CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 70


__ADS_3

Amanda meraih tubuh sang sahabat, membawanya ke dalam pelukan.


Rasanya begitu iba, melihat gadis yang setiap hari menjalani hidup dengan semangat dan ceria, hari ini harus dihadapkan pada kenyataan pahit, sebuah pengkhianatan.


"Sssttt jangan nangis lagi Lam ... Jangan tunjukkan kelemahanmu di sini. Jangan biarkan mereka yang tidak menyukaimu tertawa bahagia dengan apa yang menimpamu saat ini."


Amanda yang tahu kalau banyak orang di dalam sana yang tidak suka pada Nilam, pasti bersorak bahagia melihat gadis itu se-terluka ini.


"Rasanya sakit banget Nda ... Lebih sakit dari saat aku melihat foto-foto itu." Masih dengan isakan, Nilam mencurahkan isi hatinya.


"Kalau kemarin aku masih bisa membujuk akal ku agar terus berpikir positif, kali ini bahkan hatiku sendiri berisik kalau semua yang aku lihat adalah kenyataan.


"Iya Lam ...." Amanda tidak tahu harus mengatakan apa lagi, demi menghibur sahabatnya itu.


"Ada apa?" Baskara yang sejak tadi memerhatikan keduanya dari jarak yang cukup jauh, akhirnya tidak tahan untuk mendekat.


Amanda hanya memberi kode dengan matanya, meminta laki-laki itu untuk tidak menanyakan apapun terlebih dahulu.


Baskara pun mengangguk paham. Ia hanya mengusap lengan Nilam dengan lembut, tanpa bersuara sama sekali. Berharap gadis itu paham, dia ada di sana. Menemani Nilam, dan tidak akan pernah meninggalkannya.


Setelah beberapa saat mencurahkan air mata di dalam pelukan Amanda, Nilam melepaskan dirinya.


Gadis itu menghapus jejak air mata yang masih membekas di pipinya, mencoba tegar menghadapi semua.


"Kita pulang saja ya Nda, Mas ... Aku nggak sanggup untuk menemui mereka,"


"Tapi Lam ...."


"Aku udah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Nggak ada lagi keraguan dan penyangkalan di hatiku. Semuanya sudah berakhir?" Kembali embun bening membungkus kornea gadis beata bulat itu.


"Kamu nggak mau labrak laki-laki bre ngsek itu dulu?" Tanya Amanda.


Nilam menggeleng,


"Untuk apa? Apa dengan begitu, semua akan kembali seperti semula? Apa waktu akan berputar, dan pengkhianatan itu tidak akan dia lakukan? Aku percaya, kita punya karma masing-masing yang harus kita pertanggung jawabkan kelak."


Mendengar itu, baik Amanda maupun baskara tidak lagi membantah apa yang diinginkan Nilam.

__ADS_1


Akhirnya mereka kembali. Meninggalkan tempat yang sudah menyajikan kenyataan pahit bagi gadis itu.


Namun, baru saja mereka menuruni anak tangga pertama, suara seorang wanita menyapa telinga ketiganya.


"Lho Nilam ..." Nilam tahu siapa yang menyebut namanya. Gadis itu menarik nafas, sebelum berbalik menoleh ke arah belakang.


Seorang wanita dengan penampilan anggunnya, berdiri tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


Nilam tersenyum canggung. Membalas sapaan wanita itu sembari melangkah mendekati keduanya.


"Mba Laksmi," sapanya sedikit menganggukkan kepala.


"Habis dari mana?"


"Mmm ..." Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa.


"Oohh pasti mau melihat keadaan Via ya? Kenapa nggak masuk aja tadi?" Dengan senyum lebar, Laksmi bertanya pada Nilam.


Ucapan ramah Laksmi terlihat begitu tulus bagi siapapun yang tidak tahu keadaan sebenarnya.


"Dia nggak perlu masuk ke tempat manusia-manusia munafik, cukup melihat dari jauh saja untuk memastikan seperti apa kalian sebenarnya." Jawaban Amanda membuat air muka Laksmi mendadak keruh. Hilang sudah pancaran bening penuh senyum yang sebelumnya wanita itu tampilkan.


"Apa maksud kamu? Kami manusia munafik? Heh, harusnya dia sadar diri. Siapa dia dan siapa Pandu!" Laksmi menatap sinis ke arah Nilam dan Amanda bergantian, sembari menyilangkan tangan di depan dadanya.


"Sayang, ada apa?" Dio sang suami, yang baru saja menyusul istrinya merasa bingung melihat ketegangan yang terjadi. Ia mencoba mencegah istrinya untuk bersikap keterlaluan, namun dengan angkuhnya wanita itu mengacuhkan peringatannya.


