
Dua hari sudah Nilam ijin dari tempat kerjanya, karena sakit. Kelelahan dan cuaca yang tidak menentu membuat gadis itu benar-benar tumbang.
Selama dua hari pula, Baskara merawatnya, selayaknya merawat seorang anak balita. Protektif yang sungguh berlebihan.
"Mas, aku bisa sendiri ...." Keluh Nilam, saat Baskara memaksa mengambilkan bubur yang sudah laki-laki itu siapkan untuknya. Nilam tentu merasa tidak enak hati, segala sesuatunya ia dilayani seperti seorang putri.
"Kamu diam aja, mas yang ambilkan untuk kamu. Muka kamu masih pucat gitu, nanti malah tambah lama sembuhnya."
Ucap Baskara, tidak bisa dibantah.
Nilam hanya bisa menarik nafas dalam. Tidak bisa melakukan protes dengan sikap Bas yang menurutnya berlebihan.
"Kenapa mukanya cemberut gitu? Marah karna mas urusin kamu?" Bas yang baru datang dengan membawa nampan berisi mangkuk bubur dan air hangat itu, menatap Nilam dengan intens.
"Nggak mas ... Kenapa sih, curigaaa terus sama aku?" Tanya Nilam, membalas tatapan laki-laki itu. Suaranya terdengar lemah menyapa telinga Baskara.
"Nggak, siapa yang curiga? Mas cuman tanya aja," sahut Bas sembari duduk di samping Nilam.
Ia dengan telaten menyuapi dan menyiapkan obat untuk Nilam.
Gadis itu hanya bisa pasrah, menerima semua perhatian Baskara. Ia tida ingin membuat laki-laki tampan itu merasa tidak dianggap lagi, seperti kemarin.
Setelah semua selesai, Bas kembali duduk di bawah, beralaskan karpet tebal berukuran 160 persegi. Memangku laptop, dengan posisi tubuh bersandar pada tembok. Sesekali ia mencondongkan badannya ke depan, saat merasa ada bagian gambarnya yang kurang tepat.
Ia harus menyelesaikan gambar bangunan yang memang tengah ia kerjakan saat ini.
"Mas, apa nggak sakit duduk di bawah kayak gitu?"
Tanya Nilam yang sejak tadi merasa tidak enak hati melihat Baskara di posisi seperti saat ini.
Bas melirik sejenak, gadis yang tengah bersandar di kepala ranjang itu.
"Nggak. Biasa aja." Sahutnya kembali melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda itu.
Di kamar Nilam, tidak ada meja kerja yang tersedia. Kamar itu cukup besar, namun hanya ada kasur, lemari, meja rias sederhana dan kursi pendek sebagai pasangannya.
Untuk tempat dia makan setiap hari, Nilam memilih lesehan dengan karpet permadani sebagai alasnya.
__ADS_1
Kamar itu kembali hening. Bas larut dalam pekerjaannya, sementara Nilam tengah bergulat dengan hati dan pikirannya.
Ia masih bingung, kemana akan membawa hubungan dirinya dan Bas nanti.
Larut dalam pikirannya sendiri, gadis itu pun tertidur dengan pulasnya.
Hingga waktu beranjak menuju sore, tanpa ia sadari, jika dirinya terlelap begitu lama.
Kesadarannya kembali, saat sayup-sayup terdengar suara yang tidak asing menyapa telinganya.
"Kebo banget ini anak ya? Mentang-mentang ada perawat pribadi yang urus dia, nyenyak banget tidurnya kaya beruang lagi hibernasi."
"Sssttt, jangan berisik, biarin dia istirahat. Kamu ngapain datang ke sini?" Terdengar suara Bas menyahut.
Nilam berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat. Efek obat yang Bas berikan membuat dia benar-benar lemas, tidak bertenaga.
"Nda ...." Sapa gadis itu lirih.
Masih berusaha menggerakkan tubuhnya, dengan pelan.
"Lam ...." Amanda mendekat. Memeriksa suhu tubuh Nilam, yang sudah mulai berkeringat.
Nilam tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahunya, tanda tidak tahu.
