
Wajah Nilam masih tidak sedap dipandang, bahkan hingga Bas pamit, hendak kembali ke kampung halaman. Biasanya Nilam akan terus mewanti-wanti kekasihnya agar berhati-hati, nggak ngebut, atau nasihat lain yang membuat Bas terkadang merasa lucu, merasa seperti anak kecil. Namun kini, gadis itu hanya tersenyum tipis, dan mengucapkan kata "hati-hati" dengan pelan. Jelas sekali terlihat jika gadis itu sedang banyak pikiran.
Di jalan Baskara terus memikirkan perubahan sikap Nilam. Isi kepalanya terus berputar, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa gadisnya yang lembut dan penuh kesabaran itu, bisa berubah seperti saat ini. Ia harus mencari tahu, sebelum semua menjadi semakin runyam.
Hari sudah gelap, saat Bas tiba di rumah. Tentu saja, waktu tempuh dari kota tempat Nilam bekerja menuju rumahnya, memakan hampir dua setengah jam perjalanan. Sementara ia masih kesana-kemari sebelumnya, saat matahari sudah condong ke barat.
"Sudah pulang, Mas?" tanya Utari basa-basi. Padahal tanpa ditanyakan pun, ia sudah jelas melihat sang kakak sulung berada di hadapannya saat ini.
"Iya, baru aja," sahut Bas membuka sepatunya di ruang tamu.
"Itu apa, Mas?" tanya Utari lagi, saat melihat tas belanja berukuran besar teronggok di samping sang kakak.
__ADS_1
"Bahan kebaya. Besok aja dibongkarnya, ini udah malem. Ibu udah tidur?"
Utari yang berniat melihat isi tas tersebut, urung melangkahkan kakinya. Ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan sang kakak, lalu kembali ke kamarnya tanpa menawarkan makan atau minum terlebih dahulu terhadap sang kakak.
Sementara dikostan, Nilam habis diceramahi oleh Amanda, yang merasa kesal atas sikap sahabatnya itu. Amanda dari awal sudah mewanti-wanti Nilam untuk bicara jujur pada calon suaminya, tentang apapun kendala yang ia hadapi, termasuk masalah Utari. Namun gadis itu selalu menutupinya, mengabaikan nasihat Amanda. Dan sekarang, Nilam justru bersikap dingin pada Bas yang tidak tahu apa-apa.
"Dari awal kan aku udah bilang, jangan tutupin apapun dari Mas Bas. Jangan takut untuk bicarakan semua, biar kamu enak jalaninnya. Kamu nggak percaya! Sekarang udah begini, kamu uring-uringan sendiri. Ngambek nggak jelas, bikin orang bingung aja! Syukur dia itu sabar ngadepin kamu, tau! Coba kalau cowok lain kamu giniin, yakin aku kalian pasti bakal berantem tiap hari!" ucap Amanda kesal, setelah mendengar cerita Nilam.
"Aku tuh serba salah, Nda. Kamu ngerti nggak sih? Kalau aku nggak turuti ucapan Utari, nanti dia gimana-gimana sama aku. Aku nggak pengen antara aku sama dia ada masalah, Nda. Aku sadar nggak lama lagi aku akan masuk ke dalam keluarga itu. Apa jadinya kalau aku sudah punya musuh sebelumya? Ini baru perkara seragam, belum lagi yang lain yang pasti bakal banyak perbedaan antara aku sama dia. Aku takutnya dia nganggep aku semaunya sendiri. Mangkanya untuk seragam aku ngalah, ikuti maunya dia, biar nanti aku enak mau nolak ide dia yang lainnya. Tapi mas Bas malah ledekin pilihan warna itu. Dia bilang katanya kayak mau rakernas partai politik. Siapa yang nggak kesel coba? Itu pilihan adiknya, tapi aku yang diledekin!" Nilam dengan wajah menahan tangis, menyerahkan perasaannya.
"Nanti aku dibilang tukang ngadu, lagi."
__ADS_1
Amanda menarik nafas berat. Memandang Nilam dengan jengah.
"Boleh nggak sih, kalau aku bilang kamu lebay? Berebihan? Terlalu penakut? Drama jadinya," ucap Amanda pedas.
"Sekarang aku tanya sama kamu. Yang mau nikah itu siapa? Kamu kan?" Nilam mengangguk.
"Yang keluarin biaya itu siapa? Kalian berdua kan?" Nilam kembali mengangguk.
"Semua keputusan, harusnya atas kesepakatan kalian berdua, Lam. Jangan biarkan orang lain ikut campur terlalu jauh. Kasih ide boleh, tapi tetap yang nentuin itu kamu sama Mas Bas. Kalau kamu manut sekarang, bukan nggak mungkin si Utari itu akan terus ikut campur untuk hal yang lain. Mau kamu, kehidupan rumah tanggamu ada bayang-bayang ipar?" Nilam menggeleng.
"Nah mangkanya itu, mengambil keputusan harus tegas. Jangan takut dibenci sama satu atau dua orang. Karena mereka yang nggak suka sama kamu, akan tetep nggak suka, bagaimanapun kamu bersikap baik dan mengalah pada mereka. Belajar ngambil keputusan sendiri, Lam. Jangan selalu mengandalkan rasa nggak enak hati, tapi ujung-ujungnya kamu ngerugiin diri kamu sendiri, bahkan pasangan yang nggak tau apa-apa juga kena imbasnya. Iya kalau suasana hati dia lagi baik, dia bisa ngalah sama kamu, tapi kalau nggak? Apa nggak bakal berantem kalian nantinya?" Cecar Amanda lagi, membuat Nilam diam tidak bisa menjawab.
__ADS_1
Terkadang kita terlalu memaksakan diri untuk ikut kemauan orang lain, berharap orang itu akan mau menerima kita di lingkungan baru. Namun kita lupa, orang tidak butuh alasan untuk benci dan tidak suka terhadap kita. Apapun yang kita lakukan akan selalu salah dan kurang di mata mereka, sehingga berubah menjadi orang lain untuk memenuhi keinginan mereka adalah hal sia-sia.
Mungkin itu yang Nilam alami saat ini. Memcoba mengalah, karena sadar, dia hanya orang baru yang hendak masuk dalam keluarga Baskara. Namun lama-lama, Nilam merasa Utari terlalu ikut campur dan mengusik ketenangannya, membuat ia jengah dan kesal. Ingin membantah, tapi tidak bisa, karena rasa tidak enak hati itu tadi.