CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 142


__ADS_3

Pernah merasa lelah dan ingin menyerah? Pernah merasa kecewa dan putus asa?


Pernah merasa sudah berbuat begitu banyak, tapi tidak menghasilkan apa-apa?


Rasanya ingin memejamkan mata saja, tidak peduli siang atau malam. Membiarkan segala rasa negatif berkerumun, mencubit, menggigit, mencambuk, merajam perasaan hingga menciptakan luka yang berdarah dan penuh nanah.


Rasa itulah yang kini Baskara resapi, hingga tanpa terasa air matanya menetes tiada henti. Semua yang ia lakukan rasanya sia-sia. Berjuang memantaskan diri untuk Nilam, berusaha memberi kebahagiaan untuk keluarga, tanpa peduli kesehatan, bahkan acap kali mengabaikan hasrat diri membeli sesuatu yang ia inginkan.


Tapi apa balasan yang ia dapatkan? Nilam memilih menyerah, dan itu semua karena ulah keluarganya.


Salahkah dia jika terbersit rasa sesal telah lahir ke dunia ini? Berdosakah dia jika merasa kecewa telah ber-ibu-kan sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia? Terkutukkah dia jika sekali waktu merasa enggan mengakui Utari sebagai adiknya?


Ketika orang lain menyayanginya selayaknya anak kandung, menerima tanpa peduli seperti apa masa lalunya, lalu kenapa justru keluarganya sendiri melemparkan kotoran ke wajahnya? Bukan hanya membuat dirinya kehilangan cinta, tapi juga menciptakan rasa bersalah pada kedua orang tua Nilam.


Mereka, paman dan bibi yang juga adalah orang tua kekasihnya itu, adalah sepasang suami istri yang sangat ia hormati. Orang yang selalu mendukungnya sejak dulu. Yang mengarahkannya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tidak pernah memandangnya sebelah mata, meski semua orang mencap dirinya pemuda pengangguran dan berandalan. Mereka merangkulnya, menumbuhkan kepercayaan dirinya, meraih tangannya agar bisa bangkit dan berdiri sendiri. Tidak seperti sang ibu, yang acap kali melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan. Menjatuhkan mental dan harga dirinya, berlaku tidak adil terhadap dia dan adik-adiknya.


Apa yang harus ia lakukan kini? Masihkah ia punya muka di hadapan sang paman, setelah semua ini terjadi?


Kerumitan yang menyapa hidupnya, membuat ia tidak bisa menikmati semilir angin di atas bukit tempatnya termenung kini. Melarikan diri ke tempat yang lebih sepi, duduk termenung di bawah pohon pinus yang menjulang tinggi, berharap bisa menggapai ketenangan batin, tapi riuh di kepalanya tidak mau berhenti, membuat ia semakin frustasi.

__ADS_1


Bas bangkit, melangkah menuju tebing di depannya yang nampak curam, dengan semak belukar memenuhi permukaannya. Ia berteriak sekencang-kencangnya di tempat itu. Mencoba mengeluarkan kebisingan yang membuat kepalanya terasa berdenging.


Berulang kali ia melakukannya, hingga suaranya serak dan nafas terengah. Bas kembali duduk terkulai. Matanya terpejam. Baru ia bisa merasakan kesejukan yang menyapa permukaan kulitnya. Sejenak ia dapat melupakan masalah yang dia hadapi.


"Bangun, hadapi semua seperti seorang ksatria," suara lembut menyapa telinga Bas membuat laki-laki itu tersentak kaget. Ia melihat sekeliling. Sepi. Bukit itu masih sepi, tidak ada satu bayangan pun melintas di sana. Sejenak Bas terpaku. Suara siapa itu? Namun setelahnya, ia bangkit melangkahkan kakinya menuruti keman hatinya menuntun.


Suasana hening menyelimuti ruang keluarga di rumah Nilam. Bas duduk dengan kepala menunduk, di kelilingi tatapan bingung orang-orang di sekitarnya.


"Sebenarnya ada apa, Bas? Kenapa kamu meminta mas datang ke mari?" tanya Surya memecah keheningan, setelah ibu dan istrinya menghidangkan minuman.


