CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 62


__ADS_3

Nilam sesekali melirik Pandu dengan ujung mata.


Pria itu begitu fokus dengan setirnya, hingga tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipis itu.


Kalau boleh jujur, Nilam ingin Pandu bercerita bagaimana kesan laki-laki itu, bertemu dengan keluarganya. Namun untuk memulai bertanya, Nilam merasa tidak enak, melihat raut wajah Pandu yang seperti tengah gelisah


Jadilah perjalanan kembali ke kota N, mereka habiskan hanya ditemani oleh sunyi dan deru mesin mobil.


Hingga tanpa sadar mata Nilam tertutup, dan gadis itu terlelap.


Pandu dengan pikirannya yang berkelana entah kemana, tidak menyadari kalau ia telah mengacuhkan gadis di sampingnya.


Fokusnya saat ini adalah bagaimana caranya membungkam Delvia, agar gadis itu berhenti memberi teror pada Nilam.


Ia menyesali kecerobohannya.


Rupanya wanita yang selama ini menjadi sahabat sekaligus teman ranjangnya itu, begitu pintar memanfaatkan dirinya.


Hingga dua jam perjalanan, kepala Nilam tanpa sengaja membentur bahunya ketika ia melewati jalan tikungan. Saat itu baru ia sadar kalau Nilam sudah terlelap dalam mimpi.


Pandu mengusap kepala yang bersandar di bahunya itu dengan tangan kirinya.


"Maafkan kekhilafanku. Maaf karena pernah menodai ikatan ini," lirihnya.


Pandu akhirnya melajukan mobilnya dengan lebih pelan, berharap agar tidak menganggu istirahat Nilam.


Hingga waktu menunjukkan pukul 19.45 barulah mereka tiba di depan kostan Nilam.


"Kamu istirahat ya sayang, maaf mas nggak mampir. Capeek bangeeet, mau langsung tidur nanti." Pandu mengusap lembut puncak kepala Nilam saat mereka sudah tiba di depan kostan gadis itu.


Nilam yang juga merasa lelah hanya mengangguk dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Iya mas. Ya udah aku turun ya, nanti telepon kalo udah sampe rumah."


"Iya sayang ...."


Sebelum Nilam turun, Pandu mengecup kening kekasihnya, cukup lama, hingga membuat Nilam tertawa geli.


"Udah mas ... Nanti nempel bibirnya mas Pandu di jidat aku ...." Ucap gadis itu, mendorong sedikit lengan pria yang ada di hadapannya itu.


Pandu pun ikut tertawa dengan godaan Nilam. Ia membenarkan posisi duduknya dan menatap Nilam yang turun dari mobilnya.

__ADS_1


Selepas kepergian gadis itu, Pandu menarik nafas dalam.


Ia benar-benar resah, belum mendapat solusi, langkah apa yang akan ia ambil untuk menutupi skandal yang pernah diperbuatnya.


***


Ketukan pintu kostan membangunkan gadis itu dari tidur nyenyaknya.


Meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, dengan malas bangkit, untuk mencari tahu siapa yang sudah menganggu tidurnya.


"Ya ampuun Nilam ... Kamu belum siap-siap? Jam berapa ini?" Teriakan Amanda menyadarkan Nilam yang sebelumnya masih enggan membuka mata.


Namun mendengar suara cempreng Amanda, seketika nyawanya terkumpul, dan menyadari kalau ia kesiangan bangun hari itu.


"Ya ampuun Nda ... Jam berapa ini?" Ucap Nilam panik.


Belum sempat Amanda menjawab, gadis itu sudah pergi meninggalkan sang sahabat menuju kamar mandi.


Amanda menggelengkan kepala. Ikut masuk ke dalam kamar, meski Nilam tidak mempersilahkannya.


"Pantesan nggak bisa ditelepon dari tadi," dengus gadis itu, yang merasa kesal sebab Nilam tidak bisa dihubungi, hingga ia harus menjemput gadis itu ke kostannya.