"Yang namanya manusia, pasti pernah sakit. Apalagi Nilam yang baru bekerja di tempatnya yang sekarang, yang jam kerjanya nggak kayak dulu, jelaslah tubuhnya perlu adaptasi." Baskara menjawab pertanyaan Amanda yang ditujukan untuk Nilam.
Gadis tomboi itu mencebikkan bibirnya, merasa jengah dengan pembelaan Baskara.
"Segitunya belain ayank ...." Celetuk Amanda membuat Nilam mendelik ke arah sahabatnya.
Dengan tubuh yang masih lemas, Nilam memang tidak bisa mengimbangi godaan sahabatnya, namun tangannya masih cukup kuat untuk mencubit sedikit dag ging pah ha sahabatnya, sehingga membuat Amanda menjerit entah karena sakit atau terkejut.
"Aaauuu, sakit Lam ... Kamu katanya sakit, tapi nyubitnya udah kayak capit kepiting." Keluh gadis itu, sembari mengusap bekas cubitan Nilam.
"Mangkanya kalau ngomong itu jangan sembarangan, saring dulu biar nggak ada ampasnya."
Celotehan gadis berambut pendek itu, mampu membangkitkan ga irah Nilam untuk bicara.
__ADS_1
"Yeee, emang bener kan ... Kamu sama dia ayang-ayangan? Ngaku aja, nggak ada larangan kok ...." Amanda begitu bersemangat menggoda Nilam, sahabatnya.
"Beberapa bulan kita nggak bareng, rupanya udah banyak perubahan yang terjadi. Gitu ya ... Sekarang nggak cerita-cerita sama aku." Sambung gadis itu lagi.
Meski saat ini kondisi Nilam tengah lemah karena sakit, gadis itu seolah tidak perduli. Ia tetap berbicara sesuka hati, mengabaikan tatapan mata Bas seakan ingin menelannya hidup-hidup. Namun anehnya, kehadiran gadis tomboi yang banyak bicara itu, bisa membuat Nilam yang semula terlihat lemah, perlahan berenergi kembali.
"Manda, bisa diem nggak? Nilam baru aja mendingan, kondisinya masih lemah. Kamu dateng-dateng berisik sekali, ganggu istirahatnya aja." Baskara merasa kesal dengan sikap gadis yang baru saja datang itu. Ia tahu mereka berdua bersahabat, tapi harusnya Amanda mengerti, saat ini Nilam sedang kurang sehat untuk diajaknya berdebat.
"Duuuuhh ... Pada sensi semua. Udah ah, aku mau mandi dulu. Gerah." Amanda membongkar tas travel yang ia bawa, mengambil beberapa benda yang ia butuhkan.
"Nda, kamu udah makan? Sorry aku nggak siapin apa-apa untuk kamu,"
"Udah, tadi sempat mampir beli bakso dulu di jalan." Sahut Amanda sembari membereskan kembali isi tas yang tadi sempat ia turunkan.
"Lam, aku mandi ya ...." Ijin gadis itu lagi.
Nilam mengangguk, matanya bergerak mengikuti langkah Amanda yang berlalu menuju pintu kamar mandi.
Baskara mendekat ke arah Nilam. Laki-laki itu menempelkan punggung tangannya ke dahi Nilam.
"Udah nggak terlalu panas." Gumamnya.
"Masih pusing nggak kepalanya?" Tanyanya lagi, dijawab gelengan oleh Nilam.
"Udah nggak kok mas, aku udah sehat, jangan khawatir." Ucap Nilam.
Ia meraih tangan Bas dan meremassnya dengan lembut, sembari mengucapkan terimakasih untuk laki-laki itu.
"Makasih ya mas, udah jagain aku. Maaf udah repotin kamu terus."
"Kenapa selalu bilang maaf dan makasih sih? Udah mas bilang kan, mas ikhlas lakuin semuanya. Cukup terima semua yang mas berikan untuk kamu, dan jangan menolaknya. Itu aja udah bikin mas senang." Sahut Bas, sembari membalas genggaman tangan Nilam dengan menepuknya pelan.
^_________^^_________^^_________^
jangan lupa mampir ya ...
karya temen mamak yang nggak kalah keren 😍😍😍
__ADS_1