu dulu. Kalau masih sama, kita jalankan rencana kedua kita." Sahut Laksmi, membuat bibir Delvia melebar, dengan mata menyipit.
Suasana hatinya yang semula buruk, kini perlahan kembali membaik, setelah mendengar ucapan Laksmi.
"Okey mba ... Aku jadi nggak sabar buat banting perasaan cewek itu biar hancur berkeping."
***
Amanda melirik Nilam sejenak, sebelum membalas pesan di ponselnya.
💌 : "Dia baik-baik saja, memangnya ada apa?" Balas gadis itu pada chat yang dikirim Baskara.
💌 : "Aku lagi di kafenya si Pandu, nggak sengaja liat dia lagi adu mulut sama cewek. Apa cewek itu yang kamu katakan waktu itu?"
💌 : "Kek gimana orangnya?"
💌 : "Semampai, putih, rambut pirang."
💌 : "Kayanya iya. Mereka berantem soal apa?"
💌 : "Entah ..."
💌 : "🙄🙄🙄"
__ADS_1
"Sibuk chat sama siapa sih?" Nilam yang sejak tadi melihat sahabatnya sibuk sendiri, tidak tahan menyimpan rasa penasarannya.
"Kepo," sahut Amanda, menyimpan kembali benda pipih itu di laci meja kerjanya.
"Yeee ..." Nilam pun tidak melanjutkan, meski ia masih penasaran. Ia tidak ingin memaksa sang sahabat untuk bercerita.
"Lam ...."
"Mmm"
"Mas Pandu mu itu gimana kabarnya?"
"Biasa aja, emang kenapa?"
"Nggak ... Udah lama kamu nggak pernah bahas soal dia. Kalian lagi baik kan?"
Amanda mencoba mengulik sejauh mana hubungan sahabatnya dengan Pandu.
Sejak kejadian dua bulan lalu, Amanda jarang mendengar keluhan Nilam. Gadis itu menjalani aktifitas seperti biasa. Sesekali mereka pergi berdua saat libur, namun tidak pernah membahas soal hubungan Nilam dan Pandu.
Amanda mencoba berpikir positif, mungkin Pandu sudah berubah. Toh sejauh yang ia lihat, Nilam baik-baik saja. Untuk menceritakan apa yang sebenarnya ia ketahui pun, Amanda ragu. Takut kalau Nilam tidak percaya, dan justru itu akan membuat hubungan pertemanan mereka menjadi renggang.
"Kami baik-baik aja. Rencananya Minggu depan pas libur, aku sama mas Pandu mau pulang. Dia ingin kenalan sama orang tua dan saudara ku."
"Waaahhh ... Udah seserius itu hubungan kalian ya ...."
Nilam tersenyum mendengar komentar sahabatnya.
"Doakan ya Nda, semoga dia adalah rumah yang tepat untuk aku berteduh kelak."
"Iya, semoga kamu bahagia selalu. Dengan siapapun kamu bersanding nanti, aku mendokan kebahagiaan untukmu."
Senyum tulus Amanda menular pada Nilam. Keduanya saling pandang, kemudian tawa Amanda pecah.
"Apaan sih kamu Nda, nggak jelas."
"Obrolan kita serius banget nggak sih Lam?" Tanya Amanda, membuat Nilam memutar bola matanya jengah.
__ADS_1