Gadis tomboi itu melangkah menuju dapur. Berniat membuatkan kopi sang sahabat, yang ia yakin belum membuat apapun untuk sarapan paginya.


Ia tersenyum, ketika melihat sebuah kardus bekas air mineral ukuran sedang, teronggok diantara sela rak televisi dan kulkas.


Gadis itu menjadi semakin bersemangat membuatkan sarapan untuk Nilam. Menyeduh kopi, serta membuatkan roti bakar dengan isian selai di dalamnya.


"Ngapain Nda?" Nilam yang baru keluar dari kamar mandi, merasa heran melihat sahabatnya berkutat di dapur kecilnya.


"Udah mandinya? Cepet banget? Mandi dua jari kamu ya?" Goda Amanda membuat Nilam merengut, namun ia tidak terlalu menanggapi ucapan sahabatnya itu. Ia sibuk dengan kegiatannya.


"Aku buatkan kamu kopi sama roti bakar. Selai kamu cuman strawberry aja jadi aku pake itu." Lanjut Amanda, meletakkan roti yang baru ia angkat dari panggangan, dan meletakkannya di meja kecil tempat biasa Nilam menyantap makanannya.


"Makasih Nda ...."


Nilam tersenyum kecil, mengetahui niat tersembunyi sang sahabat.


"Tau banget aku niat mu itu ...." Lanjut Nilam melirik Amanda dengan ujung matanya. Ia duduk di ujung kasur, sembari mengusap kan bodylotion ke kaki dan tangannya.


"Heheheh baunya enak banget ... Dari tadi rasanya pengen buka."

__ADS_1


Amanda mendekati kardus yang sejak tadi menarik perhatiannya itu.


"Eeehhh ... Nggak Sekarang Nda ... Kita udah telat ...." Nilam mencegah Amanda mendekati oleh-oleh yang dibawanya kemarin. Sembari menyisir rambutnya dengan sedikit kasar, Nilam yang sudah selesai mengenakan pakaian kerja menghalangi Amanda dengan tubuhnya.


Amanda menatap Nilam dengan kesal.


"Kata kamu udah siang ... Kalau buka itu dulu, kita beneran nggak jadi kerja nanti ...."


"Dasar! Mangkanya ngapain kamu pake telat bangun segala?"


Kesal Amanda.


Niatnya untuk menikmati buah dengan aroma khas yang menyengat itu dihalangi oleh Nilam.


"Jangan maraaah, itu semua untuk kamu kok ... Tapi nanti, kita kerja dulu sekarang. Ok,"


Nilam membujuk Amanda yang sudah merajuk.


"Udah buruaaan," ketus Amanda, melangkah keluar kamar Nilam.


"Tunggu Nda ... Ambil hp dulu ..."


Nilam terburu mengambil ponsel dan dompetnya, segera memasukkannya ke dalam tas.


"Kopinya diminum dulu, udah susah-susah dibikinin" masih dalam mode merajuk, Amanda mengingatkan Nilam dengan hidangan yang dibuatnya.


Dengan patuh Nilam menuruti keinginan Amanda.


Meneguk beberapa kali kopi yang sudah tidak terlalu panas itu, lalu mengambil roti bakar dan membawanya keluar kamar.


"Udah yuk," setelah mengunci kamar kostannya, Nilam menghampiri Amanda yang sudah bertengger di atas motor.


"Udaah jangan merajuk ... Salah kamu juga nggak telepon aku dari pagi."


"Eeeh aku udh telepon ya ... Tapi hp mu nggak aktif. Mangkanya aku kemari,".


Nilam mengambil ponselnya, memastikan ucapan Amanda.


Ia baru ingat, kemarin daya ponselnya habis. Ia hanya ingat menyambungkan ke charger, lalu ia tidur. Bahkan mandi dan makan pun ia tidak.


__ADS_1


__ADS_2