"Wanita yang pantas bersanding dengan adikku, bukan wanita sembarangan. Harus jelas bibit, bebet, bobotnya. Bukan karyawan biasa yang hanya akan merongrong harta suaminya kelak!"


Ucapnya penuh hinaan, membuat semua yang mendengar tercengang tidak percaya. Sejauh itu Laksmi menghina latar belakang Nilam.


"Iya mba, wanita itu memang yang paling pantas bersanding dengan adikmu. Wanita yang jelas bibit bebet bobotnya. Sudah jelas kan alasan dia di rawat di rumah sakit ini karena apa? Pria pengkhianat seperti adikmu, memang selayaknya mendapat wanita yang mudah diseretnya ke atas ranjang." Dengan tenang Nilam menjawab hinaan Laksmi.


"Mba tenang saja, saya pun tidak sudi bersuamikan pria yang dengan gampangnya tidur dengan perempuan lain, disaat ia masih memiliki ikatan. Mba takut saya merongrong harta dia? Se-miskin-miskinnya saya, tidak pernah sekali pun saya tergiur dengan kekayaan keluarga kalian. Saya masih punya kaki dan tangan, serta otak yang bisa saya gunakan untuk mencari nafkah." Ucapnya, kemudian dengan santai ia melenggang menuruni tangga kembali.


"Heii ...!"


Laksmi tidak terima dengan apa yang diucapkan Nilam. Ia ingin meraih rambut gadis itu namun dicegah oleh suaminya, dan satu tangan lagi yang meraih ujung jarinya.

__ADS_1


"Sebelum kamu menyakiti fisiknya, kamu berhadapan denganku dulu. Tidak perduli kamu wanita, aku tidak akan segan mematahkan tulangmu, dan merobek mulut busuk mu kalau kamu melakukannya lagi."


"Jangan kasar pada ...!"


"Ajari istrimu menghargai orang lain. Kalau kamu tidak ingin lebih terhina dari ini. Sebagai laki-laki, apakah kamu tidak malu mendengar ucapannya barusan?"


Sorot mata Baskara berkilat penuh amarah. Namun melihat lawan bicaranya terdiam, ia memutuskan untuk pergi, menyusul Nilam dan Amanda.


Selepas kepergian ketiganya, kini giliran Dio dan Laksmi saling bersitegang.


"Puas kamu mempermalukan aku di hadapan orang asing seperti tadi?" Tanyanya dengan tatapan penuh kecewa.


"Kenapa kamu malah marah sama aku mas, mestinya kamu bela istri kamu donk ...." Laksmi merasa tidak terima.


"Kamu keterlaluan! Kamu sadar nggak, apa yang kamu lakukan sudah benar-benar melewati batas?!" Dengan rahang mengeras, Dio menatap sang istri penuh amarah.


"Semua yang aku lakukan demi kebaikan Pandu, mas. Aku ingin dia mendapatkan wanita yang pantas, yang sesuai dengan keluarga kita. Aku nggak mau dia mempermalukan keluarga, dengan memilih gadis yang tidak selevel. Dia harusnya sadar diri, siap dia dan siapa Pandu."


"Oohh, jadi kamu berhak melakukan apapun, menentukan standar wanita yang pantas untuk adik mu?"


Dio mendekat ke arah sang istri.


"Kamu lupa kalau kamu juga seorang perempuan? Apa yang akan kamu lakukan, jika posisi kamu di balik menjadi Nilam? Bagaimana jika keluargaku menganggap kalau kamu tidak memenuhi standar mereka? Apa yang akan kamu lakukan jika keluargaku menghina kamu, seperti yang kamu lakukan pada Nilam?" Laksmi terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya.


"Mas ...."


"Kamu lupa? Bahkan kekuranganmu jauuuh lebih banyak dari gadis yang kamu hina itu. Tapi keluargaku menerima kamu dengan tangan terbuka, karena aku mencintaimu. Sebelum melakukan sesuatu harusnya kamu lihat dirimu sendiri terlebih dahulu." Dio meninggalkan Laksmi yang masih membeku di tempatnya.


Bersamaan dengan menghilangnya Dio di balik tangga, Pandu muncul dengan raut wajah penuh tanya.


"Ada apa?" Tanya laki-laki itu.


Laksmi yang tidak terima disalahkan karena Nilam, menumpahkan kemarahannya pada Pandu.


"Ini semua karena wanita kampungan itu! Wanita sok lugu yang kamu pacari itu datang dan membuat mas Dio marah besar sama aku!"


"Nilam datang?" Wajah Pandu berubah pias. Bukannya perduli pada sang kakak yang tengah menahan amarah, Pandu justru berbalik menuju ruangan Delvia kembali. Dan tidak menunggu lama, laki-laki itu kembali lagi dan langsung menuruni anak tangga dengar terburu.

__ADS_1


__ADS_2