CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 73


__ADS_3

Mentari pagi menyapa di sela ranting dahan. Cicit suara burung-burung kecil, begitu riuh menyambut hari yang kian terang. Suara lalu lalang kendaraan pun semakin menambah kesan sibuk pagi itu.


Nilam merasa sekujur tubuhnya remuk hingga membuatnya enggan bergerak dari atas tempat tidur. Pulang pergi menempuh perjalanan lebih dari 150 km, cukup membuat persendiannya terasa patah. Terlebih suasana hati yang tidak bahagia, menambah rasa malas gadis itu untuk memulai beraktifitas.


Sendiri, ia merenungi langkah apa yang harus diambil saat ini.


Belajar ikhlas dan melepas semua tanpa harus ada drama, itu yang harus dilakukannya. Meski berat tapi ia harus kuat.


Ia meyakini ini hanya satu masa penempaan diri yang harus ia lewati, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Teringat pesan Amanda beberapa saat lalu, sebelum gadis itu kembali pulang ke rumahnya.


"Kamu harus kuat. kamu harus tunjukkan pada orang-orang yang menyakitimu, kalau duniamu tidak akan runtuh hanya karena sebuah pengkhianatan. Kamu baik-baik saja meski takdir mempermainkan kamu. Kamu masih berdiri dengan kepala yang tegak, karena kamu tidak kehilangan apapun. Justru kamu bersyukur, karena Tuhan menunjukkan semua kebusukan mereka, sebelum kamu terjerembab terlalu dalam, dalam hubungan tidak sehat itu."


Nilam sangat berterima kasih, karena memiliki sahabat yang selalu ada untuknya. Memberi nasihat yang acap kali pedas, namun ia tahu semua demi kebaikan dirinya sendiri.


Esok mungkin akan ada lebih banyak lagi masalah yang menyapa, bukan hanya soal cinta yang terkesan sepele untuk ditangisi.


Nilam masih asik dengan pikirannya, memeluk guling menatap tembok putih di depannya seolah benda itu sesuatu yang menarik bagi matanya.


Ketukan pintu memaksa gadis itu menoleh, namun rasa malas membuatnya enggan bersuara.


"Lam ... Ini mas," suara maskulin yang ia kenali memanggil namanya.


Nilam segera bangkit dari tempat tidurnya.


"Bentar mas," sahut gadis itu akhirnya sebelum ia membuka pintu.


Sosok tampan dengan kulit coklat berdiri dengan senyum manis di depan pintu kamarnya, ketika Nilam membuka daun pintu.


"Baru bangun?" Tanya Baskara.


Nilam hanya mengangguk samar. Sejujurnya ia merasa malu sebab orang lain tahu masalah yang tengah ia hadapi.


"Boleh masuk? Mas bawa bubur ayam untuk kamu. Sekalian mas mau numpang sarapan di sini. Boleh?"


"Eh i iya mas ... Silahkan."

__ADS_1


Baskara melewati gadis itu yang masih berdiri di samping pintu. Membawa beberapa bungkus makanan yang akan mereka nikmati pagi itu.


Baskara yang tidak pernah masuk ke dalam kamar Nilam, sedikit bingung mau meletakkan bawaannya di mana. Laki-laki itu melihat sekeliling, dimana ia bisa meletakkan barang bawaannya.


"Sini mas, aku yang siapin. Maaf kamar aku masih berantakan." Ucap Nilam malu.


Baskara hanya tersenyum menanggapi ucapan Nilam. Ia menyerahkan semua bungkus plastik pada Nilam. Gadis itu pun bergegas membawanya ke dapur. Setelah itu, buru-buru Nilam melipat selimut yang masih berantakan, dan sedikit merapikan bantal serta gulingnya.


Baskara berdiri memerhatikan aktifitas gadis itu.


"Mmm mas Bas, duduk di sini aja. Udah rapi kok." Ucap Nilam canggung.


"Mmm aku ke kamar mandi dulu ya mas, mau cuci muka. Tunggu sebentar nggak apa kan?"


"Iya nggak apa," sahut Baskara.


Nilam melakukan aktifitas dikamar mandi dengan secepat kilat. Ia tidak enak kalau membiarkan Baskara menunggu lebih lama lagi.


