CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
CK 29 - GELISAH


__ADS_3

Zenya terhenyak kala sahabatnya menanyakan soal hubungan antara ia dan Steven, Zenya belum menceritakan apapun kepada Velia tentang apa yang terjadi pada dirinya dengan Steven.


"Steven? Velia.. Aku harus bagaimana menjelaskanya?" Zenya terdiam, Ia memikirkan alasan logis yang bisa ia berikan sebagai jawaban kepada Velia.


"Zenya? Kau tidak apa -apa kan? Hubunganmu dengan Steven baik-baik saja kan?" Velia menjentik-jentik jarinya,


"Aku.. Aku dan Steven.." Zenya sebenarnya sangat tak ingin membicarakan soal Steven.


"Steven, Dia.."


"Dia kenapa? Jangan bilang kalau dia menyakitimu!" Velia membelalakkan matanya.


"Ti-tidak, bukan begitu, Ermh, Maksudku gimana ya.. Aku-" Zenya gelagapan membuat Velia semakin penasaran, Velia sudah menautkan satu alisnya.


"Zee..?" Velia menepuk lembut bahu Zenya


"Hhhhhh" Zenya menghela nafas panjang.


"Vel, Aku minta maaf padamu, Sejujurnya akhir-akhir ini aku sedang tidak baik-baik saja. Aku, Hidupku, Steven, Sedang tidak baik-baik saja, Tapi, Aku belum bisa, belum sanggup, untuk menceritakan semuanya padamu, Beban ini.. Beban ini sangat berat" Zenya tertunduk, Ia menutup mulutnya, Suaranya sudah bergetar, "Hiks.. Hiks.. Hikss.." Ia menangis sesenggukan,


"Zenya, Hey kau kenapa?" Velia merangkul tubuh Zenya yang hampir ambruk, Ia menopang tubuh Zenya lalu menyuruh Zenya agar duduk di kursi taman.


Zenya terus menangis hingga sesenggukan, Suaranya tertahan di tenggorokan, Seperti ada beban yang sangat berat yang tengah ia pendam. Dadanya sesak, Hatinya terasa sangat sakit.


"Kau bisa menumpahkan semua air matamu di bahu ku, Jangan ragu Zenya, Pelukanku akan selalu terbuka untukmu." Velia mengelus-elus punggung Zenya.


Setelah di rasa cukup lega, Zenya bersandar pada tihang ayunan, Ia menatap lurus ke depan, pandangannya nampak kosong, matanya sembab.


Velia menghela nafas panjang, Ia terus mengelus lembut punggung Zenya,


"Zenya, jika kau mempunyai masalah, Aku siap membantumu, dengan cara apapun, Jika aku tetap tidak bisa membantu, Setidaknya kau bisa bercerita padaku, untuk meringankan bebanmu. Tapi, Jika memang kau belum siap, Kapan saja kau ingin bercerita, aku siap mendengarkan" Zenya memeluk Velia


"Terimakasih Vel, Kau selalu menjadi sahabat terbaikku" Velia membalas rangkulan Zenya, "Sama-sama, kenapa jadi lebay gini? Kita kan sahabat" Velia mencubit gemas hidung Zenya yang memerah.


Mereka berdua berjalan menuju kelas, Mereka mulai mendengarkan dosen berbicara,


"Tugas kali ini kalian harus segera mengirim file nya pada saya" Dosen mengakhiri kelas, Zenya masih menulis sesuatu di atas bukunya. "Zen, Lagi ngapain sih?" Velai mendekat. "Huh! Vel, Aku pusing. Rumus tugas yang kemaren, Aku belum bisa menemukan yang pas" Zenya menggigit ujung pensilnya. "Hadeuh, Itukan tugas masih lama, Mending sekarang temui Devon dulu, Lusa kan kalian berangkat" Zenya berpikir sejenak. "Iyasih, Tapi aku rasa rumus ini agak susah, Jadi, Aku pasti butuh waktu lama untuk menyeselsaikannya, Tapi, Urusan lusa udah 'nggak bisa di tunda lagi, Yaudah! Kita temui Devon dulu!" Zenya beranjak dari "Hhh, Sebenarnya apa yang terjadi Zenya?" Velia bergumam, ia beranjak dan segera mengekor pada Zenya.


*


*

__ADS_1


Rapat sudah selesai, mereka sudah memutuskan keputusan terbaik untuk nanti,


"Zenya, kita bicara sebentar" Devon tiba-tiba memanggil Zenya untuk berbicara empat mata di dalam kelas,


"Ada apa?" Zenya mengernyitkan dahinya


"Pokoknya ikut dulu" Devon menarik lengan Zenya


"Hey aku ikut!" Velia mengekor tapi Devon mencegahnya.


"Saya mau bicara empat mata sama Zenya, kamu tunggu disini"


"Nggak bisa gitu dong! Aku harus ikut! Siapa tahu kamu punya maksud buruk sama Zenya" Velia memaksa ikut,


Devon terhenyak mendengar celetukan Velia, Zenya pun segera melerai, "Vel, Sebentar kok, tunggu ya" Zenya menganggukan kepala, meyakinkan Velia jika ia pasti akan baik-baik saja.


Velia hanya pasrah, Ia mengehala nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Ada apa?" Zenya menarik lengannya yang ditarik sedari tadi.


"Dimana Angeline?"


Zenya mengernyitkan dahinya "Angeline? Kenapa kakak tanya aku?"


"E-emangnya kita kemana?" Zenya mencoba untung tenang, walaupun sedikit gelagapan.


