CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 141


__ADS_3

Ditemani sang sahabat yang menatap dirinya dengan iba, Nilam menumpahkan segala kegundahan hatinya dengan tangis pilu penuh air mata. Wajah kuyu, mata bengkak, dan suara yang mulai serak, ia tidak pedulikan. Yang pasti ia ingin menuruti keinginan hatinya yang tercemar sedih, membiarkan rasa sakit dan tidak berdaya membuat dadanya sesak. Seperti puluhan jarum menusuk seluruh tubuhnya secara bersamaan, Nilam merintih meratapi nasib cintanya.


Amanda yang duduk di sampingnya, hanya sesekali mengucap kata sabar, dan ikhlaskan. Selebihnya gadis tomboi itu hanya diam, tidak mau mengganggu Nilam yang suasana hatinya tengah buruk. Sesekali Amanda mengusap punggung Nilam, saat gadis itu tergugu dengan kedua tangan memeluk lutut.


Cukup lama Nilam bercumbu dengan duka hingga dada yang semula sesak, mulai terasa ringan dan ia bebas bernafas. Meski pikirannya masih terus tertuju pada Baskara, tapi setidaknya air matanya sudah berhenti mengalir. Gadis itu menoleh ke arah Amanda, meminta gadis tomboy itu untuk tidur.


"Tidur aja, Nda. Besok kan kerja pagi," ucapnya dengan suara serak.


"Iya, ntar aja," sahut Amanda.


"Aku nggak pa-pa kok, ini juga mau tidur. Makasih ya, selalu temenin aku dalam keadaan apapun. Padahal selama ini aku nggak pernah bantu kamu apa-apa," ucap Nilam dengan tulus.


"Jangan ngomong gitu. Besok cukup belikan aku martabak istimewa aja, sebagai kompensasi malam ini," sahut amanda sambil terkekeh.


"Iya, besok aku belikan," ucap Nilam disertai senyum tipis.


"Ya sudah tidur sana, aku temenin. Aku belum ngantuk, mau nonton film dulu." Amanda membenarkan bantal milik Nilam yang sebelumnya berantakan. Dia ingin memastikan jika sahabatnya itu benar-benar tidur, baru setelahnya ia merebahkan tubuh di dipan miliknya.


Di lain tempat, Baskara baru saja membuka mata saat matahari sudah muncul di celah pepohonan. Lingkaran hitam di bawah matanya, menarik perhatian Utari saat laki-laki itu duduk di ruang televisi. Namun melihat raut wajah sang kakak yang tidak bersahabat, anak bungsu dari tiga bersaudara itu tidak berani bertanya apa-apa. Ia hanya meletakkan cangkir kopi di hadapan saudara sulungnya itu, dan bergegas beranjak pergi.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Bu Rahma datang dan ikut duduk di samping Baskara. Tanpa peduli dengan mendung yang menggelayut di wajah anaknya, wanita paruh baya itu berkata, "Gimana? Sudah kamu kasih pengertian calon istrimu itu? Mau dia mengakui kesalahannya?" tanyanya dengan pongah.


Bas menarik nafas dalam. Ia sedang menahan diri, agar tidak bertindak kelewat batas. Sebab biar bagaimanapun wanita di hadapannya adalah orang yang sudah berjuang membawanya lahir ke dunia ini.


Ia memilih diam. Tidak menanggapi ucapan ibunya. Memilih meneguk kopi yang disajikan oleh Utari, berusaha menghilangkan kelat di tenggorokannya.


"Jangan bilang kamu memaafkan dia dengan mudah, Bas. Ingat kamu calon kepala keluarga! Sejak awal kamu sudah harus bersikap tegas sama Nilam. Ibu nggak mau ya, punya mantu yang nggak bisa menghormati orang lain! Apalagi itu keluarga suaminya sendiri, ibu ...."


"Bu! Bisa nggak, nggak usah bahas ini dulu? Kepalaku lagi pusing. Malas ngomongin ini," Baskara memotong ucapan ibunya.


"Nah ini nih, yang ibu nggak suka sama kamu, Bas! Selalu menunda-nunda beresin masalah. Kamu terlalu lemah kalau berurusan dengan perempuan itu. Kamu Sadar tidak, kalau kamu itu sudah dijadikan badut sama si Nilam!"


"Aku sudah berusaha menahan diri sejak tadi ya! Aku nggak mau bersikap di luar batas sama ibu. Tapi kalau begini caranya, aku juga nggak tahan, Bu. Sebenarnya mau ibu apa sih? Salah Nilam sama ibu, itu apa? Selama ini, dia selalu berusaha menyenangkan hati ibu. Apa itu nggak bisa membuat hati ibu luluh menyayangi dia?"


"Kok kamu jadi marah sama ibu? Ibu kan hanya ingin memastikan bagaimana sikap Nilam kemarin! Dia merasa bersalah nggak karena berani bersikap nggak sopan sama ibu dan Utari?"


"Yang sebenarnya harus mengakui kesalahan siapa sih, Bu? Nilam atau ibu dan anak kesayangan ibu itu?! Aku tanya sekarang. Apa yang sudah ibu katakan sama Nilam? Ibu mikir nggak, gimana perasaannya saat mendengar hinaan ibu?" cecar Baskara penuh emosi.


"Kenapa bicara sejahat itu sama dia, Bu? Kenapa sekejam itu pada calon istri aku? Salah aku sama ibu tuh, apa?" lanjutnya dengan nada rendah penuh kecewa.

__ADS_1


"Dan sekarang, dia membatalkan pernikahan, Bu. Ibu puas? Ini kan yang ibu mau? Kehancuran aku seperti ini kan yang ibu mau?!" Suara bas memekik, dari bernada rendah, hingga tinggi dengan wajah memerah padam.


Bu Rahma nampak terkejut. wajahnya memucat. Mulutnya terkunci tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun.


"Mas! Jangan bersikap kasar begini sama ibu!" Utari tiba-tiba datang, duduk di samping ibunya.


"Diam kamu! Ini semua karena ulahmu!" bentak Baskara pada sang adik.


Utari merasa tidak terima, ia bangkit dan balik menantang saudaranya.


"Maksud mas apa? Jangan limpahkan kesalahan orang lain, pada keluarga mas sendiri!" lawan Utari.


Tanpa banyak berkata, Baskara bangkit dan melayangkan tamparan di pipi adiknya itu.


"Harusnya dari dulu, mas ajari kamu bagaimana harusnya bersikap pada orang lain. Mulai hari ini, jangan pernah menunjukkan wajah kamu di hadapan mas lagi. Pergi kamu ke rumah suamimu. Di sini kamu hanya menjadi racun di keluarga."


ucap Bas lalu meninggalkan ruang televisi.


Sementara Bu Rahma semakin terkejut mendapati perubahan sikap Baskara yang berubah tempramen. Ia baru sadar saat Utari merintih sembari memegang pipinya yang terasa perih.

__ADS_1


__ADS_2