Penampilan Baskara yang nampak kusut, membuat pikiran Surya dan yang lain, berprasangka yang bukan-bukan.


"Bas, ada apa ini? Jangan begini. Bangun," pinta Pak Indra meraih bahu calon menantunya.


"Maafkan aku Paman. Maaf sudah mengecewakan harapan Paman. Aku gagal, aku tidak bisa menjaga Nilam dengan baik," ucapnya dengan suara serak.


Semua yang mendengarnya tercengang. Ekspresi mereka berbeda satu dengan yang lain.


"Apa maksud kamu, Baskara? Apa yang terjadi sama Nilam?" Bu Sukma bertanya dengan suara bergetar. Pikiran buruk melintas mengacaukan perasaannya.

__ADS_1


"Katakan yang jelas, Bas! Apa yang sebenarnya terjadi?" Surya juga tidak bisa menahan emosi. Suaranya meninggi, tidak seperti sebelumnya yang menyapa Baskara dengan ramah.


Baskara kembali duduk setelah Pak Indra menepuk bahunya.


Ia menatap semua yang ada di ruangan itu dengan mata sendu.


"Nilam ingin membatalkan pernikahan kami. Dan meminta aku mencari perempuan lain," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Cengengkah dia? Tapi setiap kali ia mengingat ucapan Nilam, hatinya selalu merasa sakit.


"Apa maksudnya?" Kini giliran Pak Indra yang bertanya


Dan akhirnya dengan perasaan bercampur aduk, antara malu dan sedih, Baskara menjelaskan semuanya. Tentu ia melewatkan hinaan yang terlontar dari mulut ibunya. Ia tidak sanggup mengulang kalimat tidak pantas itu pada orang-orang di hadapannya.


"Maafkan sikap keluargaku, terutama Utari yang terlalu ikut campur. Tapi aku sungguh-sungguh tidak ingin ini semua terjadi. Paman, Mas Surya, aku ingin semua berjalan seperti semestinya. Bisakah kalian membantuku?"


"Bas, maaf sebelumnya ya. Mba nggak bermaksud ikut campur dalam urusan internal keluarga kamu. Tapi di sini mba memposisikan diri sebagai perempuan. Bukan mba membela Nilam, tidak. Mba hanya memberikan pandangan mba saja." Diana menyela, membuat perhatian semua orang beralih kepadanya. "Sebagai seorang wanita yang sudah menikah, ada batasan-batasan yang nggak boleh dilewati di rumah orang tua kita, sedekat apapun hubungan kita dengan anggota keluarga yang lain. Terlebih ketika saudara laki-laki sudah memiliki istri, ada batas yang tidak bisa kita langgar di sana. Kamu boleh tanya sama bapak dan ibu di sini. Meskipun setelah menikah mba tinggal tidak terlalu jauh dari orang tua, kalau ada sesuatu yang mba perlukan di rumah ini, mba pasti meminta ijin pada Citra selaku menantu. Bukan karena dia sok berkuasa, tapi mba menghormati dia, yang nanti akan menjadi orang pertama dicari saat bapak dan ibu membutuhkan sesuatu. Karena dia yang bertanggung jawab di rumah ini. Sementara mba, punya tanggung jawab yang sama, tapi di rumah suami mba. Nah sekarang, kalau sikap adik kamu selalu ingin mengatur dan berkuasa di rumah ibu kamu, bagaimana Nilam akan menjalankan perannya sebagai seorang menantu di sana? Apa dia hanya akan punya kewajiban, tanpa punya hak berbicara?" tanya Diana pada Baskara.


"Bagaimana kamu akan memberikan dia rasa nyaman, jika segala sesuatu yang ia lakukan diatur oleh orang lain? Ini baru di awal, adik kmu sudah berani sejauh itu. Bagaimana nanti, saat kalian sudah tinggal serumah? Rasanya bernafas pun adik mba di sana, tidak lepas dari kontrol si Utari." Diana tidak bisa menahan kesal, hingga ia menekan kalimat terakhirnya dengan senyum sinis di bibir.

__ADS_1


Siapa yang terima ketika adik yang di rumah selalu diperlakukan dengan baik, justru menerima sikap tidak baik di rumah orang lain?


__ADS_2