Devon mendekat ke arah Zenya, membuatnya perlahan mundur,


"Aku sama sekali gak tahu Angeline kemana. Dan memang kemarin aku sempet ketemu sama dia, tapi habis itu kita gak barengan, aku sama dia kan nggak terlalu dekat" Zenya mencoba menjelaskan, ia sudah ketakutan, tapi Devon tak mendengarkan, ia terus membuatnya mundur hingga tubuh Zenya terhenti karna tembok.


"Zenya, jangan coba macam-macam, apa kamu berfikir tidak akan orang yang berani menyentuhmu?" Devon memegang ujung rambut Zenya, ia mengusapnya, lalu menciumnya perlahan.


Zenya terbelalak "Apa maksud kaka?"


"Apa yang sudah kau lakukan pada Angeline?" Devon membulatkan matanya.


"Aku tidak melakukan apapun pada Angeline, lagipula aku tidak ada alasan untuk membecinya! Kenapa kau mendesakku begini!"


"Kau iri?" Devon menyeringai, Zenya membulatkan matanya,


"Iri? Untuk apa aku iri dengan Angeline? Aku tak punya alasan untuk itu" Zenya dibuat frustasi

__ADS_1


"Kau, Takut Angeline merebut apa yang sudah kau dapat, 'kan?" Zenya semakin di buat bingung oleh pertanyaan Devon.


"Kak! Bicara yang jelas! Sebenarnya kamu ini bermaksud untuk bertanya atau hanya memastikan?!" Zenya memekik


"Kali ini, Aku hanya memperingatimu! Jangan pernah macam-macam dengan Angeline. Jika kamu mencoba untuk menjadi batu sandungan di perjalanan karier hidupnya, Kamu sebaiknya bersiap-siap karna aku akan menghancurkanmu, Jika sampai Angeline hancur, Kau harus menjadi orang yang lebih hancur dari dirinya!" Devon menunjuk-nunjuk dada Zenya menggunakan telunjuknya, Ekspresi wajahnya mengisyaratkan sudah seperti ingin membunuh.


Zenya mengenyit, Apa ini berhubungan dengan Cristhopan? Ia mencoba untuk tenang, Karena akan sangat bahaya jika dirinya sampai terlihat terintimidasi.


"Baiklah, Aku akan menunggu, Aku pastikan tuduhanmu terhadapku, hanya sebuah tuduhan tak beralasan. Dan aku do'akan semoga Angeline tulus padamu. Kak Devon, Aku tahu kamu bukan orang yang seperti ini, Semoga obsesimu terhadapnya tak membuat kamu jatuh! Aku permisi" Zenya hendak beranjak tapi Devon lagi-lagi mencegahnya.


"Apa yang kau bicarakan?" Matanya menyorot tak suka


"Aku tak akan berbicara apapun, Sama sepertimu, Aku hanya memperingati. Kau sedang di butakan oleh cinta dan obsesimu, jangan sampai apa yang kau lakukan sekarang akan menjadi penyesalan mu nanti, jika aku mengatakan apa yang aku tahu pun, itu hanya akan membuatmu semakin menggila karena tak terima" Zenya menarik lengannya, Setelah itu segera berlalu, Devon diam mematung, Ia mencerna ucapan Zenya dengan baik. Hatinya bergemuruh,


"Dasar wanita sialann, Dia mencoba menggoyahkanku, Aku yakin Angeline sangat tulus, Walaupun begitu, dia sudah memberikan segalanya padaku, dan mencoba bergantung padaku. Aku yakin dengan ucapannya, Cristhopan memang hanya batu loncatan agar dirinya bisa terbang lebih tinggi dengan sayap yang kuat di industri hiburan. Zenya, Wanita siall itu berbicara apa?" Devon bergumam sendiri.


Velia masih menunggu di luar ruangan, Ia mondar mandir tak karuan sambil menggigiti ujung kukunya


Dreekk


Ia menoleh kala pintu terbuka,


"Zenya!" Ia segera menghampiri kala Zenya keluar dari pintu tersebut.


"Kamu gak apa-apa, 'kan? Devon ngga berbuat macam-macam, 'kan?" Velia memegang bahu Zenya, memutar-mutar tubuh Zenya dan mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki,


"Aku tidak kenapa-napa Vel, Lagian kita cuman membahas masalah untuk lusa. Ada beberapa masalah yang tidak bisa dibicarakan di depan anak-anak yang lain. Apalagi Fiona Akhir-akhir ini selalu saja menentangku" Zenya mencoba berbohong, Ia terlihat sangat meyakinkan.


"Oh, kirain ada apa? Tadi aku lihat ekspresi Devon sedikit 'tak ramah'"


Zenya menepuk pelan bahu Velia, "It's oke, semua bisa teratasi" Mereka berdua berjalan ke arah kantin, untuk mengisi perut yang sudah terasa keroncongan.


"Hey, Kamu tau? Kemarin kakakku melihat, Ia bertemu dengan teman kampusku katanya yang paling populer, Aku pikir itu pasti Angeline kan?" Sekumpulan mahasiswi yang duduk di samping tempat duduk Zenya tengah bergosip, Awalnya Zenya tak menghiraukan, sampai mereka membicarakan soal Angeline,


"Iya, Siapa lagi yang lebih populer dari Angeline? Memangnya ada apa? Angeline bersama seorang Sugar Daddy? Atau sedang menjilat presdir muda?" Sahut yang lain sambil tergelak.


"Haha Kakakku memang melihatnya sedang bersama seorang 'Sugar Daddy'. Tapi, yang membuat nya heran, Angeline sedang di caci maki oleh bapak-bapak tua itu, katanya wajah Angeline menjijikkan. Seperti ada bekas sayatan atau sebagainya"


"Sayatan di wajah?"


○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

__ADS_1


Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang setia membaca Cinta Kedua ~ Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote. Tambahkan sebagai Favorit juga agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~ Terimakasih~



__ADS_2