Mencuci wajahnya bahkan tanpa menggunakan sabun wajah. Gadis itu hanya memastikan tidak ada kotoran apapun yang masih menempel


Bahkan perutnya saat ini bisa diajak kompromi, hingga ia tidak harus berlama-lama meninggalkan Baskara sendiri.


Nilam juga sudah menyiapkan kopi untuk baskara, dan teh jahe untuk dirinya sendiri.


"Waah makasih Lam, maaf mas jadi ngerepotin ini."


"Ngerepotin apa sih mas, aku yang justru bikin mas Bas ikutan sibuk malah. Maaf ya mas, aku jadi ganggu kerjaan mas Bas." Wajah Nilam berubah sendu.


Baskara yang semula tersenyum sumringah, mendadak senyumnya menghilang melihat Nilam yang kini tengah menunduk.


"Hei, kenapa melow begini? Mas nggak merasa terganggu kok. Sudah kewajiban mas buat jaga kamu, jadi jangan dipikirkan soal itu. Ok? Sudah, sekarang makan dulu, habis itu anterin mas jalan-jalan. Mau kan?"


Nilam mengangguk. Meski ia merasa malas untuk keluar kamar, namun mengingat sebaik apa Baskara selama ini padanya membuat ia tidak enak hati untuk menolak keinginan laki-laki itu.


Hanya menemani jalan-jalan adalah hal kecil, dibanding pengorbanan Baskara yang bahkan rela meninggalkan pekerjaannya, demi memastikan dirinya baik-baik saja di perantauan.


***

__ADS_1


"Pokoknya hari ini kamu temani mas seharian untuk menikmati wisata yang ada di daerah sini. Ok,"


"Aku nggak terlalu tau objek wisata di sini mas ...." Nilam sedikit berteriak di belakang punggung Baskara. Jalan yang mereka lewati dekat dengan pantai, sehingga angin yang berhembus menyamarkan suara keduanya.


"Masa sih nggak tau, udah berapa tahun kamu di sini?"


"Aku di sini kerja mas ... Bukan liburan. Tiap hari kegiatanku itu-itu aja."


Baskara mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti.


"Terus kemana donk kita sekarang?"


"Terserah mas Bas aja, hari ini aku libur." Sahutnya lagi.


Nilam tidak ingin membuat Baskara kecewa. Meski hatinya ingin menjawab, 'balik ke kost aja mas, aku lagi nggak pengen kemana-mana', namun akal sehatnya melarang ia untuk mengatakan itu.


"Kita ke air panas aja yuk ... Berendam di sana kayanya seru. Bisa nenangin pikiran juga kan, apalagi sekarang bukan hari libur pasti pengunjungnya nggak terlalu rame."


"Tapi nggak bawa baju ganti mas ...."


"Gampang, nanti kita beli di sana. Kalau balik lagi, keburu siang nanti." Ucap Baskara


"Ya udah ...." Ucap Nilam akhirnya.


"Mas, aku ajak Manda ya ...?"


"Boleh, telepon aja. Nanti biar ketemu di sana aja kita."


Tanpa menunggu lama, Nilam menghubungi sang sahabat yang baru beberapa jam kembali ke rumahnya.


Nilam dengan sedikit berteriak meminta Amanda untuk menyusulnya ke salah satu objek wisata yang cukup jauh dari tempatny saat ini.


"Udah mas ... Dia mau." Ucap Nilam di balik punggung Baskara. Laki-laki itu menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Perjalanan yang merek tempuh lebih dari satu jam. Baskara menikmati kebersamaan yang sudah cukup lama tidak ibrasakan bersama Nilam.


Semenjak baskara tahu kalau Nilam memiliki kekasih, ditambah lagi pekerjaannya yang saat ini lebih sering berpindah tempat, menyulitkan dia untuk bisa mengantar atau menjemput Nilam saat hendak pulang ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Mas, nanti mampir di pasar saja ya, kita beli baju gantinya di pasar aja. Kalau di tempat wisata, harganya pasti mahal." Usul Nilam, membuat Baskara tersenyum.


"Ok," sahutnya tanpa berkomentar apapun. Ia tidak ingin membuat Nilam merasa tidak nyaman dengan sikapnya.


__ADS_2